BERBAGI
Polres Blora berhasil mengamankan 14,95 ton pupuk bersubsidi jenis Phonska, 35 sak pupuk bersubsidi jenis TS atau SP36, dan 63 sak pupuk bersubsidi jenis urea.

CENTRALBATAM.CO.ID, BLORA – Jajaran Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Blora menggrebek sebuah gudang palawija milik N (50) warga Desa Gabusan Kecamatan Jati Kabupaten Blora, Rabu (10/2/2021)

Dalam penggrebekan tersebut, jajaran Satreskrim Polres Blora berhasil mengamankan 14,95 ton pupuk bersubsidi jenis Phonska, 35 sak pupuk bersubsidi jenis TS atau SP36, dan 63 sak pupuk bersubsidi jenis urea.

Kapolres Blora AKBP Wiraga Dimas Tama didampingi Kasat Reskrim AKP Setiyanto saat berada di Tempat Kejadian Perkara (TKP) menjelaskan bahwa penggerebekan ini berawal dari laporan warga setempat.

Dimana, di lokasi tersebut ada aktivitas yang mencurigakan di gudang palawija tersebut yang dijadikan lokasi penyimpanan pupuk bersubsidi.

Baca Juga:  Digelar Sebulan Penuh, Wali Kota Batam Buka Wonderfood Ramadhan Batam

“Jadi, ini hasil pendalaman dari laporan masyarakat, kemudian Satreskrim Polres Blora melakukan penyelidikan di TKP”.

“Dan akhirnya benar ditemukan barang bukti berupa kurang lebih 14,95 ton pupuk yang terdiri dari 200 sak pupuk bersubsidi jenis Phonska, 35 sak pupuk bersubsidi jenis TS atau SP36, kemudian 63 sak pupuk bersubsidi jenis urea, total 14,95 ton,” jelas AKBP Wiraga.

Pupuk bersubsidi tersebut didapatkan dari wilayah Jawa Timur, dan dalam penjualannya di pasaran, dijual di atas harga yang telah ditentukan oleh pemerintah.

“Dalam penggerebekan ini, kami menetapkan satu orang tersangka berinisial N, (50), warga Desa Gabusan, Kecamatan Jati kabupaten Blora, selaku pemilik gudang sekaligus pemilik pupuk bersubsidi tersebu,” ungkapnya.

Baca Juga:  Korem 033/WP Gelar Tes Garjas, Syarat Wajib Prajurit untuk Kenaikan Pangkat

Lanjut Wiraga, pupuk tersebut telah berada di gudang sekitar seminggu lamanya. Bahkan, sejumlah petani telah membeli pupuk pupuk tersebut.

“Pupuk sudah ada di TKP sekitar semingguan, sebagian sudah diedarkan,” ujarnya.

Untuk saat ini, pihaknya akan terus menyelidiki oknum-oknum pengedar pupuk bersubsidi di atas harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

“Ini masih tahap awal dan kita masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, apakah ada tersangka lain atau saksi-saksi atau orang yang terlibat dalam kejadian ini,” tegasnya

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut tersangka dijerat Pasal 6 ayat 1 huruf b UU Darurat No. 7 tahun 1955 tentang tindak pidana Ekonomi jo pasal 1 Sub 3 e UU No. 7 tahun 1955 tentang tindak pidana Ekonomi, jo pasal 4 (1) huruf a Perpu No. 8 tahun 1962 tentang Perdagangan barang dalam pengawasan, jo pasal 8 ayat 1 Perpu no. 8 tahun 1962 tentang perdagangan barang dalam pengawasan jo pasal 2 (1) dan (2) Perpres No. 77 tahun 2005 tentang penetapan pupuk bersubsidi sebagai barang dalam pengawasan, jo pasal 30 (2) Permendag RI No. 15/M-DAG/PER/4/2013 jo pasal 21 (1) Permendag RI No. 15/M-DAG/PER/4/2013, tentang pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian, dengan ancaman pidana maksimal 2 tahun penjara.(riyan)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan