BERBAGI

CENTRALBATAM.CO.ID, BINTAN Kades Toapaya Selatan, kecamatan Toapaya, kabupaten Bintan, Suhendra mengaku dirinya telah dipanggil oleh Kepolisian Daerah (Polda) Kepri untuk meminta keterangan dugaan mark-up harga lahan waduk Gesek batu 20 pada tahun 2012 lalu.

Ia mengatakan, dirinya dipanggil oleh Polda hari Kamis (6/10/2016), bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bintan untuk memberikan keterangan sejauh mana yang ia ketahui. Meskipun tidak membeberkan lebih rinci isi pertanyaan tim dari Polda, namun ia mengaku pihak kepolisian daerah itu bertanya tentang harga ganti rugi lahan warga berdasarkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) saat itu.

Selain itu, mereka (Polda) juga bertanya bagaimana sistem pembayaran kepada warga.

“Iya, benar kami uda dipangil oleh Polda meminta keteangan. Mereka bertanya sistem pembayaran ganti rugi terhadap warga. Kemudian mereka bertanya pada BPN tentang NJOP saat itu,” ujar Suhemdra melalui telpon, Senin (10/10/2016).

“Ya, saya jawab apa adanya kalau uang ganti ruginyang bayar adalah Propinsi. Sedangkan masalah NJOP yang menentukan adalah tim apresial sari Propinsi dan BPN Bintan,” akunya.

Ditanya tanggapanya terkait nilai jual, Suhendra mengaku terlalu mahal. Sehingga ia tidak heran jika mendapat panggilan dari polda. Namun ia mengatakan dirinya baik-baik saja karena yang menetukan NJOP bukan pihaknya.

“Kalau menurut saya harga segitu (Rp 52 ribu hingga Rp 62 ribu) tidak sesuai. Tapi itu bukan kamk yang menentukan,” tegasnya.

Berdasarkan isu yang beredar, saat penggantian rugi lahan warga dengan total keseluruhan 23 hektar (ha) itu dijual dengan harga Rp.52.000 – Rp 62.000 per meter. Sedangkan jika berdasarkan NJOP saat itu harga lahan harusnya hanya berada pada kisaran Rp.7.000 per meter.

Karena diduga tidak sesuai dengan NJOP, beberapa aparat pemerintah terkait pun dikabarkan telah dipanggil oleh aparat penegak hukum. Hal ini juga diakui oleh mantan camat Toapaya, Fachri.

“Kalau masalah NJOP itu ranah propinsi kepri dan BPN Bintan. Karena merekalah tim apresial itu. Tapi masalah ini sudah sampai kepengadilan. Jadi kita tunggu aja gimana hasilnya,” katanya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY