BERBAGI
Timbunan tanah hasil pemotongan bukit, yang ditumpuk lebih tinggi dibanding pagar sekolah. Kondisi ini sangat berbahaya, jika hujan turun sebabkan longsor dan jebolnya pagar | Foto : Ned

CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM – Hujan lebat yang mengguyur sejak pagi tadi, sekitar pukul 06.00 WIB, Jumat (7/10/2016) ternyata cukup dirasakan dampaknya oleh masyarakat.

Secara khusus, masyarakat di sekitar Tiban Koperasi di Jalan Gajah Mada, Sekupang, Batam.

Adapun dampak yang dirasakan, yakni meluapnya air hujan yang tak lagi mampu ditampung di kolam yang ada disekitar pemukiman warga itu.

Tak lagi berfungsi dengan baik, kolam yang ada saat ini hanya tinggal setengah bagian saja lantaran ditimbun oleh PT Glory Point yang melakukan pematangan lahan di Bukit Tiban Koperasi, tepatnya di belakang Sekolah Kasih Karunia, Sekupang.

Dengan pematangan lahan berupa Cut and Fill atau pemotongan bukit, lokasi sekitar proyek menjadi berubah wujudnya.

Pemotongan bukit yang dilakukan oleh pengelola proyek tepat disamping sekolah Kasih Karunia (atap biru) di Tiban Koperasi, Batam | Foto : Ned
Pemotongan bukit yang dilakukan oleh pengelola proyek tepat disamping sekolah Kasih Karunia (atap biru) di Tiban Koperasi, Batam | Foto : Ned

Lahan yang semula hijau dan sangat jarang digenangi banjir, kini gersang dan kerap banjir ketika hujan turun. Akan hal ini, warga sekitar merasa geram dengan adanya aktifitas tersebut yang dianggap merugikan masyarakat.

“Kita benar-benar dirugikan, itu kolam dulunya lebar. Sekarang hanya tinggal setengah saja, habis ditimbun,” kata Amir, warga Tiban Koperasi.

Dikatakannya juga, penutupan setengah badan kolam inilah yang akhirnya membuat daerah resapan air kian menyempit dan membuat air kerap meluap kepemukiman warga.

“Harusnya dipikirkan, ini kalau kolam ditutup bisa banjir. Eh, malah main timbun seenaknya,” ucapnya.

Tak hanya pemukiman warga, dampak negatif dari aktifitas proyek ini juga dirasakan langsung di Sekolah Kasih Karunia, Sekupang. Pasalnya, beberpa tembok sekolah sempat jebol dihantam gundukan tanah bercampur air.

“Memang pernah itu jebol (tembok), karena tanah timbunnya lebih tinggi dari pagar,” kata penjaga sekolah tersebut.

Meski demikian, aksi di proyek itu tetap berlanjut. Tanpa memikirkan dampak yang dialami warga, lahan itu terus dimatangkan untuk segera dibangun perumahan elit bernama Glory Point Residance.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY