BERBAGI
Situs Peninggalan Bekas Pembangunan Masjid Agung Demak

Centrabatam.co.id, Blora – Tapak tilas situs peninggalan sejarah, yang konon ceritanya bekas peninggalan pembangunan masjid agung Demak yang gagal dibangun oleh para Wali Songo di Putat Kunden Dukuh Soronini, Desa Sonokulon, Todanan, Blora.

Lokasi yang terletak kurang lebih 40 km dari pusat kota kabupaten Blora tersebut kini sudah ada pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Sonokulon walaupun masih tahap skala kecil.

Bahkan dengan adanya pembangunan tersebut, peninggalan-peninggalan bersejarah berupa Umpak dan Batu Bata yang dulunya berada dirumah warga sekitar kini sudah mulai diserahkan ke Pemdes untuk dikumpulkan menjadi satu.

“Alhamdulillah, setelah ada pembangunan ini warga mulai sadar dan menyerahkan barang temuan mereka untuk dikumpulkan menjadi satu,” kata Wahyudi Kades Sonokulon, sembari menunjukkan Batu Bata bermotif ukiran khas jaman dulu.

“Dulunya disini hanya ada Umpak saja, dan ini baru diserahkan beberapa waktu lalu. Saat sudah ada sekitar 13 yang diantaranya Umpak dan Batu Bata berukuran 20×40 cm, ” bebernya.

Sementara itu, untuk lokasinya masjid Demak sendiri tidak jauh dari Putat, yang kemungkinan berjarak sekitar 300an meter. Dan dikenal dengan Sawah Boto karena sebelum menjadi persawahan, dulunya merupakan tumpukan Batu Bata yang menyerupai bangunan.

“Itu disana yang ada pohon jatinya, yang namanya Sawah Boto,” kata pria yang kerap disapa Mas Sirin itu, sambil menunjukkan lokasi Sawah Boto disebelah Barat Putat.

Selain Sawah Boto, tidak jauh dari Putat juga terdapat Sendang Pengkol dan benduangan air “Sambong Wali” yang saat ini berada ditengah sungai. Walaupun demikian, menurut kesaksian warga, posisi bendungan Sambong Wali dari sampai saat ini masih tetap sama walaupun diterjang banjir besar sekalipun.

“Mungkin Sambong Wali itu, sudah didoakan para Wali, sehingga masih untuk sampai sekarang,” ujarnya.

Kemudian, Wahyudi Kades Sonokon menceritakan, bawasanya dulunya itu, para Wali Songo akan membangun masjid Demak di lokasi tersebut (red-Sawah Boto). Yang kemungkinan segala sarana dan prasarana pendukung sudah dilengkapi, baik itu sumber air (Sendang Pengkol) dan juga bendungan sungai (Sambong Wali) itu ada, yang kemungkinan untuk itu, prosesi pembangunan.

Dan ketika, para Wali bersabda (Sabdo Wali) penmbangunan masjid tersebut dilakukan malam hari, jangan sampai ada suara Lesung dan suara Ayam berkoko, yang mempertandakan, Malam menjelang Pagi telah tiba.

Pas tibanya waktu pembangunan mulai, para Perempuan yang ada di dukuh ini (red-Soronini) , membunyikan Lesung yang disusul suara Ayam berkokok. Lalu para Wali marah, karena belum waktunya Pagi sudah membunyikan Lesung. Dan pembangunan masjid pun gagal.

Lalu, sebagain umpak-umpak masjid dibuang kemana-mana, dan salah satu di Putat itu, yang lainya tersebar, kemana-mana ada  yang di gua terletak di tengah hutan dan sebagainya.

“Ini menurut cerita dari para leluhur terdahulu. Untuk detilnya saya kurang tau karena perlu dilakukan penelitian lebih lanjut,” ungkapnya.

“Saya berharap, agar Pemerintah Daerah untuk peduli dengan peninggalan situs bersejarah ini untuk dilestarikan. Dan jangan menghilangkan nilai-nilai keasliannya. Karena kita, bangsa indonesia tidak lepas dari sejarah, jangan sampai anak cucu kita buta akan sejarah” harapnya.

“Dan juga saya berharap nanti bisa menjadi tempat wisata religi,” timpal Wahyudi.
, Jum’at (28/8). (Riyan)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY