BERBAGI

CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM-Perihal tewasnya Budi Yanto bin Mahmud (21), tahanan Pengadilan Negeri (PN) Batam yang dititipkan di Rumah Tahanan (Rutan) Barelang. Memiliki beberapa titik kelam.

Saat ditelusuri, ternyata surat pemeritahuan akan tewasnya Budi ditanggal 20 Juli 2016 lalu, baru dikirim dan ditembuskan ke PN Batam pada 28 Juli 2016.

Kejanggalan inilah yang selanjutnya dikonfirmasi tim Central Batam kepada Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) PN Batam. Melalui Hakim Endi Nur Indraputra menjelaskan bahwa pihaknya memang jelas menerima surat pemeritahuan akan tewasnya Budi, pada Kamis (28/7/2016) lalu.

“Kami terima pada 28 Juli, sementara didalam surat dituangkan meninggalnya itu sekitar 20 Juli lalu,” kata Humas PN Batam, Hakim Endi, Kamis (4/8/2016) sore.

Dalam pemaparannya, ia menegaskan telah menerima surat tembusan bernomor‎ 438/RSUD/VIII/2016‎ pertanggal 28 Juli 2016 yang ditandatangani langsung oleh Kepala Rutan Barelang, Batam, David Gultom, SH.

Dalam surat pemberitahuan yang juga ditembuskan ke ‎Dirjen Permasyarakatan di Jakarta, Ketua PN Batam, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Batam, serta kepada Kapolresta Barelang tertuang informasi bahwa Budi dinyatakan tewas pada 20 Juli 2016 sekitar pukul 18.30 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah, Batam.

Tewasnya Budi Yanto bin Mahmud ini ditegaskan, dengan surat kematian bernomor ‎483/RSUD/VIII/2016‎ yang dikeluarkan tim medis.

“Nah, tewasnya itu 20 Juli. Tapi surat pemberitahuan baru dikirim pada 28 Juli, kami pun bingung apa alasan keterlambatan pengiriman surat ini,” ujarnya.

Sebelum dinyatakan tewas, lanjutnya. PN Batam juga telah menerima surat pemberitahuan bernomor ‎W.32PAS.5PK.01.01.420‎ yang menegaskan Budi Yanto tengah sakit dan butuh istirahat untuk selanjutnya dibawa berobat.

Melalui surat pemberitahuan sakit, yang juga dikirimkan Ka. Rutan Barelang ke PN Batam dan kemudian diterima Hakim yang menyidangkan. Kemudian terdakwa dibawa berobat.

“Dalam surat pemberitahuan sakit itu, dikatakan bahwa terdakwa lemas, demam, tidak nafsu makan, serta terlihat membutuhkan kebutuhan khusus alias sakau.‎ Makanya diminta persidangannya untuk ditunda sementara, sembari dia berobat. Kita langsung izinkan,” ujarnya.

Namun, pihanya terkejut setelah menerima kabar dan surat akan tewasnya Budi.‎

“Kita justru kaget. Selain karena tewas‎, kita juga mempertanyakan, hal keterlambatan pengiriman surat ini. Harusnya kan secepatnya dikirim, ini malah terlambat lebih dari seminggu,” imbuhnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan