BERBAGI
Jemaah umrah sedang berdoa di depan Ka'bah di Masjidil Haram Makkah Al Mukaramah beberapa waktu lalu.

Menjalankan umrah pada bulan Ramadan penuh dengan keutamaan. Tentu saja menjalankan ibadah umrah ketika Ramadan sudah dipastikan harganya jauh lebih mahal dibandingkan umrah selain Ramadan. Mengapa? Umrah pada bulan Ramadan terasa sangat istimewa. Pahalanya setara dengan melakukan haji bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Jika Ramadan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji. Begitu nukilan hadis shahih riwayat Imam Bukhari nomor 1782 dan Imam Muslim nomor 1256. Pertanyaannya, apakah yang dimaksud senilai dengan ibadah haji? Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan yang dimaksud adalah umrah Ramadan mendapatkan pahala seperti pahala haji.

Walau demikian, bukan berarti umrah Ramadan sama dengan haji secara keseluruhan. Pendapat ini meluruskan bahwasannya jika seseorang belum menunaikan haji, lalu dia berumrah di bulan Ramadan, maka umrah tersebut tidak bisa menggantikan haji. Secara awam saja, dalam ibadah umrah dan haji berbeda rukunnya dan tata caranya. Rukun umrah mulai ihram, thawaf, sa’i, tahallul, dan tertib.

Selanjutnya wajib umrah adalah ihram (niat ihram dari miqat), meninggalkan yang dilarang dalam ihram, dan thawaf wada’. Sedangkan ketika pelaksanaan haji, dimulai dari rukun; ihram, wukuf, thawaf, sa’i, tahallul, dan tertib. Pelaksanaan hari dan tanggalnya juga berbeda dengan ibadah umrah. Seseorang dalam sehari bisa menyelesaikan umrah selama satu sampai dua jam.

Artinya dalam sehari ketika jemaah umrah sudah mengambil miqat di Bir Ali (dekat Madinah) lalu melakukan perjalanan ke Makkah Al Mukaramah sekitar lima jam dan dilanjutkan thawaf, sa’i, dan tahallul maka selesai itu umrahnya berakhir. Sangat berbeda dengan ibadah haji yang pengerjaannya lebih lama dibandingkan dengan ibadah umrah.

Meski demikian, jika kita ingin menunaikan ibadah umrah saat Ramadan, harganya relatif lebih tinggi atau sama dengan ibadah haji, sekira Rp35 jutaan. Pada awal Ramadan biaya umrah 12 sampai 13 hari sekitar Rp23 jutaan per orang dan akhir Ramadan mencapai Rp35 juta dan bahkan lebih. Paling penting adalah niat dan tujuan dari jemaah calon umrah yang perlu ditekankan di awal.

Ingin ibadah atau jalan-jalan atau belanja-belanja? Persoalan dana atau uang saku bukan hal yang utama dalam mengerjakan umrah. Sebab ketika seseorang sudah membayar lunas biaya umrah, mereka tinggal berangkat. Seluruh biaya yang dibayarkan akan dikembalikan kepada calon jemaah. Mulai dari pengadaan visa umrah, tiket pesawat PP, hotel, makan/minum selama ibadah, dan air zam-zam.

Kecuali biaya yang berkenaan dengan urusan pribadi, misalnya laundry, isi pulsa, beli gamis atau yang lainnya bukanlah menjadi tanggung jawab travel penyelenggara. Dari pengalaman selama ini, banyak jemaah umrah yang selalu ‘tergoda’ selama berada di tanah suci Makkah dan Madinah. Wajar jika belanja untuk oleh-oleh bagi keluarganya atau kerabatnya di tanah air.

Tetapi jika setiap hari ketika hendak berangkat ke masjid dan pulangnya membeli barang belanjaaan maka sudah ‘tergoda’ dengan kenikmatan dunia. Boleh saja belanja, tetapi sebaiknya dilakukan pada akhir menjelang kepulangan ke tanah air. Sehingga waktu ibadah di Madinah dan Makkah tidak terganggu dengan aneka warna belanja duniawi. Akan terasa hasilnya jauh berbeda setelah pulang dari umrah.

Kualitas ibadah yang fokus di tanah suci tanpa diselingi hasil belanjaan setiap hari jauh lebih membekas dan terasa mendalam. Bisa ditanya kepada mereka yang sudah berulangkali ke tanah suci. Kesan mendalam adalah saat umrah kali pertama. Kenapa, jika fokus calon jemaah terpecah selama menjalankan ibadah umrah sudah dijamin hasil kembalinya di tanah air akan hambar dan tawar. (Candra P. Pusponegoro/Pemimpin Redaksi www.centralbatam.co.id)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY