Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024, Berikut Pidato Lengkap Jokowi

Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024, Berikut Pidato Lengkap Jokowi

0
BERBAGI
Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menyampaikan dalam Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024. (Youtube Kompas TV)

CENTRALBATAM.CO.ID – Presiden Joko Widodo memberikan pidato dalam Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024.

Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024 diselenggarakan pada Minggu (20/10/2019), dimulai pukul 15.30 WIB.

Pelantikan dilaksanakan di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Jokowi dipersilakan untuk menyampaikan pidatonya pada 16.22 WIB.

Dalam pidatonya, Jokowi mengemukakan, satu abad setelah Indonesia merdeka, Indonesia akan keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah pada 2045.

Pada tahun tersebut, Indonesia ditargetkan telah menjadi negara maju dengan pendapatan 327 juta Rupiah perkapita pertahun atau 27 juta perkapita perbulan.

“Itulah target kita bersama,” tutur Jokowi.

Selain itu, Jokowi juga mengungkapkan harapan pencapaian pada produk domestik.

“Mimpi kita di tahun 2045, produk domestik bruto Indonesia mencapai 7 Triliun USD,” ujar Jokowi.

“Dan Indonesia sudah masuk ke lima besar ekonomi dunia dengan kemiskinan mendekati nol persen,” lanjutnya.

Presiden menuturkan, pemerintah Indonesia telah mengkalkulasi.

Target tersebut dipandang sangat masuk akal dan memungkinkan untuk dicapai.

Namun, menurut Jokowi, semua itu tidak datang otomatis dan dengan mudah.

“Harus disertai dengan kerja keras, dan kita harus kerja cepat. Harus disertai kerja-kerja bangsa kita yang produktif,” Jokowi menegaskan.

Jokowi mengungkapkan, dalam dunia yang penuh risiko dan sangat dinamis serta kompetitif, bangsa Indonesia harus terus mengembangkan cara-cara baru dan nilai-nilai baru.

Jangan sampai, bangsa Indonesia terjebak dalam rutinitas yang monoton.

“Harusnya inovasi bukan hanya pengetahuan. Inovasi adalah budaya,” tuturnya.

Dalam pidatonya, Jokowi menceritakan pengalamannya pada tahun pertama menjabat sebagai Presiden RI lima tahun silam.

Kala itu, ia mengundang masyarakat untuk halalbihalal di Istana.

Protokol meminta Jokowi untuk berdiri di satu titik.

Dia pun mengikutinya.

Kemudian, pada tahun berikutnya, hal yang sama terjadi.

“Langsung saya bilang ke Mensesneg, ‘Pak, ayo kita pindah lokasi. Kalau kita tidak pindah, akan jadi kebiasaan’. Itu akan dianggap sebagai aturan dan bahkan nantinya akan dijadikan seperti undang-undang,” tutur Jokowi.

“Ini yang namanya monoton dan rutinitas,” lanjutnya, diiringi tepuk tangan hadirin.

Jokowi menegaskan, mendobrak rutinitas adalah satu hal penting.

Sementara itu, meningkatkan produktivitas adalah hal lain yang patut menjadi prioritas.

“Jangan lagi kerja kita berorientasi pada proses, tapi harus berorientasi pada hasil-hasil yang nyata,” ucapnya.

Jokowi mengatakan, dirinya sering mengingatkan para menteri tentang perannya yang tidak hanya membuat dan melaksanakan kebijakan.

Tetapi juga membuat masyarakat menikmati pelayanan, menikmati hasil pembangunan.

Seringkali, birokrasi melaporkan bahwa program sudah dijalankan, anggaran telah dibelanjakan, dan laporan akuntabilitas telah selesai.

Namun, hal tersebut tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

“Kalau ditanya, jawabnya ‘Program sudah terlaksana Pak’. Tetapi, setelah dicek di lapangan, setelah saya tanya ke rakyat, ternyata masyarakat belum menerima manfaat. Ternyata rakyat belum merasakan hasilnya,” terang Jokowi.

Jokowi kembali menegaskan, proses bukanlah hal utama, tetapi hasilnya.

Presiden mengibaratkan layaknya istilah sent dan delivered dalam pesan teks.

“Ada sent, artinya telah terkirim. Ada delivered, artinya telah diterima. Tugas kita itu menjamin delivered, bukan hanya menjamin sent,” ucapnya.

Ia meminta agar pekerjaan birokrasi hanya mengirim.

Namun, tugas birokrasi adalah making delivered.

Birokrasi harus menjamin agar manfaat program dirasakan oleh masyarakat.

Setelah itu, Jokowi masuk ke pembahasan lapangan kerja.

Menurutnya, potensi bangsa Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah sangat besar.

Saat ini, Indonesia dipandang sedang berada di puncak bonus demografi.

Artinya, penduduk usia produktif jauh lebih tinggi dibandingkan usia tidak produktif.

Hal tersebut menjadi tantangan besar dan sekaligus kesempatan besar.

Namun, ini akan menjadi masalah besar jika tidak tersedianya kesempatan kerja.

“Tapi akan menjadi kesempatan besar jika kita mampu membangun SDM yang unggul, dengan didukung oleh ekosistem politik dan ekonomi yang kondusif,” tukasnya.

Misi 5 Tahun ke Depan

Selain itu, Jokowi juga menerangkan misi lima tahun mendatang.

Terdapat lima misi yang dipaparkan, yakni terkait pembangunan SDM, pembangunan infrastruktur, penyederhanaan regulasi, birokrasi, dan transformasi ekonomi.

Presiden menerangkannya satu persatu.

Jokowi mengatakan, pembangunan SDM akan menjadi prioritas utama.

Pemerintah akan membangun SDM yang pekerja keras dan dinamis.

Selain itu, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang terampil, menguasai ilmu pengetahuan, dan teknologi.

“(Pemerintah Indonesia) mengundang talenta-talenta global bekerja sama dengan kita,” tuturnya.

Namun,Jokowi mengemukakan, semua itu tidak bisa diraih dengan cara-cara lama.

Cara-cara baru harus dikembangkan.

“Kita perlu endowment fund yang besar untuk manajemen SDM kita. Kerja sama dengan industri juga penting dioptimalkan,” kata Jokowi.

Selain itu, penggunaan teknologi juga dioptimalkan untuk mempermudah jangkauan ke seluruh pelosok negeri.

Kedua, melanjutkan pembangunan infrastruktur.

Jokowi menyampaikan, pemerintahan Indonesia lima tahun ke depan akan membangun infrastruktur yang menghubungkan kawasan produksi dengan kawasan distribusi.

Infrastruktur tersebut nantinya akan mempermudah akses ke kawasan wisata.

“Yang mendongkrak lapangan kerja baru, yang mengakselerasi nilai tambah perekonomian rakyat,” ujar Jokowi.

Ketiga, segala bentuk kendala regulasi akan disederhanakan.

Presiden menuturkan, kendala dalam regulasi harus dipangkas.

Pemerintah akan mengajak DPR untuk menerbitkan dua undang-undang besar.

Kedua UU tersebut yakni UU Cipta Lapangan Kerja dan UU Pemberdayaan UMKM.

“Masing-masing UU tersebut akan menjadi Omnibus law, yaitu satu UU yang sekaligus merevisi beberapa UU, bahkan puluhan UU,” jelas Jokowi.

Ia menambahkan, puluhan UU yang menghambat penciptaan lapangan kerja langsung direvisi sekaligus.

Puluhan UU yang menghambat pengembangan UMKM juga akan langsung direvisi.

Misi keempat yakni penyederhanaan birokrasi.

Menurutnya, penyederhanaan birokrasi harus terus dilakukan besar-besaran.

Investasi untuk penciptaan lapangan kerja harus diprioritaskan.

Prosedur yang panjang harus dipotong.

Selain itu, birokrasi yang panjan gperlu dipangkas.

Eselonisasi juga harus disederhanakan.

“Eselon I, eselon II, eselon III, eselon IV, apa tidak kebanyakan? Saya minta untuk disederhanakan menjadi 2 level saja, diganti dengan jabatan fungsional yang menghargai keahlian, menghargai kompetensi,” pinta Jokowi.

Jokowi juga meminta, para menteri, pejabat, dan birokrat harus serius menjamin tercapainya tujuan program pembangunan.

“Bagi yang tidak serius, saya tidak akan memberi ampun. Saya pastikan, pasti saya copot,” kata Jokowi dengan tegas.

Misi terakhir yaitu transformasi ekonomi.

Rakyat Indonesia diharapkan bertransformasi dari ketergantungan pada sumber daya alam menjadi daya saing manufaktur dan jasa modern.

Diharapkan, hal tersebut mempunyai nilai tambah tinggi bagi kemakmuran bangsa, demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menjelang penutupan pidato, atas nama pribadi dan Wakil Presiden, Jokowi menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Jusuf Kalla yang telah bahu-membahu menjalankan pemerintahan selama lima tahun terakhir.

Selain itu, Presiden juga berterima kasih kepada seluruh lembaga negara, jajaran aparat pemerintah, TNI dan Polri, serta seluruh komponen bangsa yang turut mengawal pemerintahan selama lima tahun hingga berjalan dengan baik.

Di akhir pidato, Jokowi mengajak rakyat Indonesia untuk bersama-sama berkomitmen menuju Indonesia maju.

Pura babbara’ sompekku…

Pura tangkisi’ golikku…”

“Layarku sudah terkembang…

Kemudiku sudah terpasang…”

Kita bersama

Menuju Indonesia maju!!!”

 

 

Sumber : Tribunnews

 

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY