BERBAGI
AKBP Febrianto Guntur Sunoto memberikan keterangan pada pers

CENTRALBATAM.CO.ID,BINTAN –Tambang pasir illegal kembali marak di sejumlah kawasan di Bintan seperti kecamatan Bintan Utara, Kecamatan Toapaya, kecamatan Gunungkijang dan beberapa kecamatan lainya.

Menanggapi maraknya tambang pasir ini, Kapolres Bintan AKBP, Febrianto Guntur Sunoto mengatakan akan menertibkan jika didapatnya ada tambang pasir yang berkeliaran. Sebab, selain merusak ekosistem lingkungan rusak juga mengakibatkan bekas galian ini dapat menelan korban khususnya anak-anak saat berenang di bekas galian pasir tersebut.

“Kami telah melakukan peninjauan dilapangan, namun belum menemukan adanya tambang pasir illegal. Jika memang ada, maka kami terlebih dahulu meminta pemilik mengantongi izin sebelum aktifitasnya jalan,”ujar Guntur saat ditemui usai acara Temu Kamtibmas Polres Bintan di Pasar Tani, Kamis (4/8/2016).

Penertiban tambang pasir ini sebelumnya telah mendapat respon dari Kapolda Kepri, Brigjen Sam Budigusdian saat melakukan kunjungan beberapa waktu lalu sesaat setelah dirinya dilantik menjadi Kapolda. Dihadapan tokoh masyarakat beserta Wakil Bupati Bintan, Dalmasri Syam dirinya meminta agar tambang pasir ini segera ditertibkan.

Polisi dengan bintang satu di pundak ini saat itu mengatakan tidak mempermasalahkan tambang pasir asal penambang dapat menambang secara teratur. Hal ini diungkapkan agar aktifitas tambang ini tidak menganggu tata ruang wilayah.

Niat baik Kapolda untuk membenahi wilayah Bintan justru tidak dianggap oleh aparat dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan. Pasalnya aktifitas pasir diberbagai wilayah ini terus dilakukan tanpa adanya pnertiban.

Selain itu, Pemkab Bintan juga tidak ada niat membantu masyarakat agar dapat mengantongi izin tambang sehingga tata ruang wilayah Bintan tidak rusak.

Menanggapi permasalah ini, salah satu aktifitis mahasiswa yang peduli terhdap lingkungan mengaku kecewa baik sama aparat maupun Pemkab. Karena itu, dirinya menilai tambang pasir ini baru ditertibkan jika memakan korban salah satu aktifis.

“Kalau bigini saya menilainya tambang pasir ini baru ditertibkan setelah adanya korban seperti kasus aktifis Salim Kancil di Lumajang, Jawa Timur,”ujar pria yang minta namanya tidak ditulis ini.

Penulis :Setianus Zai

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY