BERBAGI
Timbunan tanah hasil pemotongan bukit, yang ditumpuk lebih tinggi dibanding pagar sekolah. Kondisi ini sangat berbahaya, jika hujan turun sebabkan longsor dan jebolnya pagar | Foto : Ned

CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM – Menentang dan tidak mengikuti arahan Pemerintah Kota (Pemko) Batam, yang disampaikan langsung oleh Camat Sekupang, Zurniati, S.IP. Menjadikan PT Glory Point bak ‘penguasa’ di Batam.

Pasalnya, PT Glory Point yang tengah melakukan pemekaran lahan di Bukit Tiban Koperasi, Sekupang, Batam itu terus melakukan aktifitas pemotongan bukit (cut and fill) meski telah diminta untuk disetop operasinya.

Tampak di lokasi, puluhan unit dump truck pengangkut tanah hasil pemotongan bukit hilir-mudik menimbun permukaan lahan yang lebih rendah. Penimbunan itu termasuk dalam rencana penimbunan danau, yang berada tepat disamping lokasi proyek.

Pemotongan bukit yang dilakukan oleh pengelola proyek tepat disamping sekolah Kasih Karunia (atap biru) di Tiban Koperasi, Batam | Foto : Ned
Pemotongan bukit yang dilakukan oleh pengelola proyek tepat disamping sekolah Kasih Karunia (atap biru) di Tiban Koperasi, Batam | Foto : Ned

Zurniati, beberapa saat lalu menyatakan telah memberi arahan kepada pengawas dan pengelola PT Glory Point untuk menghentikan proyek tersebut.

Dia menegaskan hal itu, mengingat belum adanya izin pemekaran lahan (Cut and Fill) yang dikantongi PT Glory Point dalam melakukan pemotongan dan penimbunan tersebut.

“(PT Glory Point) belum tunjukkan izin sama kita, oleh karenanya kita minta dihentikan sementara. Minimal sampai izinnya diperlihatkan,” kata Zurniati, Camat Sekupang saat dikonfirmasi beberapa saat lalu.

Dikatakannya juga, terkait proyek tersebut. Pengelola harus terlebih dahulu mengantongi perizinan, barulah kemudian memulai pemotongan.

“Iya, dimana-mana harus ada izin dulu. Baru mulai proyek. Kalau seperti ini kan, tak ada izin yang bisa diperlihatkan sama kita. Jadi terkesan ilegal lah aktifitasnya,” ucapnya lagi.

Timbunan tanah hasil pemotongan bukit, yang ditumpuk lebih tinggi dibanding pagar sekolah. Kondisi ini sangat berbahaya, jika hujan turun sebabkan longsor dan jebolnya pagar | Foto : Ned
Timbunan tanah hasil pemotongan bukit, yang ditumpuk lebih tinggi dibanding pagar sekolah. Kondisi ini sangat berbahaya, jika hujan turun sebabkan longsor dan jebolnya pagar | Foto : Ned

Meski telah diberi arahan untuk setop sementara, namun aktifitas di lokasi yang tampak sangat gersang itu masih terus berlanjut.

Tak sedikitpun niat baik yang diperlihatkan pengelola proyek tersebut dalam mengikuti arahan Camat Sekupang. Salah seorang pengawas proyek, Aceng hanya menegaskan bahwa pihaknya telah memiliki izin.

“Jangan salah, kami sudah ada izin. Kemarin juga sudah duduk bersama dengan Lurah, Sekcam, dan beberapa orang lainnya. Kenapa masih dibahas lagi? Yang jelas kami sudah punya perizinan untuk proyek ini,” jawab Aceng tegas.

Timbunan tanah hasil pemotongan bukit, yang ditumpuk lebih tinggi dibanding pagar sekolah. Kondisi ini sangat berbahaya, jika hujan turun sebabkan longsor dan jebolnya pagar | Foto : Ned
Timbunan tanah hasil pemotongan bukit, yang ditumpuk lebih tinggi dibanding pagar sekolah. Kondisi ini sangat berbahaya, jika hujan turun sebabkan longsor dan jebolnya pagar | Foto : Ned

Akan tetapi, ketika dipertanyakan alasan pengawas proyek PT Glory Point tersebut tidak memperlihatkan bukti perizinan yang dimaksud kepada Camat dan Lurah. Aceng hanya menyebut bahwa pihaknya sudah memiliki izin.

‎Terkesan menutupi sesuatu, Aceng dan timnya terus mematangkan lahan yang nantinya akan dibangun perumahan Glory Point Residance. Sementara, Camat Sekupang tetap menegaskan selama PT Glory Point tak mampu memperlihatkan izin yang dimintakan. Proyek tersebut haruslah dihentikan sementara waktu.

“Yang penting, saya tegaskan sekali lagi. Kalau belum ada perizinan, mau atau tidak harus di setop. Apapun kondisinya, harus. Karena segala macam bentuk proyek, harus kantongi izin. Kalau tidak, ya jangan dilakukan. Itu saja,” tandasnya.‎

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY