BERBAGI
Terdakwa Wardiaman Zebua saat berkonsultasi kepada para penasihat hukum (PH)-nya | Foto : Junedy Bresly

CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM-Persidangan dengan agenda penuntutan pidana, terhadap terdakwa Wardiaman Zebua alias Ardin (WZ)‎ akhirnya digelar di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Selasa (19/7/2016) sore, sekitar pukul 16.45 WIB.

Dalam pembacaan tuntutan pidana, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rumondang Manurung, SH sempat meminta izin kepada Ketua Majelis Hakim, Zulkifli, SH didampingi Hakim Anggota Imam Budi Putra Noor dan Endi Nur Indraputra untuk membacakan poin-poin tuntutan saja.

“Izin Yang Mulia, mengingat tuntutan yang dirumuskan cukup banyak, kami mohon diizinkan untuk membacakan inti-intinya saja,” kata JPU Rumondang.

Dengan persetujuan para Penasihat Hukum (PH) terdakwa yang dihadiri Syamsir Hasibuan, Utusan Sarumaha, Awi dan PH lainnya yang menyatakan mengizinkan. Maka Majelis Hakim juga secara tegas mengizinkan permohonan JPU tersebut.

Dalam tuntutannya, JPU membaca secara detail seluruh nama saksi yang memberi keterangan, mulai dari 21 saksi fakta, 5 saksi ahli dan 3 orang saksi meringankan (A De Charge).

Dalam daftar 21 saksi tersebut, Ibu dan ayah kandung korban, yakni Isnah, Bob Vages serta adik kandung korban, yakni Annisah juga masuk dalam daftar saksi.

Dalam tuntutan yang dibacakan, terdakwa WZ dinilai telah terbukti secara sah dan meyakinkan menghilangkan nyawa korban dan kemudian menyetubuhinya.

Sesuai dengan dakwaan Pertama, Primair yng mengaturnya, yakni Pasal 340 KUHP dan Kedua Pasal 80 ayat (1) UU Perlindungan Anak, terdakwa WZ terancam pidana berat.

Terdakwa WZ, sat berkonsultasi dengan pra PH-nya | Foto : Junedy Bresly
Terdakwa WZ, sat berkonsultasi dengan pra PH-nya | Foto : Junedy Bresly

Benar saja, dengan dasar tuntutan terhadap Pasal-pasal tersebut. Terdakwa Wardiaman akhirnya dituntut oleh JPU Rumondang Manurung dan JPU Andi Akbar dengan tuntutan pidana atau hukuman ‘mati’.

Ini ditegaskan dengan perbuatan WZ yang dinilai telah terbukti melanggar ketentuan Pasal-pasal terseut dan dinyatakan melakukan perbuatan yang sangat-sangat keji.

“Sebelum menyetubuhi korban, pelaku sempat menusukkan pisau kepunggung korban hingga tembus kerongga dada. Kemudian terdakwa menyetubuhi korban ditengah hutan Waduk Sei Ladi. Selesai melampiaskan nafsunya, kemudian terdakwa kembali menggorokkan pisau ke leher korban untuk memastikan korban benar-benar tewas,” ujar JPU Rumondang.

“Dengan ini, kami meminta Majelis Hakim memutuskan terdakwa bersalah secara sah dan meyakinkan menghilangkan nyawa seseorang dan menyetubuhinya. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu, dengan pidana mati. Membebankan biaya perkara kepada Negara,” tegasnya.

Terdakwa Wardiaman Zebua saat berkonsultasi kepada para penasihat hukum (PH)-nya | Foto : Junedy Bresly
Terdakwa Wardiaman Zebua saat berkonsultasi kepada para penasihat hukum (PH)-nya | Foto : Junedy Bresly

Atas tuntutan tersebut, WZ mengaku akan mengajukan pembelaan atau Pledoi secara pribadi. Kemudian, para PH terdakwa juga mengaku akan mengajukan pledoi dalam waktu 2 minggu kedepan.

“Waktu penundaan hanya seminggu saja, jadi kami minta pledoi diselesaikan dan segera dibacakan pekan depan, Selasa (26/7/2016) mendatang,” ucap Ketua Majelis Hakim, Zulkifli, SH.

 

Penulis : Junedy Bresly

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan