CENTRALBATAM.CO.ID, BINTAN – Limbah minyak berwarna hitam mencemari pesisir pantai Kabupaten Bintan, provinsi Kepulauan Riau. Dari pantauan tim Central Batam, limbah minyak atau sludge oil tersebut menyebar di beberapa desa, diantaranya Kampung Semelur, Sialang, Kampe, Teluk Dalam, Penginang, dan Desa Berakit Kabupaten Bintan.
Keberadaan limbah Tidak terhitung dengan puluhan pulau-pulau kecil yang ada di Bintan lainnya. Keberadaan limbah sangat dirasakan masyarakat pesisir, Dina salah satunya. Dia mengeluhkan keberadaan limbah minyak yang sudah mengeras. hingga pagi ini, Rabu (29/3/2017) penampakan limbah minyak tersebut masih terpantau.
Selain mencemari dan merusak ekosistem laut, tebaran limbah itu juga merusak alat tangkap nelayan Desa Berakit dan 5 desa lainnya. “Banyak masyarakat, terutama nelayan mengeluh. Susah mencari ikan karena minyak lengket di jaring,” kata Dina, saat dikonfirmasi.
Meskipun tidak mengetahui langsung proses pembuangan limbah tersebut, dia dan suaminya kerap kali melihat kapal minyak melintasi perbatasan Kepri dengan Malaysia dan Singapura itu, yang kemudian disebut jalur perdagangan Selat Philips. “Saya yakin minyaknya dibuang dari laut lepas pantai, saya pernah lihat kapal besar melintas, banyak minyak hanyut, meski pun saya tidak melihat langsung bagaimana cara membuang minyak itu,” katanya.
Senada disampaikan Abdul Azis, yang juga menitikberatkan penghasilannya pada hasil tangkapan laut, kata Azis yang sudah bergelut sebagai nelayan, Bintan selalu menjadi langganan tempat berlabuhnya limbah minyak. “Kalau udah masuk musim Timur ke Utara sudah mulai betebar minyak, rusak semua alat, tak bisa pakai lagi. Kemarin ade juge tapi karung hanyut sampai pantai,” kata Azis.
Setiap tahunnya limbah minyak menyebabkan kerusakan pada ekosistem laut dan pencemaran pesisir pantai di Bintan. Pantai bintan yang tengah disorot menjadi pilihan destinasi wisata ikut tercemar. Limbah sulit dibersihkan.
Menanggapi hal itu, Komandan Lantamal IV Laksamana Pertama TNI S. Irawan mengatakan tengah melakukan penyisiran tentang keberadan limbah tersebut. Dikatakannya, TNI Angkatan Laut Indonesia tengah menjalin kerjasama dalam penangananan limbah minyak tersebut dengan negara tetangga. “Sudah dengan Malaysia dan Singapura,” kata S Irawan.
Dalam laporan Tim TNI AL penyisiran di wilayah perairan Berakit tidak menemukan adanya limbah tersebut, namun para nelayan masih mengeluh dengan keberadaan limbah tersebut.

