BERBAGI
Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono dalam Konferensi Pers di Pendopo Ki Gede Sebayu Balai Kota Tegal, Rabu (25/3/2020) malam.

CENTRALBATAM.CO.ID – Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono mengambil kebijakan local lockdown di wilayahnya.

Kebijakan itu dibuat Dedy untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19) di Tegal setelah seorang warganya dinyatakan positif.

Dedy menutup akses keluar masuk kota Tegal selama empat bulan ke depan.

Ia akan menutup dan memblokade 49 titik akses jalan protokal dalam kota dan penghubung jalan antarkampung di wilayahnya, dimulai pada Senin (30/3/2020) mendatang.

Blokade dilakukan dengan merintangi jalan menggunakan beton jenis movable concrete barrier (MBC).

Penutupan jalan dilakukan terhadap ruas penghubung antarkampung yang berbatasan dengan kabupaten/kota lain.

“Kalau MBC beton ini panjangnya 1 meter, kita membutuhkan emisi ini butuh 500meter buat menutup [akses jalan perbatasan] Kota Tegal,” kata Dedy dalam wawancara, Kamis (26/3/2020) malam.

Dedy menyatakan pemasangan beton pembatas itu sebagai upaya untuk mencegah akses warga keluar masuk, baik dari maupun menuju kota Tegal.

Namun demikian, Dedy menjamin penutupan jalan itu tidak meliputi akses jalan provinsi dan jalan nasional.

“Hanya orang Kota Tegal gak bisa keluar dari luar gak bisa masuk Kota Tegal,” kata Dedy.

Dedy menjelaskan bagi warga luar kota yang ingin memasuki Kota Tegal dengan kebutuhan mendesak, harus melapor dan mendapatkan izin dari Gugus Tugas Pengendalian Covid-19 Kota Tegal.

Nantinya, lanjut Dedy, mereka akan diperiksa dan di karantina selama 14 hari terlebih dulu sebelum menjumpai sanak saudaranya di Tegal.

Dedy menyatakan mereka boleh memasuki Kota Tegal bila sudah dalam kondisi sehat.

“(Karantina) Saya punya tiga Rumah Sakit. Satu di RS Kardinah, RS Harapan Anda, lalu ada di RS Mitra,” kata Dedy.

Selain itu, Dedy menyatakan saat ini status Kota Tegal sudah bergeser dari status darurat siaga menjadi zona merah virus corona.

Dedy mengakui ada warga Tegal yang baru pulang dari Abu Dhabi dan sudah dinyatakan positif terjangkit virus corona.

“Kita harus serius dalam penanganan ini. Agar terhindar dari bahaya,” kata dia.

Dedy pun menegaskan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Bulog terkait persediaan stok bahan pangan untuk empat bulan ke depan saat masa lockdown.

“Kita melalui dinas sosial ada bantuan kepada masyarakat. Lalu APBD ada dana darurat bencana yang bisa digunakan,” kata dia.

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menanggapi santai kebijakan local lockdown yang dibuat Wali Kota Tegal itu.

Menurutnya, hal yang terjadi tak seseram pemberitaan.

“Saya sudah klarifikasi, sudah ada penjelasan soal itu. Intinya itu bukan locdown, hanya isolasi terbatas agar masyarakat tidak bergerak bebas. Sampai tingkat itu saja,” tegas Ganjar ditemui usai mengecek rapid test di gudang Dinkes Jateng, Jumat (27/3/2020).

Ganjar mengatakan, kebijakan itu diambil karena ada pasien positif corona di Tegal. Intinya, Forkopimda Tegal merespons dengan baik dan ingin membatasi gerak masyarakat dan mengurangi kerumunan.

“Maka saat itu dilakukanlah apa yang dikatakan local lockdown. Di mana itu, kata mereka di alun-alun karena di sana banyak masyarakat berkerumun,” terangnya.

Namun, karena masyarakat Tegal masih tetap banyak yang berkerumun, Pemko menaikkan lagi statusnya dengan menutup sejumlah obyek wisata dan tempat hiburan.

Namun tetap saja, masyarakat masih banyak berkeliaran di jalanan.

“Lalu diambil kebijakan menutup jalur yang masuk ke kota atau kampung dengan barier yang ada. Sebenarnya itu, jadi judulnya sebenarnya lebih tepat isolasi kampung. Itu tidak lockdown, kalau iya maka masyarakat tidak boleh keluar rumah. Lha ini masih boleh kok,” jelasnya.

Ganjar justru mendukung upaya isolasi kampung yang dilakukan Pemkot Tegal. Kalau itu berhasil, Ganjar akan mendukung penuh dan menerapkannya ke daerah lain.

Namun, Ganjar meminta kepala daerah atau siapapun untuk hati-hati dalam menggunakan kata-kata lockdown yang bisa membuat masyarakat resah.

“Kalau pakai kata-kata lockdown, wartawan pasti suka dengan istilah ini. Jadi tambah rame kan,” ujarnya.

Kebijakan local lockdown seperti yang dibuat Wali Kota Tegal sendiri kemarin diikuti oleh beberapa kepala daerah lain.

Di Payakumbuh, Sumatera Barat, Wali Kota Riza Falepi juga menutup akses keluar masuk di wilayahnya. Penutupan ini untuk mengantisipasi penyebaran virus corona.

Riza mengatakan, penutupan ini diawali dengan pembatasan akses keluar masuk Payakumbuh, mulai Jumat (27/03/2020) siang.

“Kami segerakan. Mulai besok siang setelah (salat) Jumat. Sedang disiapkan,” ujar Riza,
Kamis (26/3/2020) malam.

Kata dia, sejumlah petugas akan ditempatkan di kawasan perbatasan Payakumbuh, seperti Satpol PP dan lainnya. Juga bekerjasama dengan pihak kepolisian.

Ia mengatakan, penutupan akses keluar masuk di Payakumbuh ini untuk mengantisipasi penyeraban virus corona. Apalagi, Payakumbuh berada di jalur utama Sumbar-Riau.

“Masih ada toleransi 3 hari ke depan sebelum benar-benar ditutup,” ujarnya.

Sebelumnya, 5 orang warga Sumbar dinyatakan positif terpapar virus corona (covid-19) Kamis (26/3/2020).

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan, dari 5 warga Sumbar yang positif corona ini, satu orang berasal dari Kota Padang, 1 dari Pesisir Selatan, 1 dari Tanah Datar dan 2 orang dari Bukittinggi.

Empat pasien dirawat di Rumah Sakit Achmad Mochtar Kota Bukittinggi dan satu pasien di RSUP M Djamil Padang.

Dua di antaranya merupakan hasil pengecekan di Laboratorium Unand, dan tiga orang lainnya dari Litbang Kemenkes RI.

Sementara di Jawa Barat Gubernur Ridwan Kamil mengatakan opsi keputusan pemberlakuan lockdown, blokade, atau isolasi, di Jawa Barat, untuk mengantisipasi penyebaran virus corona Covid-19 akan ditetapkan setelah pihaknya merekap hasil rapid tes atau tes masif penyebaran virus corona di Jawa Barat.

Pekan ini, katanya, adalah saat krusial bagi Jawa Barat yang melakukan tes masif kepada dua puluh ribu warganya yang berpotensi tertular virus corona.

“Peta persebaran ini akan membuat kami melakukan isolasi, blokade, ataupun semilockdown dengan data yang jelas. Tanpa ada data tes masif ini kita akan susah mengambil keputusan yang lebih terukur. Kita menggunakan metode Korea Selatan, memang tidak ada full lockdown tapi melakukan tes semasif-masifnya,” kata Ridwan Kamil di Gedung Pakuan, Jumat (27/3/2020).(*)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY