BERBAGI
Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto meninjau langsung vaksinasi buruh di PT Satnusa Persada, Sabtu (12/6/2021). Foto : DEKA/Cenralbatam.co.id)

CENTRALBATAM.CO.ID, JAKARTA – Indeks Perbaikan Nikkei (Nikkei Recovery Index) merilis peringkat pengendalian Covid-19 di seluruh dunia pada 6 Oktober 2021.

Indonesia berada di peringkat 54, lebih tinggi dari negara lain di Asia Tenggara. Nikkei melakukan penilaian pada 120 negara.

Berdasarkan pemeringkatan itu, Indonesia disebutkan berada di peringkat ke-54, diikuti oleh sejumlah negara di Asia Tenggara. Mereka adalah Singapura di posisi 70, Malaysia (102), Myanmar (105), Thailand (109), Vietnam (118), Laos (120), dan Filipina di posisi 121.

“Namun India ada di peringkat ke 40, lebih bagus dari kita,” ujar Guru Besar FKUI Prof Tjandra Yoga Aditama dalam keterangan tertulisnya, Selasa (12/10/2021).

Selain Nikkei Recovery Index, perbaikan peringkat Indonesia juga terlihat pada Bloomberg Resilience Index.

Indeks ini memberi peringkat pada 53 negara di dunia. Indonesia pada 28 Juli 2021 ada di peringkat terbawah, yakni ke-53.

Kemudian pada 26 Agustus 2021 membaik menjadi ke-51 dan dan versi 28 September membaik lagi menjadi peringkat 49. Sementara, Thailand di peringkat 50, Malaysia di 51, Vietnam 52, dan Filipina peringkat 53.

Baca Juga:  Wali Kota Batam Resmikan D'pollux Cafe, Covid-19 Harus Selesai Agar Ekonomi Bangkit

“Peringkat India dan Singapura di Bloomberg Resilience Index lebih baik dari Indonesia, India ada di peringkat ke 45 dan Singapura bahkan peringkat ke 19,” jelas Prof Tjandra yang juga mantan Direktur WHO Asia Tenggara ini.

Meski jumlah kasus Covid-19 mulai terkendali, Tjandra juga menyoroti angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia yang masih tinggi.

Menurutnya diperlukan upaya bersama baik dari pemerintah maupun masyarakat untuk bisa menekan angka kematian ini.

Dikutip dari John Hopkins University CSSE (Center for Systems Science and Engineering) pada 12 September 2021, Indonesia dinilai sebagai salah satu yang terbaik di dunia dalam menangani kasus Covid-19 karena berhasil menurunkan kasus sebesar 58 persen dalam waktu dua pekan.

Baca Juga:  Pentingnya Menjaga Kelestarian Ekosistem, Amsakar Ikut Tanam Bibit Mangrove

Hanya saja, John Hopkins juga menyoroti tingginya tingkat kematian di Indonesia.

Pada pertengahan September 2021, angka kematian akibat Covid-19 Indonesia peringkat ketiga tertinggi dari 20 negara yang paling terdampak dari sisi fatalitas atau observed case-fatality ratio (CFR).

Data per tanggal 9 Oktober 2021 menunjukkan angka fatalitas Indonesia 3,4 persen, di bawah Meksiko (7,6 persen) dan Bulgaria (4,2 persen).

Sementara negara lain di ASEAN lebih rendah angka fatalitasnya. Vietnam 2,4 persen, Filipina 1,5 persen, Malaysia 1,2 persen dan Thailand 1,0 persen.

“India dengan angka fatalitas 1,3 persen, juga lebih rendah dari kita,” papar Tjandra.

Ia mengatakan, ada lima hal yang harus diupayakan semua pihak untuk mempertahankan kondisi yang terkendali ini.

Pertama, meminimalisasi penularan kasus positif Covid-19, dengan menemukan mereka melalui tes dan telusur untuk kemudian ditangani dan diisolasi, dan tentu juga menerapkan 3M.

“Juga mencegah moda penularan, artinya untuk masyarakat tetap menerapkan 3M dan untuk pemerintah melakukan pembatasan sosial sesuai perkembangan PPKM yang ada,” katanya.

Baca Juga:  Bangun Proyek Fisik dan Beri Penyuluhan, Program TMMD ke-112 di Batam Resmi Ditutup

Ketiga, selalu menjaga agar mereka yang belum sakit jangan sampai tertular dengan meningkatkan vaksinasi dan menerapkan pola hidup bersih sehat.

Data Kementerian Kesehatan, sampai 10 Oktober 2021, total vaksinasi dosis kedua baru 27,62 persen. Bahkan untuk lansia, cakupannya baru 21,40 persen.

Keempat, terus melakukan surveilans dengan ketat, menilai pola data dari hari ke hari serta mengambil tindakan bila diperlukan.

Terakhir, tetap menjaga kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan. Mulai dari pelayanan primer, konsep rujukan dan pelayanan di rumah sakit.

Khusus untuk di rumah sakit maka harus selalu disiagakan, yakni SDM terampil, ketersediaan alat dan obat termasuk mekanisme kalau ada kekosongan serta aspek manajemen lapangan, seperti konversi ruang rawat, manajemen risiko dan lain-lain.(mzi)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY