CENTRALBATAM.CO.ID, TANJUNGPINANG – Kekeringan yang melanda di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau semakin kritis.
Salah satu lokasi terparah yang terdampak masa paceklik, ialah Pondok Kelapa, jalan Kijang lama, Batu 7, kelurahan kota Piring, Tanjungpinang Timur. Sudah beberapa bulan terakhir tak pernah turun hujan di wilayah itu.
Alhasil, kekeringan pun mewabah, meluas dan meresahkan warga.
Debit air di danau hingga sumur milik warga merosot drastis. Tangki dan bak penampungan air pun tampak kering kehabisan air.
Kekeringan kali ini mengular dampaknya pada perkebunan milik warga. Beberapa jenis sayuran dan umbi-umbian terancam gagal panen, karena gersangnya tanah.
Pantauan di lokasi, beberapa tanaman di kebun milik warga terlihat layu dan mengering daunnya. Berbagai jenis sayur dan umbi-umbian siap jual pun mati. Bukan karena hama, namun karena tanah tak lagi menyimpan cadangan air.
“Dampaknya sudah terasa sekali, sayur-sayuran pun sudah banyak yang mati. Yang bertahan cuma ubi kayu. Itupun sudah ikut-ikutan layu,” kata Ahmad, seorang warga yang memiliki kebun di lokasi tersebut.
Merasa prihatin dengan kondisi itu, Ahmad dan warga lainnya berharap hujan segera turun dan kembali memenuhi danau dan sumur milik warga.
“Sekarang gak bisa apa-apa dulu, cuma bisa doa agar hujan segera turun,” tuturnya.
Di lokasi, beberapa pemilik kebun terpaksa memanen berbagai sayur-mayur, umbi-umbian, sampai pisang secara prematur alias sebelum waktunya. Ini dilakukan, untuk mencegah kerusakan pada buah maupun daun akibat kekurangan air.
“Sayuran terpaksa kita makan sendiri, kalau ada yang bagus ya bisa dijual. Tapi untuk pisang, harus diperam dulu,” tukasnya.

