BERBAGI
WN Malaysia (baju tahanan) saat disidangkan di PN Batam | Foto : Ned

CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM – Warga Negara (WN) Malaysia kembali menjadi pelaku, dalam penyebarluasan barang haram (Narkotika) di Batam.

Dalam persidangan, Kamis (16/2/2017) sore, dua WN Malaysia bernama Alexander Francis dan Krishnan Palaniyapan diduga menjadi kurir dalam peredaran sabu seberat 4.400 gram (4,4 Kg).

Dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Andi Akbar, disebut bahwa kedua terdakwa ini pada hari Minggu (4/9/2016) lalu diduga teribat menjadi kurir di sekitar Hotel Swiss Inn Baloi, Batam.

“Keduanya dihubungi oleh Baharudin Alias Din Alias Black (DPO) melalui Handphone dan menyampaikan bahwa sabu sudah masuk ke Batam. Lalu keduanya diminta oleh Baharudin untuk memantau kegiatan ilegal itu,” kata JPU Andi Akbar.

Dengan permintaan itu, kemudian Alexander berangkat dari Malaysia menuju Batam. Ia pun mengajak Krishnan, untuk membantu melaksanakan tugas yang diperintahkan Baharudin.

Sampai di Batam, keduanya diarahkan oleh Baharudin untuk menginap di Hotel Swiss Inn Baloi Kota Batam. Kemudian, keduanya kembali memantau kegiataan jual beli yang di lakukan oleh Baderuddin dari kejauhan.

“Saat itulah, polisi menangkap Baderuddin. Dalam penangkapan, ditemukan sabu di dalam mobil KIA Picanto BP 1551 FJ yang di kendarainya,” tuturnya.

Melihat Baderuddin tertangkap, kemudian Krishnan panik dan berusaha bersembunyi di tempat massage Hotel Swiss Inn. Namun, keberadaannya tetap terendus dan dicokok.

“Setelah diamankan, seluruhnya diperiksa di kantor polisi,” imbuh Jaksa.

Baca Juga:  Februari ini "Si Tol Laut" Resmi Beroperasi di Bintan. Ini Mamfaatnya
WN Malaysia (baju tahanan) saat disidangkan di PN Batam | Foto : Ned

Dalam penangkapan itu, juga diamankan barang bukti jenis sabu-sabu seberat 4.400 gram.

Sesuai perbuatannya, Alexander dan Krishnan dijerat dengan ketentuan Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

“Kedua, melanggar ketentuan Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika,” sebut Jaksa.‎

Setelah dibacakannya dakwaan itu, keduanya mengaku mengerti. Namun, Alexander langsung mengaku bahwa perbuatan yang disangkakan itu tidaklah benar.

“Itu tak benar Yang Mulia, kami tak ada buat itu,” kata terdakwa dengan logat melayu Malaysianya.

Menanggapi hal itu, Penasihat Hukum (PH)-nya Bernard Nababan langsung menyatakan keberatan dan mengajukan Eksepsi. Dalam eksepsi itu, PH mengatakan bahwa dakwan JPU obscuur libel alias kabur.

“Oleh karena banyaknya hal yang tidak sesuai, maka kami meminta Majelis Hakim untuk mempertimbangkan nota keberatan yang disampaikan ini,” tandas PH Bernard.

Sidang itu sendiri di Pimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Zulkifli, SH, didampingi Hakim Anggota Imam Hera Polosia, dan Imam Budi Putra. Setelah didengarnya seluruh keterangan, sidang pun ditunda pekan depan, Kamis (23/2/2017) mendatang di ruang sidang II PN Batam.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY