CENTRALBATAM.CO.ID, BINTAN– Dalam setahun, anggota DPRD Bintan melaksanakan massa reses sebanyak 3 kali. Kegiatan untuk menjaring aspirasi dari masyarakat ini justru dicap pembohong oleh sebagian masyarakat.
Apa sebabnya ? Kenapa stigma negatif itu muncul dan ditujukan kepada para wakil rakyat ketika melakukan reses. Hal ini dialami langsung Anggota DPRD Bintan dari dapil Bintan Timur, Tarmizi.
Pendatang baru di legislatif Bintan itu pun berbagi kisahnya dengan sejumlah awak media. Ditemui didaerah Kijang pada Selasa (30//6) siang, Tarmizi berkisah pengalamannya ketika melakukan reses pada awal tahun 2020 ini.
“Ya sampai dikatai pembohong kita sama masyarakat. Kita pun bingung,” kata Tarmizi, mengisahkan pengalamannya waktu itu.
Ia pun keberatan, bila massa reses anggota dewan dilakukan tiga kali dalam setahun. Tarmizi pun mengusulkan agar kegiatan reses diefisiensikan tidak lagi menjadi tiga kali dalam setahun.
Apalagi, dalam setahun anggaran dana aspirasi yang diberikan setiap anggota DPRD Bintan hanya berkisar Rp 1,2 miliar. Padahal, untuk merealisasikan aspirasi masyarakat disetiap Rtnya membutuhkan anggaran paling sedikit Rp 300 hingga Rp 600 juta.
Sebab, kebanyakan yang dikeluhkan masyarakat adalah masalah jalan, drainase dan sebagainya.
“Kita reses sekarang itu realisasinya untuk tahun depan. Setahun tiga kali, yang kemarin saja belum direalisasikan, kita sudah harus reses lagi jaring aspirasi masyarakat. Masyarakat sampai bilang kita ini pembohong loh,” paparnya.
Ini disampaikannya agar masyarakat memahami kondisi yang sebenarnya. Tarmizi pun ingin bisa selalu membantu masyarakat, hanya saja tugas dan wewenangnya juga ikut dibatasi dengan regulasi-regulasi. (Ndn))

