BERBAGI
Ilustrasi industri aluminium

CENTRALBATAM.CO.ID, JAKARTA-Adanya sinyal kenaikan permintaan dari China berhasil menyokong harga aluminium. Kendati begitu, pergerakan harga aluminium hingga akhir tahun akan dibatasi oleh rencana Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed menaikkan suku bunga.

Mengacu situs Investing pada Rabu (14/9/2016) pukul 14.33 WIB, harga aluminium kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) menanjak 0,11 persen dibandingkan hari sebelumnya ke US$ 1.565,25 per metrik ton.

Andri Hardianto, Research and Analyst PT Asia Tradepoint Futures menerangkan, penguatan harga aluminium didorong oleh kenaikan permintaan otomotif China.

Selain itu, Aluminium Today memproyeksikan, permintaan aluminium dari sektor industri otomotif global bakal bertumbuh 30 persen dalam lima tahun mendatang. Katalis positif dari Negeri Tirai Bambu juga mendukung harga aluminium.

“Pada Selasa (13/9/2016), ada rilis data investasi aset tetap, produksi industri dan penjualan ritel bulan Agustus 2016 menunjukkan pertumbuhan. Data ini membantu kenaikan harga komoditas logam dasar dan industri, termasuk aluminium,” jelasnya.

Maklum, China merupakan pengguna sekaligus produsen komoditas terbesar di dunia. Jika pasar China bullish, harga aluminium akan terkerek. Oleh karena itu, Andri menduga, harga aluminium masih berpeluang melanjutkan penguatan pada Kamis (15/9/2016).

Namun, investor sejatinya tengah menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat pada Jumat (16/9/2016). Investor juga sedang menunggu hasil pertemuan The Fed yang dijadwalkan akan berlangsung pada 20-21 September 2016 terkait rencana kenaikan suku bunga acuan.

“Pekan ini hingga pertengahan pekan depan, harga aluminium akan fluktuatif. Ini sentimen terbesar yang dinantikan,” terkanya.

Sedangkan hingga pengujung tahun 2016, Andri memprediksi harga aluminium berpeluang menguat hingga ke level US$ 2.750 per metrik ton. Pendorongnya adalah kenaikan permintaan aluminium dari China dan dunia.

Hal tersebut juga didukung oleh Eropa yang berencana menggelontorkan stimulus guna menggenjot ekonomi. Meskipun ada tantangan yang patut dicermati, yakni rencana kenaikan suku bunga acuan The Fed akhir tahun ini.

“Prediksi US$ 2.750 per metrik ton itu prediksi moderat. Sudah memperhitungkan kenaikan suku bunga AS yang bisa terwujud di Desember 2016,” paparnya.

Secara teknikal, harga aluminium bergulir di bawah moving average (MA) 50 dan MA 100. Namun, harga aluminium bergerak di atas MA 200. Indikator relative strength index (RSI) dan stochastic cenderung negatif di bawah level 50.

Begitu pula dengan moving average convergence divergence (MACD) yang negatif di bawah garis 0. Andri memperkirakan, harga aluminium hari ini akan bergulir di kisaran US$ 1.560-US$ 1.575 per metrik ton. Untuk sepekan ke depan, harga aluminium diprediksi akan bergulir pada US$ 1.510-US$ 1.585 per metrik ton.(knt)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY