BERBAGI

CENTRALBATAM.CO.ID, BINTAN – Perusahaan Listrik Negara (PLN) berhasil menyelesaikan jalur transmisi 150 kV daya listrik di Tanjung Uban-Sri Bintan sepanjang 28 Kilometer-Route (kmr), Sri Bintan-Air Raja 38 kmr dan Air Raja-Kijang 20 kmr dalam waktu 3 bulan.

Hal ini tidak terlepas dari kerja sama antara PLN dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Kepulauan Riau, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kepulauan Riau dan Badan Intelijen Negara (BIN) di Daerah Kepulauan Riau. 

“Tanpa dukungan dari stake holder, PLN tidak mungkin bisa menyelesaikan pembangunan infrastruktur ketengalistrikan dengan cepat, untuk itu kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada Jamintel, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Kejaksaan Tinggi Kepulauan Riau dan BIN Daerah Kepulauan Riau sertastakeholders terkait yang berperan aktif dalam pembebasan jalur SUTT dan proses pengamanan serta terirmakasih kami sampaikan kepada masyarakat pemilik lahan dan yang dilintasi jalur transmisi,” ujar Direktur Utama PLN Sofyan Basir dalam keterangan tertulis kepada media.

Kerjasama PLN dengan para pemangku kepentingan untuk mendukung keberhasilan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan Program 35.000 MW telah terbentuk dalam Tim Pengawalan dan Pengamanan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Agung RI. 

“Upaya ini berupa pengawalan dan pengamanan, baik dari sisi perencanaan, pelaksanaan maupun pemanfaatan hasil pembangunan, termasuk dalam upaya mencegah timbulnya penyimpangan dan kerugian negara,” ucap Sofyan.

Dia menambahkan, proyek pembangunan SUTT dan GI di Pulau Bintan ini menjadi role model atau contoh bagi wilayah lainnya untuk menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan perizinan dan non-perizinan proyek tersebut dengan didukung dan dikawal oleh pemerintah daerah setempat, kejaksaan, kepolisian dan BIN.

Interkoneksi Batam-Bintan yang merupakan salah satu proyek Program 35.000 MW yang telah energize pada Oktober 2015 dan tersambung hingga Gardu Induk (GI) Kijang pada Agustus 2016. 

Dengan beroperasinya jalur transmisi dan GI 150 kilo-Volt (kV) interkoneksi Batam-Bintan, maka PLN dapat melakukan efisiensi biaya yang cukup siginifikan dengan menghemat sekitar Rp 11,46 miliar per bulan.

Hal ini terhitung dengan beban yang saat ini 34 MW, nantinya secara bertahap penggunaan PLTD dan PLTMG sewa di Pulau Bintan akan diganti pasokannya dengan menggunakan sistem interkoneksi ini. 

“Jika keseluruhan bebannya sudah beralih pada sistem interkoneksi, maka penghematan biaya operasionalnya dapat mencapai sekitar Rp 24,7 miliar per bulan,” imbuhnya

Saat ini, sistem kelistrikan Pulau Bintan sudah mengunakan sistem interkoneksi Batam-Bintan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV selain Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) 20 kV mulai dari Tanjung Uban hingga kota Tanjung Pinang.

Daya yang terpasang di Pulau Bintan saat ini adalah sebesar 11 5,3 MW yang berasal dari sistem Tanjung Uban, PLTD Suka Berenang, PLTD Air Raja, PLTU Galang Batang, PLTMG CNG Tokojo, PLTMG Dompak dengan total daya mampu sebesar 75,2 MW. Adapun beban puncak Pulau Bintan saat ini adalah 65,1 MW. 

Dengan adanya sistem interkoneksi Batam-Bintan, daya mampu di Bintan meningkat sebesar 180 MW. Hal ini diperkuat pula dengan masuknya sistem GI Sri Bintan 30 MVA pada 24 Juli 2016, GI Air Raja 2×30 MVA pada 3 Agustus 2016 dan GI Kijang 30 MVA pada 11 Agustus 2016 setelah GI Tanjung Uban 30 MVA dan GI Ngenang 10 MVA beroperasi dengan kabel laut Batam-Bintan pada Oktober 2015. 

Secara keseluruhan sistem interkoneksi Batam-Bintan terdiri dari 256 tapak tower listrik dan melewati Lintas Barat Tanjung Uban-Tanjung Pinang, serta ke Kijang. Pembangunan GI di Pulau Bintan merupakan merupakan babak baru sistem kelistrikan di Pulau Bintan, di mana semula menggunakan SUTM 20 kV sebagai backbone kelistrikan Pulau Bintan dan saat ini ditambah den gan SUTT 150 kV sebagai backbone yang terintegrasi dengan sistem kelistrikan Batam.

Dengan masuknya sistem interkoneksi Batam-Bintan ini diharapkan bisa memenuhi pasokan listrik dan melayani pelanggan Pulau Bintan yang telah mencapai 112.264 pelanggan, menambah pelanggan baru, meningkatkan rasio elektrifikasi di Pulau Bintan yang saat ini mencapai 84,84 persen, dapat menjadi katalisator pembangunan ekonomi dan industri di Pulau Bintan.‎

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY