BERBAGI
Produksi Rokok Indonesia terancam Menurun

CENTRALBATAM.CO.ID, JAKARTA-Kebijakan pemerintah menaikkan cukai dan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) akan menurunkan produksi rokok.

Muhaimin Moefti, Ketua Gabungan Produsen rokok Putih Indonesia (Gaprindo) mengatakan, dampak kenaikan cukai dan PPN tahun 2016 berdampak pada penurunan produksi. Meski produksi turun, ekspor produk tembakau  dari Indonesia sampai dengan Oktober 2016 naik 3 persen menjadi US$ 789 juta.

Tak hanya tahun 2016, penurunan produksi juga berpeluang terjadi lagi tahun 2017. Sebab, memasuki Februari belum ada tanda-tanda kenaikan penjualan.

“Tak ada tanda-tanda produksi rokok akan naik,” kata Muhaimin.

Salah satu produsen rokok yang melaporkan penurunan produksi di Indonesia tahun 2016 adalah, perusahaan rokok asal Amerika Serikat (AS) Philip Morris International (PMI). Merujuk pernyataan tertulis kinerja kuartal IV-2016, produksi rokok PMI di Indonesia turun 3,9 persen menjadi 105,52 miliar batang.

Baca Juga:  Histeris Isak Tangis Keluarga Penumpang Sriwijaya Air di Bandara Supadio

Tahun 2015, pemegang saham mayoritas PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) itu mencatatkan penjualan 109,84 miliar batang rokok di Indonesia. Untuk tahun 2017, PMI memperkirakan penjualan rokok di Indonesia bakal turun 1,4 persen.

Merujuk pada penjelasan PMI, penurunan penjualan di Indonesia terjadi karena ketatnya persaingan dengan kompetitor. Persaingan itu terjadi akibat sejumlah kompetitor berlomba-lomba memberikan diskon harga.

Penurunan produksi juga dirasakan oleh PT Wismilak Tbk. Tahun 2016, emiten saham berkode WIIM tersebut memproduksi 1,8 miliar batang rokok.

Suryanto Yasaputra, Direktur Pemasaran Wismilak Inti mengatakan, jumlah produksi tahun 2016 itu turun ketimbang 2015. Namun Suryanto tidak bersedia menyebutkan jumlah produksi tahun 2015. Dia hanya menyatakan, tahun 2017 Wismilak berniat menaikkan produksi rokok sampai dobel digit.

Baca Juga:  AKP Monang; Lindungi Diri Dari Covid-19 Dengan Vaksin Dari Pemerintah

“Tahun ini kami target produksi naik 25 persen,” kata Suryanto.

Dia menambahkan, saat ini produsen rokok menemui sejumlah kendala, termasuk banjir rokok ilegal tanpa cukai. Penjualan rokok ilegal tersebut menggerus penjualan rokok bercukai. (knt/ctb)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY