BERBAGI
Pedagang daging sapi | Foto : Nat

CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM – Polemik harga daging sapi kian merebak mendekati pelaksanaan Ramadan 2017. Hal ini masih jadi pekerjaan rumah pemerintah yang tak kunjung terselesaikan.

Meski sudah melakukan impor besar-besaran, baik daging sapi beku dan daging kerbau India, harga daging sapi segar di pasar masih saja menduduki nominal di atas Rp 100.000 per kilogramnya.

Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Syarkawi Rauf, mengatakan polemik lonjakan harga daging sapi yang sampai saat ini tak kunjung turun, sebenarnya berawal sejak tahun 2009. tepatnya saat pemerintah memperketat impor sapi bakalan dan daging beku lantaran menurut data, dianggap sudah swasembada.

“Persoalan persapian kalau dari pemeriksaan kami itu sejak 2009. Ada keinginan pemerintah saat itu untuk swasembada dalam jangka waktu 5 tahun, artinya kalau dari 2009 swasembada bisa tercapai di 2014,” ungkapnya dalam Diskusi Kesejahteraan Peternak Sapi Lokal di Pomelotel, Jakarta, Jumat (28/4/2017).

Baca Juga:  Kobaran Api Terus Menjilat Kapal di Kampung Bugis Tanjungpiinang, Berikut Foto-fotonya

Saat itu, kata Syarkawi, pemerintah sejak tahun 2009 mulai memangkas kuota impor sapi bakalan dan daging beku dari Australia. Di sisi lain, populasi sapi lokal tak bertambah banyak, akibatnya terjadi pemotongan pada sapi betina lantaran stok sapi lokal tak bisa mengimbangi permintaan yang tinggi.

“Setiap tahun impornya dikurangi 10 persen, agar di 2014 impornya tinggal kurang dari 10% alias swasembada. Persoalannya pemerintah tetap ingin capai swasembada dengan kurangi impor daging beku dan bakalan, tidak disertai dengan produktifitas sapi lokal,” ujarnya.

Lanjut dia, harga daging sapi pun merangkak naik. Tahun 2009, harga daging sapi masih dibanderol Rp 65.000 per kg, namun melonjak tinggi sampai Rp 120.000 per kg pada tahun 2014, dan mencapai puncaknya tahun 2015 yang harganya mencapai Rp 150.000 per kg, ketika pemerintah memangkas impor bakalan untuk jatah feedloter.

Baca Juga:  KPU Bintan Tetapkan "Bupati Indonesia" Sebagai Pemenang Pilkada

“Pada tahun 2015 lalu pemerintah berusaha kurangi impor dari biasanya sapi bakalan 750.000 ekor setahun, dikurangi hampir setengahnya menjadi 450.000 ekor setahun. Akhirnya malah jadi kisruh di feedloter,” pungkasnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY