BERBAGI
Ilustrasi palang pintu otomatis atau Automatic Barrier Gate .

Pemasangan palang pintu otomatis atau Automatic Barrier Gate di pintu utama sebuah perumahan diyakini meningkatkan prestis sebuah hunian. Selain terkesan mewah, palang pintu otomatis dipercaya dapat menjamin keamanan bagi penghuni sebuah perumahan. Sebagian masyarakat boleh berpandangan seperti itu, namun jika dipaksakan tentu akan menimbulkan kegaduhan.

Terlebih ide pemasangan Automatic Barrier Gate hanya dilakukan segelintir orang yang mengaku memiliki kekuasaan di lokasi perumahan. Apalagi proyek pemasangan Automatic Barrier Gate dikerjakan dengan ‘intimidasi’ kepada setiap warga yang menolaknya. Akibatnya, pertentangan muncul di mana-mana dan melahirkan disharmonisasi warga perumahan.

Satu sisi mereka yang setuju pemasangan Automatic Barrier Gate akan memberikan jaminan keamanan dalam perumahan. Mengingat setiap orang yang akan masuk ke perumahan harus melalui seleksi dan pemeriksaan ketat melalui petugas satuan keamanan (satpam). Saat masuk perumahaan, satpam akan mengecek identitas dan menanyakan hal ihwal kedatangan mereka di area permukiman itu.

Jika dicurigai satpam, tentu saja calon tamu perumahan akan dihalau atau ditahan sementara waktu di pos bagian depan. Sedangkan tuan rumah sebagai tempat tujuan akan dicocokkan kebenarannya dengan calon tamu. Apabila benar, si calon tamu akan diberikan kartu pengunjung (guest visitor) dan diminta meninggalkan identitas dirinya, seperti KTP, SIM, paspor, atau identitas yang sah lainnya.

Sedangkan warga yang bermukim di perumahan, tentu saja mereka diberikan kartu tanda masuk (pass card) sebagai alat bukti (pegangan). Sehingga warga asli bisa mengakses keluar masuk perumahan selama 24 jam tanpa harus ditanyai satpam. Cukup menempelkan pass card, palang pintu otomatis sudah terbuka dengan sendirinya. Jika karena untuk alasan keamanan maka hal itu bisa diberlakukan.

Kendati demikian, keberadaan palang pintu otomatis bukan menjadi jaminan 100 persen bagi perumahan. Seorang penjahat bisa saja mencari celah dan lengah membuat pass card palsu dengan tujuan yang tercela. Bisa saja seorang penjahat merencanakan aksi penculikan, perampokan, atau aksi pembunuhan. Ini yang perlu dijadikan pertimbangan dan strategi bagi petugas satpam di setiap perumahan.

Berdasarkan hukum dan peraturan yang berlaku di Indonesia, pengadaan dan pemasangan Automatic Barrier Gate harus mengikuti acuan perundangan. Jangan sengaja memaksakan memasang palang pintu otomatis dengan dalih keamanan. Padahal sejatinya, pemasangan Automatic Barrier Gate untuk mengeruk dan ‘merampok’ keuntungan dari masing-masing warga yang tinggal di dalam perumahan.

Sebagaimana yang diatur Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, dan Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Nomor 10 Tahun 2010 tentang Acuan Pengelolaan Lingkungan Perumahan Rakyat.

Selain itu, Surat Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Nomor AJ.003/5/9/DRJD/2011 menjadi landasan hukum yang memayungi pemasangan palang pintu otomatis di sebuah perumahan. Seluruh peraturan dan undang-undang ini harus ditaati jika kita masih merasa menjadi manusia yang patuh kepada hukum di Indonesia.

Jangan karena alasan kekuasaan untuk menciptakan keamanan, akhirnya pihak-pihak yang tidak setuju dipaksa untuk mengikuti aturan yang baru itu. Seyogianya, jika sebagian besar warga tidak setuju dengan pemasangan palang pintu otomatis maka tentu ketidaksetujuan itu harus diakomodasi dan dimusyawarahkan sampai benar-benar menemukan solusi dan kesepakatan.

Terlebih ada pihak-pihak tertentu yang sudah menyepakati di awal sebelum pemasangan dengan tujuan mengeruk keuntungan dari warga. Selanjutnya diadakan musyawarah sebagai alat tujuan dari pemufakataan itu sendiri. Bukan diadakan pemufakatan terlebih dulu di awal yang kemudian diambil kesepakatan sebagai hasil akhir dari permusyawarahan yang sesungguhnya.

Jika di kemudian hari pemasangan palang pintu otomatis hanya disokong sebagian warga, hal ini akan menjadi bumerang bagi warga itu sendiri. Akibatnya, sesama warga saling membenci, mencurigai, dan melahirkan tindakan tercela lainnya. Apabila stabilitas keamanan dan kenyamanan warga perumahan tidak rukun karena persoalan sepele itu, tentu saja ini sangat disayangkan dan memprihatinkan.

Warga yang sudah berpuluh-puluh tahun tinggal dan menikmati kedamaian harus dilestarikan sepanjang usianya. Namun jika kemudian hari lahir penguasa-penguasa kecil yang justru mengorbankan toleransi dan kedamaian antarwarga selama puluhan tahun ini menjadi persoalan lain. Pemaksaan pemasangan palang pintu otomatis harus segera dihentikan karena perbuatan itu melawan hukum dan kemanusiaan.

Usulan dan prakarsa dari penguasa kecil yang akan ‘membunuh’ harmonisasi dan kententraman warga secara perlahan-perlahan harus segera dihentikan. Jangan karena memaksakan kehendak tertentu lantas mengorbankan warga perumahan yang tidak setuju. Jika pemasangan palang pintu otomatis melanggar ya sebaiknya dibongkar. Jangan karena nila setitik kemudian merusak susu sebelanga. (Candra P. Pusponegoro/Pemimpin Redaksi www.centralbatam.co.id)

BAGIKAN

1 KOMENTAR

  1. Kemarin ada di perumahan (Simpang raya indah batam center) ada pemasangan auto gate, Saya telah mendapat surat dari RW, tapi saat itu saya sedang bekerja di luar kota sehingga saya tidak dapat hadir dalam rapat itu, Saat saya pulang saya mendapatkan 1 kartu auto gate gratis, kebutulan saya punya 3 kendaraan. Katanya kartu auto gate kedua harus membayar 50ribu, selanjutnya autogate yang ke 3 harus membayar 250rb. Ini sangat meresahkan saya. Kebijaksanaan yg sangat disayangkan.

LEAVE A REPLY