BERBAGI
Peserta Upacara di Riau kenakan masker saat upacara kemerdekaan RI | Foto : Ned

CENTRALBATAM.CO.ID, RIAU-Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, atau HUT RI ke-71, Rabu (17/8/2016) pagi. Suasana kemerdekaan terus tersiar sampai kepelosok negeri.

Dalam mengisi hari libur nasional ini, berbagai cara dilakuan guna merayakan hari peringatan bebasnya Indonesia dari penjajahan. Termasuk dengan mengikuti upacara HUT RI ke-71.

Upacara kali ini tampak sangat berbeda, pasalnya hampir seluruh peserta upacara di Riau terlihat mengenakan masker.

Bagaimana tidak, kepulan asap kembali mencemari kualitas udara dibeberapa wilayah Riau. Selain mengenakan masker jumlah peserta upacara juga lebih sedikit, lantaran kebanyakan pejabat dan masyarakat lebih memilih berdiam diri didalam rumah.

Ya, bukannya mengikuti perlombaan dan Upacara yang digelar diwilayah masing-masing. Warga di Provinsi Riau dan Kalimantan Barat, malah tak sudi keluar rumah.

Pasalnya, dihari kemerdekaan ini, titik api hasil dari kebakaran lahan dan hutan kembali meningkat tajam.

Pekatnya asap di Riau membuat jarak pandang berkurang | Foto : Ned
Pekatnya asap di Riau membuat jarak pandang berkurang | Foto : Ned

Untuk wilayah Riau dan Kalimantan Barat saja, terpantau sebanyak 234 titik api sejak Selasa (16/8/2016) lalu. Ini disebabkan karena banyaknya pengusaha dan masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar pohon dan semak belukar.

Akibatnya, asap yang ditimbulkan dari kebakaran lahan dan hutan ini kembali menyebar dan menyerang masyarakat disekitarnya.

Dengan itu, tak sedikit warga Riau memutuskan untuk memborong masker dari apotik terdekat untuk langkah awal dalam mencegah terlalu banyak menghirup asap.

Peta penyebaran titik api di Sumbagteng dan Kalbar oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan) dan BMKG | Foto : JB
Peta penyebaran titik api di Sumbagteng dan Kalbar oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan) dan BMKG | Foto : JB

Tak sedikit pula warga yang berdiam diri dirumah, semari menyalakan mesin pendingin udara dan kipas untuk menghilangkan asap yang ternyata masuk hingga kedalam ruangan rumah.

“Iya, dengar kabar semalam ada kebakaran lahan. Nah, asapnya itu sekarang malah menyebar begini. Ini cukup berbahaya bagi kesehatan,” ujar Rudi, salah seorang warga di Siak Sri Indrapura, Riau.

Tak hanya Rudi, warga lainnya juga terlihat mengenakan masker secara massal lantaran mulai pekatnya asap diudara.

Laporan terakhir yang berhasil diberitakan, Hotspot atau titik panas kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) memang  terus meningkat dalam seminggu terakhir.

Satelit Modis dengan sensor Terra dan Aqua milik NASA telah mendeteksi 482 hotspot di wilayah Indonesia pada Selasa sore, 16 Agustus 2016. 

“Sebelumnya terdapat 202 hostpot pada Senin (15/8/2016) kemarin. Peningkatan jumlah hotspot ini sebagian besar terjadi di wilayah Kalimantan Barat. Berdasarkan analisis dari LAPAN, 482 hotspot tersebut merupakan akumulasi dari 297 hotspot dengan tingkat kepercayaan Sedang (30 – 79%) dan 185 hotspot dengan tingkat kepercayaan Tinggi (80 – 100 %),” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis, Rabu (17/8/2016).

Sutopo menambahkan, dari total 482 hotspot tersebut terdapat 303 hotspot berada di wilayah Kalimantan Barat. Dari satelit sebaran hotspot di Kalimantan Barat tersebar cukup merata.

Pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertanian dengan cara membakar, menurut Sutopo, merupakan penyebab utama dari meningkatnya jumlah hotspot tersebut.

Upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan, kata Sutopo, terus dilakukan oleh Tim Satgas Gabungan. BNPB telah mengerahkan 7 helikopter water bombing, 2 pesawat water bombing dan 2 pesawat hujan buatan yang disebar ke titik-titik munculnya potensi kebakaran hutan dan lahan. 

“BNPB sedang mempersiapkan mengirimkan 4 helikopter water bombing ke Jambi dan Kalimantan Barat, di mana masing-masing provinsi 2 heli water bombing. Selain itu juga menambah pesawat untuk hujan buatan di Kalimantan,” jelas dia.

“Di Riau, helikopter dan pesawat water bombing telah menjatuhkan air 17,9 juta air untuk memadamkan api kebakaran hutan dan lahan. Untuk hujan buatan maka 35 ton garam sudah ditaburkan ke dalam awan-awan potensial di Riau, dan 61,06 ton di Sumatera Selatan,” sambung dia.

Sutopo menjelaskan, pada periode bulan Agustus hingga Oktober adalah masa kritis dari kebakaran hutan dan lahan karena pada periode itulah puncak musim kemarau. Patroli dan pencegahan perlu ditingkatkan agar hotspot tidak terus bertambah.

Aparat gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Damkar, Masyarakat Peduli Api dan relawan terus melakukan upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Kebakarn lahan dan hutan (Karhutla) di Riau | Foto Mona
Kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) di Riau | Foto Mona

Tingkat sebaran hotspot kebakaran hutan dan lahan terbagi menjadi dua kateori yaitu tingkat kepercayaan sedang dan tingkat kepercyaan tinggi.

Tingkat kepercayaan sedang berarti ada potensi terjadi kebakaran hutan dan lahan berdasarkan temperatur permukaan yang dideteksi sensor satelit. Sedangkan tingkat kepercayaan tinggi berarti titik api yang sedang membakar material di permukaan. 

Berikut data lengkap sebaran hotspot:

Tingkat kepercayaan Sedang:
Jambi: 2
Jawa Timur: 3
Kalimantan Barat: 178
Kalimantan Tengah: 2
Kalimantan Timur: 3
Kep.Babel: 10
Aceh: 3
NTT: 30
Papua: 7
Papua Barat: 2
Riau: 43
Sulawesi Selatan: 1
Sulawesi Tengah: 1
Sulawesi Tenggara: 1
Sulawesi Utara: 2
Sumatera Selatan: 4
Sumatera Utara: 5 

Total: 297 hotspot

Tingkat kepercayaan Tinggi
Kalimantan Barat: 125
Kalimantan Tengah: 1
Kep. Babel: 6
NTT: 8
Papua: 8
Riau: 32
Sumatera Selatan: 1
Sumatera Utara: 2
Undefined: 1

Total: 185 Hotspot‎

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY