BERBAGI
Berhenti Belajar

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2019 masih menggunakan system zonasi sebagaimana diatur dalam Permendikbud No.51/2018.  Dimana seleksi peserta didik baru dilakukan dengan memprioritaskan jarak tempat tinggal terdekat ke sekolah dalam zonasi yang ditetapkan.

Berdasarkan paparan Mendikbud soal tujuan PPDB ini adalah untuk menghilangkan diktomi antara sekolah favorit dan nonfavorit. Menghilangkan ekskluvitas dan diskriminasi sekolah. Dimana goal akhirnya adalah menjadikan semua sekolah sama baiknya dari Sabang sampai Merauke dalam wilayah NKRI. (sumber JPPN 17 Juni 2019).

Satu sisi, paparan Pak Mendikbud, Muhadjir Effendy ini bisa diterima dengan akal sehat susai sila ke lima pancasila “keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia”. Namun sebelum memutuskan sesuatu perlu juga mempertimbangkan berbagai hal. Misalnya, harga tiket pesawat yang saat ini belum juga turun ke bumi. Sementara jadwal keberangkatan kapal hanya sekali dalam seminggu.

Ini adalah pengalaman pribadi saya sendiri yang membawa anak untuk merayakan hari idulfitri dari Bintan, Kepri ke Gresik, Jawa Timur. Sebelum idulfitri (4 Juni 2019) lalu kami tidak bisa berangkat karena tiket pesawat mahal. Sementara tiket kapal Pelni telah terjual habis dan juga menunggu hasil pengumuman kelulusan siswa.

Akhirnya kami memutuskan untuk ikut lebaran di rumah mertua pada tanggal 27 Juni 2019. Seminggu di sana kami terus memantau tiket pesawat. Namun harga berada diatas Rp 2 juta. Dan jika kami memutuskan naik pesawat harus ada uang minimal Rp 10 juta.

Sempat kami bertanya ke beberapa sekolah negeri yang ada di wilayah Gresik. Namun, karena beda zonasi tidak bisa diterima.

Sambil menunggu tiket pesawat murah, saya mencoba mengemis kepada kepala Sekolah SMP 05 Bintan, Elnui yang merupakan sekolah zonasi anak. Untungnya beliau bisa memahami dan berharap anak kami tidak putus sekolah sambil meminta cepat pulang.

Pemerintah boleh saja memutuskan sistim zonasi ini. Tapi disatu sisi, harus mempertimbangkan adat dan budaya masyarakat juga. Misalnya, saat perayaan idulfitri yang hampir bertepatan dengan kelulusan siswa. Adat dan budaya masyarakat Indonesia untuk berlebaran ke rumah dari perantuan bisa dikatakan sebuah kewajiban adat.

Sebab, melalui perayaan ini keluarga bisa merasakan kebersamaan di tengah keberagaman.

Presiden Jokowi yang telah terpilih untuk kedua kalinya meminta anak-anak didik tidak putus sekolah. Namun dengan adanya system zonasi ini malah menjadi ancaman serius bagi kelanjutan sekolah murid didik.

Sekarang, kami masih di Gresik, Jawa Timur. Dan jika memang ternyata anak saya saat pulang ke Bintan tidak bisa diterima lantara ketinggalan seminggu. Saya ingin ucapkan buat Mendikbud “Selamat telah membuat satu siswa putus sekolah”

Contoh ini adalah hanya sebagian kecil dari keluhan masyarakat atas system zonasi yang diterapkan. Karena saya yakin, masih banyak permasalahan serius terkait sistem ini.

Dan dengan ini saya mewakili ribuan yang merasakan kekecewaan atas system zonasi ini agar Mendikbud kembali mempertimbangkan system yang sedang kontroversi ini.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY