BERBAGI
Penampakan awan gelap pekat disekitar Pelabuhan Domestik Telaga Punggur, Batam | Foto : Junedy Bresly

CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM – Pasca tenggelamnya kapal jenis speed boat yang mengangkut 93 Tenaga Kerja Indonesia (TKI)‎ dari Malaysia menuju Nongsa, Batam, Rabu (2/11/2016) dini hari tadi. Berbagai pernyataan sikap mulai muncul.

Salah satu pernyataan yang paling khusus, ialah ungkapan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Hang Nadim, Batam, Philip Mustamu.

Saat dikonfirmasi, Philip menegaskan bahwa Kepri, khususnya Batam memang masuk dalam massa peralihan cuaca. Dimana, pada masa-masa tersebut, cuaca buruk kerap mewarnai tanpa kenal waktu.

“Ini terjadi, karena tingginya penguapan yang mengakibatkan penumpukan massa udara atau uap air. Kemudian uap air tersebut dihembuskan ke wilayah Kepri, hingga akhirnya memicu tingginya curah hujan di Batam,” kata Philip Mustamu, Kepala Stasiun BMKG Hang Nadim, Batam.

Tingginya curah hujan yang melanda, turut mempengaruhi gelombang air laut. Kondisi ini pula lah yang diduga menjadi salah satu penyebab tingginya gelombang laut yang menghantam kapal bermuatan 93 TKI yang bergerak dari Malaysia menuju Batam tersebut.

“Bisa jadi, karena angin dan kelembapan udara yang ada inilah yang memicu tingginya gelombang laut,” ucapnya.

Dari pantauan tim Central Batam, ketinggian air laut yang ada di Provinsi Kepri, khususnya Batam ada dalam posisi 0,75 sampai dengan 1,5 meter. Di teritori Anambas dan Natuna sendiri, ketinggian ‎gelombang air laut telah mencapai 2 meter.

Dalam kondisi ini, aktifitas penyeberangan dan segala aktifitas yang berhubungan dengan bahari di Kepri sangat rawan.

“Jasa transportasi masih aman, tapi tetap saja rawan. Apalagi nelayan, ini jelas berbahaya. Makanya kita mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih aktif dalam memantau informasi dari BMKG,” bebernya.

Proses evakuasi korban kapal tenggelam, oleh tim gabungan | Foto : Ned
Proses evakuasi korban kapal tenggelam, oleh tim gabungan | Foto : Ned

Dalam pemaparannya, ia juga menjelaskan bahwa dalam beberapa hari terakhir saja, peningkatan awan Cumulonimbus di wilayah Kepri sangat subur.

Penting diketahui, awan dengan ciri itu dianggap sebagai awan yang paling rawan memicu terjadinya pusaran angin puting beliung.

“Nah, ini juga berpengaruh akan ketinggian gelombang. Yang jelas dalam beberapa hari kedepan, cuaca Kepri masih buruk. Hujan, petir, kilat dan angin kencang masih sangat rawan terjadi. Untuk itu, kita tidak bosannya mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih peka akan informasi yang diberikan. Demi kenyamanan dan keselamatan bersama, mari lebih diperhatikan,” tuturnya.‎

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY