CENTRALBATAM.CO.ID, BINTAN–Maraknya peredaran narkoba dihampir seluruh wilayah Indonesia membuat pemerintah terus berupaya mencari cara agar peredaran obat ini terbendung. Pasalnya, narkotika selain berpengaruh pada fisik dan gangguan mental juga membahayakan jiwa para pecandu. Akibat jika peredarannya tidak dihentikan, maka dipastikan banyak generasi bangsa akan rusak.
Meskipun hukuman berat hingga hukuman mati selalu dilimpahkan kepada para tersangka yang terlibat mengedarkan narkoba, namun hal ini bukan berarti peredaran narkoba ditanah air terhenti begitu saja.
Kepala Lembaga Pemasyarakat (Lapas) Narkotikan Kelas II A Tanjung Mishbahuddin, mengatakan dirinya mengutamakan memanusiakan manusia. “Memanusiakan manusia itu penting. Makanya salah satu bunyi di spanduk itu mengatakan, kami bukan penjahat, kami hanya tersesat,” ujar Mishbahudin pada acara buka puasa bersama dan peresmian Pesantren Kilat bagi warga binaan, Rabu (14/6).
Ia menjelaskan, melalu konsep memanusiakan manusia ini, membuat (napi) menyadari akan kesalahan yang telah diperbuat sehingga mereka selamat dalam kehidupannya. “Dengan demikian, (napi) tidak akan kembali kejalan yang salah. Dan juga mereka dapat diterima oleh masayarakat dimana mereka berada nantinya,” paparnya.
“Ini salahsatu Pendekatan pembinaan agar lebih baik. Pembinaan tidak melulu kita kasih kerja cangkul atau berkebun dan lainnya, jika kolbunya kosong sia-sia. Kami yakin semua warga binaan ini bukanlah penjahat, hanya saja mereka tersesat dengan ponpes ini mereka bisa kembali ke jalan yang benar,” tambahnya.
Berdasarkan dari pantauan, kondisi Lapas Narkotika dibawah kepemimpinan Misbahudin jauh berbeda. Dengan sadar para napi disana menjadi lebih taat beribadah dan memperbaiki diri.
Selain itu, kondisi lapas itu jauh lebih terta, bersih dan nyaman bagi penghuni lapas. Hal ini membuat para penghuni lapas nyaman dan menyadari bahwa mereka telah berbuat salah dan ingin kembali kejalan yang benar jika masa tahanan usai.
“Disini kami memang merasakan nyaman dan diperlakukan dengan baik dan adil. Namun kami juga menyadari bahwa bukan ini tempat kami. Kedepannya, pasti kami akan lebih baik karena telah menyadari yang kami lakukan salah,” kata salah satu napi yang minta namanya tidak ditulis. (Ndn)

