CENTRALBATAM.CO.ID, Bintan –Wardi (45) salah satu nelayan kecamatan Gunungkijang tidak dapat menyembunyikan kesusahan yang alami.
Begitu wartawan media menyambangi rumahnya di RT 04/RW 01, dengan nada bercanda bertanya ada chan alias peluang untuk menghasilkan uang selama musim angina utara.
“Eh, bang zai. Ada chan kah,” ujar becanda.
Wardi mengisahkan, sejak memasuki musim angin utara sekitar 4 bulan lalu ia lebih banyak menghabiskan waktu dirumah atau menganggur. Pasalnya, kondisi arus bawah laut selain dapat membahayakan nyawa juga susah untuk menangkap ikan.
“Ya, begini aja lah bang kalau musim angina utara. Mau turun laut gelombang sangat kuat. Dan juga arus bawah laut yang deras membuat susah menangkap ikan. Jadi percuma juga melauat,” ujarnya sembari memperbaiki jarring yang ia punya untuk menangkap ikan saat cuaca bagus.
Diceritakanya, selama 4 bulan tidak melaut barang-barang elektronik yang ia punya di gadaikan untuk kebutuhan sehari dan biaya anak sekolah.
Dirinya juga tidak bisa mencari pekerjaan lain karena kapal dan jaring harus tetap dirawat agar siap untuk dipakai ketika musim angin bagus.
“Kalau cari pekerjaan lain tidak mungkin karena harus rawat kapal dan jaring. Jika tidak, rusak di makan rayap dan lain sebagainya,” paparnya.
Dalam setahun, nelayan hanya bisa melaut sekitar 6 bulan yaitu dimulai pada bula. Dan hasil yang didapat saat turun ke laut itupun dipakai untuk lunasi hutang-hutang selama menganggur.
“Waktu turun kadang sampai 3 ton. Tapi itu hasilnya kan dibagi-bagi ke anggota dan bayar-bayar hutang sebelumnya,”sebutnya.
Ditanya apa harapan untuk pemerintah, ia mengatakan berharap agar koperasi simpan pinjam nelayan dapat di fungsikan kembali. Sehingga saat cuaca ekstrim nelayan bisa meminjam dengan suku bunga yang rendah sehingga tidak perlu gadaikan barang-barang.
“Saya ini termasuk nelayan golongan menengah. Makanya tiap kali bantuan dari pemerintah keluar, saya tidak dapat. Ya, harapannya, semoga pemerintah bisa memperhatikan hal ini,”harapnya.’
Sementara itu, salah satu ibu rumah tangga juga mengeluh karena harga ikan di pasar kawal naik drastis.
“Ikan dipasar banyak yang tidak ada. Dan harga ikan yang dulunya Cuma Rp 10.000, kini menjadi Rp 38.000,” pungkas salah wanita yang mengaku namanya Rina. (Ndn)

