BERBAGI
Meski terendam banjir, penggendara tetap antre untuk membeli BBM kendaraan di SPBU Tiban 3, Rabu (22/6/2016) | Foto Junedy Bresly

CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM – Menjelang masuknya bulan suci Ramadan 2017, kota Batam semakin sering dilanda hujan lebat. Dampaknya, volume air meningkat dan akhirnya menggenangi berbagai lokasi.

Rumah, halaman, fasilitas umum, halte, jalan raya, sekolah, bahkan fasilitas pelayanan kesehatan di beberapa wilayah Batam pun menjadi sasaran empuk genangan air yang mengalir, atau kerap disebut banjir.‎

Parahnya, tak sampai 20 menit diguyur hujan, beberapa lokasi itu langsung tergenang. Kira-kira, apa ya penyebabnya.

Saat ditelusuri lebih jauh, Dinas Pemadam Kebakaran (DPK) Batam, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Siap Siaga Bencana (PS2B), Zulkarnain menegaskan ada beberapa hal pemicu banjir di Batam.

“Pertama, curah hujan sangat tinggi,” ucapnya, Kamis (26/5/2017) pagi.

Peningkatan curah hujan memang diakui Zul menjadi faktor utama dan menjadi mata rantai utama dalam siklus banjir di Batam. Alasannya sederhana,dia menegaskan tanpa hujan deras‎ Batam tak akan digenangi air.

Penyebab kedua, minimnya kesadaran masyarakat untuk menjaga aliran air (drainase, red) tetap bersih.

“Harusnya bebas sampah, tapi kebanyakan drainase‎ malah mampet (tersumbat, red),” imbuhnya.

Penyumbatan ini juga diakuinya sebagai penyakit yang disebabkan sendiri oleh masyarakat dan sangat sulit dihilangkan. “(Masyarakat) Kebanyakan komen, tapi aksi minim,” cetusnya.

Penyebab ketiga dan yang paling fatal, lanjutnya, ialah tidak sesuainya fungsi atau peruntukan drainase yang ada di Batam. Bahkan, Zul mengaku sekitar 75 persen drainase di Batam tidak bekerja seperti harapan bersama, yakni mengalirkan air dan mencegah banjir.‎

Ketidakmampuan drainase dalam meredam luapan air, dituding menjadi faktor yang sangat memengaruhi. Pasalnya, setiap kali hujan turun kebanyakan luapan air berasal dari drainase yang terlihat tidak efektif mengalirkan air.

“Misalnya, perumahan A membangun di lahan A, dan di lahan B juga dibangun perumahan. Tapi, kedua lahan itu tidak sama rata. Ada perbedaan ketinggian,” paparnya.

“Nah, saat drainase dibuat, tentu ada perumahan yang akan terdampak luapan air karena ketinggian permukaan tanah yang berbeda. Inilah yang disebut-sebut menjadi kesalahan yang seolah sengaja diabaikan,” bebernya.

Untuk ruang terbuka hijau, masih katanya, juga menjadi kendala. Karena hanya beberapa persen saja ketersediaannya di tengah kota, sebagai media resapan air.

“Nah, itulah beberapa penyebabnya. Dan masih banyak penyebab lainnya. Ya, kita harap masyarakat dan pemerintah bisa bergabung untuk menuntaskan permasalahan yang ada. Agar setiap kali hujan, banjir tak lagi menghantui,” tutupnya.‎

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY