CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM – Syaril Rivai tak segan menjajakan tisu dagangannya di bundaran Badan Pengusahaan atau BP Batam di Jalan Engku Putri Utara Batam Center, Kota Batam, Provinsi Kepri.
Pria ini mulai menjajakan dagangannya sejak pukul 9 pagi hingga 7 malam. Berjualan tisu, ia lakoni setelah bekerja di salah satu kebun d Simpang Kabil.
Sebelumnya, ia juga pernah menjual sate di Bengkong dan berjualan buah di Pasar Botania. Namun karena Covid-19, dagangannya sepi dan memilih untuk tutup. Berdagang tisu bukan tidak ada keluh kesahnya.
Pria asal Medan ini mengaku pernah diludahi pengendara yang lewat di depan tempat ia berjualan. Ia menilai, pengendara itu tidak suka melihatnya berjualan di lokasi itu.
Namun hidup harus terus berjalan. Ia harus memikirkan nasib anak serta istrinya yang berada di kampung halamannya.
Meskipun dagangannya sepi, Syaril harus tetap berjualan tisu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia juga harus membiayai kedua anaknya yang masih sekolah serta istrinya yang ada di Medan, Sumatra Utara.
“Sehari kadang satu sampai dua tisu yang dibeli orang, terkadang tidak ada sama sekali yang beli, ya ginilah namanya juga jualan,” kata Syaril saat di temui, Rabu (23/12/2020).
Dari hasil menjual tisu, sehari Syaril hanya mampu mendapat penghasilan di bawah Rp 50 ribu. Tak jarang, tisu dagangannya banyak yang bersisa karena sepi pembeli.
“Satu kotak ini saja tak habis, dulu sebelum pandemi, bisa habiskan hingga dua kotak,” ujar pria 35 tahun tersebut.
Anak pertama dari tiga bersaudara tersebut kini mulai tak sanggup lagi untuk membayar kos, air dan listrik di tempat indekos milik istrinya di Medan.
Sedangkan untuk kehidupannya sehari-hari saja sudah tidak cukup. Karena tidak sanggup membayar kos saat ini, ia memilih tinggal numpang di emperan pujasera Batam Centre, di salah satu tempat penjual makanan.
Sehari- hari ia berangkat dari tempat menginap ke tempat jualan dengan berjalan kaki. Untuk makan, ia lebih banyak mengharapkan pemberian dari orang dari pada membelinya sendiri.
Di tengah wabah Covid-19, Syaril tetap banyak bersabar dan tabah menjalankan jualannya tersebut. Ia mengaku takut karena adanya Covid-19, namun apabila tak keluar ke jalan, ia tidak ada uang.
“Saat ini istri dan anak saya ada di Medan, mereka tinggal di indekos dan mengharapkan kiriman dari Saya untuk membayar indekos”, tuturnya.
Ia berharap semoga warga Batam ataupun Bapak ataupun Ibu yang mempunyai kelebihan rezeki semoga bisa membantu Syahril untuk pulang ke Medan.
“Mohon bantuannya jika ada yang berbaik hati, cukup belikan tiket saja, saya mau pulang kampung halaman di Medan,” tutupnya.(ndn)

