BERBAGI

CENTRALBATAM.CO.ID, BINTAN –Bupati Bintan, Apri Sujadi menilai kebijakan yang ia ambil terhadap penyeleksian tenaga honorer beberapa waktu lalu sudah tepat. Dalam penyeleksian tenaga honorer itu, peserta wajib ber KTP Bintan.

Apri mengatakan, kebijikan ini terpaksa dilakukan untuk mengurangi pengangguran di Bintan. “Kebijakan ini diambil untuk mengurangi pengangguran di Bintan,” ujar Apri saat pertemuan dengan aktifis masiswa dan mantan tenaga honorer di ruang rapat 3 Kantor Bupati Bintan, di Bintan Bunyu.

Untuk pernyataan ini, masyarakat Bintan setuju. Meskipun demikian, mereka mengatakan ini bukan solusi utama. Solusi utama yang mereka maksud adalah membiarkan tenaga honorer yang sudah ada karena sudah paham kerjanya. Sementara warga Bintan yang masih menganggur diberikan perkerjaan.

“Harusnya di Bintan ini banyak kog lowongan kerja. Itu di bekas hotel Cabana sekarang banyak pekerja asal China. Coba kalau pekerja asal China itu ditertibkan, kan banyak warga Bintan yang bisa dipekerjakan disana,” ujar salah satu warga, Musy.

Musy mengatakan, ia melihat ratusan para pekerja disana saat pergi membeli sebuah lemari yang di jual oleh Cabana dengan harga murah. Saat berada ditempat, ia melihat banyak pekerja kasar orang China yang tidak bisa diajak berbircara bahasa Indonesia.

“Saya kaget melihat ada orang China pekerja kasar, namun saat mereka bicara mereka pakai bahasa China yang susah dimengerti. Dan warga situ juga mengakui itu China asli dari Thionghoa,” jelasnya.

Sementara itu, Kades Malang Rapat, Yusran saat dikonfirmasi sempat tidak mau mengakui keberadaan orang Cina asal Thinoghoa tersebut. Namun setelah disampaikan pernyataan dari beberapa warga, Yusran akhirnya mengakui.

Berikut percakapan Yusran dengan Centralbatam.co.id, Kamis (5/1/2017)

Pak izin, katanya ada orang Cina dari Thionghoa bekerja di hotel bekas Cabana km 46. Bapak uda tau

Ah mana ada

Loh, warga bapak sendiri loh yang ngomong sama kami.

Oh, itu kan pekerja ahli. Mereka semua pekerja Phailing.

Jika pejabat di Bintan dapat menertibkan para pekerja asing ini, kemungkinan besar pemecatan tenaga honorer di Bintan tidak mesti dilakukan. Sebab, jumlah tenaga asal China itu dibanding tenaga honorer yang dipecat itu diperkirakan kurang lebih.

“Jadi jika saja pak Bupati dapat melihat peluang banyak di Bintan, tidak perlu harus membuat warga lain sakit hati,” pungkas Musy.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY