CENTRALBATAM.CO.ID, BINTAN –Terkait dana hibah untuk Persatuan Jurnalis Bintan (PJB) ditanggapi oleh Sekretarsi Daerah (Sekda) Bintan, Ady Prihantara.
Ady mengatakan, semua anggaran dana hibah yang direalisasikan harus meliki administrasi yang lengkap. Jika administrasi lengkap, maka SPJ nya akan diproses.
“Jika administrasi suatu kelembagaan atau organisasi sudah lengkap, maka kami akan proses SPJ nya. Jika tidak, kami tidak akan proses. Makanya, dana hibah untuk PJB sendiri kan kami tidak proses,” ujar Ady melalui telpon, (13/10).
Permasalahan dana Hibah untuk organisasiPersatuan Jurnalis Bintan (PJB) ini bermula saat media ini mendapatkan lampiran realisasi penerimaan hibah Kabupaten Bintan sampai dengan Tahun 2017. Dana hibah sebesar Rp 100 juta ini memang tidak direalisasikan oleh Pemkab Bintan karena administrasi PJB belum lengkap.
Namun yang jadi permasalahannya adalah beberapa anggota PJB merasa tidak pernah membahas anggaran itu. Padahal anggaran itu sudah masuk dalam daftar penerima dana hibah Pemkab Bintan melalui APBD tahun 2017.
Sebagai sebuah kelompok individu yang bersatu dalam sebuah organisasi, keterbukaan sesama anggota harus ada. Sementara ulah salah satu oknum wartawan yang meminta dan hibah secara pribadi ke Bupati Bintan mendapat protes keras dari beberapa anggota.
Salah satu wartawan koran swasta, Coki dalam rapat pembahasan kemarin (13/10) sempat memprotes kekurang jelasan oknom wartawan R karena tindakannya melobby secara pribadi Bupati agar dana hibah diberikan oleh Bupati.
“Organisasi itu didirikan untuk apa? Saya tanya dulu. Bukankah segala sesuatu yang dilakukan organisasi itu berdasarkan ADRT (Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga. Jadi jangan pernah mengambil suatu langkah tanpa sepengetahuan organisasi,” ujar wartawan lulusan Sarjana Hukum Medan itu.
“Jadi jangan semena-mena aja membuat tim kecil meminta anggaran ke Apri (Bupati Bintan). Itu apa maksudnya coba?,” tanya Coki mengesalkan tindakan oknum wartawan R.
Lebih lanjut ia menyentil R dengan mengatakan ” Jika kepentingan organisasi, maka semua harus tau. Kalau anda punya inisiatif sendiri, berarti itu bukan kepentingan organisasi, tapi kepentingan pribadi,” kata Coki lagi menegur.
Masih protes Coki, dalam agenda rapat-rapat bersama R terkesan menutup-menutupi. “Sama kayak rapat tadi. Aku nggak dikabari. Jadi seolah-olah kita ini bukan PJB. Jadi maksudnya apa,” tanyanya.
“Jadi intinya, caranya anda salah. Anda membawa nama organisasi tapi anda pergi meminta sendiri. Jangan buat organisasi asal-asalan,” ujar Coki dengan nada tambah kesal.
Sementara itu, oknum wartawan R saat ditanyai perihal dana hibah ini seolah-seolah menghindar. Pasalnya, ia lebih memilih melakukan pembentukan organisasi PJB, kemudian melanjutkan kepembahasan dana hibah. Alasanya, agar dana hibah untuk jurnalis yang katanya untuk pameran foto itu bisa didapatkan.
“Hibah itu nanti, kita lanjutkan pembentukan struktur dulu,” pungkasnya.
Meskipun rapat penyusunan kelengkapan struktur PJB sudah selesai dibahas, namun R tetap tidak mau mengakui bahwa tindakannya salah meminta secara pribadi dana hibah untuk keperluan organisasi.

