BERBAGI
Terdakwa Doni bin Jonedi dan tedakwa Ice Rosnawati binti Yunata masing-masing dijatuhi hukuman 5 bulan kurungan penjara dalam sidang di Pengadilan Negeri Batam, Kamis (17/5/2018)

CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM-Masih ingat dengan pasangan kekasih, Ice Rosnawati (21) dan Doni (22), yang sempat menghebohkan Kepri karena membuang bayi hasil hubungan keduanya.

Atas perkaranya itu, Majelis Hakim menjatuhi hukuman 5 tahun penjara dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Kamis (17/5/2018). Dengan vonis Majelis Hakim tersebut, terdakwa Doni bin Jonedi dan tedakwa Ice Rosnawati binti Yunata yang ditahan sejak 9 Januari 2018 lalu, langsung menghirup udara bebas.

“Terdakwa Doni bin Jonedi dan tedakwa Ice Rosnawati binti Yunata masing-masing dijatuhi hukuman 5 bulan kurungan penjara. Masing-masing terdakwa di denda Rp 5 juta. Jika denda tidak dibayar makan diganti dengan kurungan penjara 1 bulan,” kata Hakim Iman Budi Putra membacakan amar putusan.

Kedua terdakwa kata Hakim Iman terbukti melanggar pasal 76 B UU No.35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

“Perbuatan masing-masing terdakwa tidak sesuai dengan moral dan norma kesusilaan. Dalam pertimbangan, kedua terdakwa sudah menikah dan ingin membesar dan mengasuh anak yang sempat dibuang,” kata Majelis Hakim.

Kedua terdakwa dan JPU Ritawati sembiring menerima putusan Majelis Hakim tersebut.

Seperti dalam sidang sebelumnya, terungkap bahwa Ice Rosnawati mencoba menggugurkan kandungannya setelah mengetahui hamil. Dia pun bersuaha dengan cara memakan nenas muda, namun tidak berhasil hingga akhirnya bayi perempuan lahir.

Kedua terdakwa dalam perkara perlindungan anak ini, mengakui tidak ada niat untuk membuang bayinya. Dengan alasan belum nikah.

“Saya coba gugurkan kandungan ini dengan makan nenas muda. Tapi tidak berhasil. Dan saya sampaikan dengan Doni bahwa akan membesarkan bayi yang dalam kandungan. Kemudian 8 Januari 2018 sekira pukul 03.00 WIB lahir bayi saya,” kata Ice menjawab pertanyaan Majelis Hakim saat itu.

Ice mengatakan dalam melahirkan anak berjenis kelamin perempuan di kosannnya di Perumahan Puskopkar Batuaji, dia hanya sendiri. Bahkan proses kelahirannya bayi itu, dia memegang tubuh bayinya dan mernariknya keluar dari dalam rahim dengan kedua tangannya.

“Tidak ada yang bantu dalam proses kelahiran bayi saya. Saya lakukan sendiri di dalam kamar kos,” katanya.

Merasa ketakutan dan bingung takut diketahui penghuni kos. Ice pun langsung memberitahukan Doni atas kelahiran bayinya itu. Kemudian sekitar pukul 22.00 WIB, Doni datang ke kamar kos Ice dengan diam-diam agar tidak diketahui orang lain.

Di dalam kamar kos itu keduanya pun membicarakan masalah bayi itu. Selanjutnya, kedua terdakwa sepakat untuk membuang bayi perempuan tersebut dengan alasan belum menikah.

“Saya masukkan bayi ke dalam koper merek polo, bersama demgan satu helai kain jilbab warna biru, satu helai kain jilbab warna hijau. Kemudian foto kami berdua,” kata Doni memambahkan.

Doni mengatakan setelah bayi di masukkan ke dalam koper, sekitar pukul 05.00 WIB, keduanya pun pergi dengan menggunakan sepeda motor membawa bayi tersebut. Sesampainya di simpang jalan Panti Asuhan Hizbut Wathani Perumahan Villa Paradiase, Batuaji, koper yang di dalamnya ada bayi diletakkan di tengag jalan dengan tujuan ada orang yang menemukan.

“Saya berdua terus memantau dari jauh, melihat bayi saya yang diletakkan dalam koper itu aman. Sekitar pukul 06.45 WIB, ada seorang warga menemui anak bayi saya. Setelah itu baru saya dan Ice beranjak pulang,” katanya.

Setelah ramai tersebar bayinya ditemukan warga di media massa dan medsos. Terdakwa pun timbul rasa kasihan terhadap bayi yang dibuangnya itu. Sehingga terdakwa pun menghubungi keluarganya yang ada di Batam menceritakan masalah mereka berdua.

“Keluarga yang saya hubungi menyarankan untuk menyerahkan diri. Akhirnya saya dan Ice pun menyerahkan diri ke Polsek Batuaji,” kata Doni.

Selanjutnya, sebelum perkaranya dilmpahkan ke kejaksaan, kedua terdakwa menikah. Pernikahan itu karena permintaan orangtua dan keluarga.

Polsek Batuaji pun memberikan kesempatan untuk keduanya melangsungkan pernikahan secara sederhana di Musalah Nurul Patah yang berada belakang Mapolsek Batuaji, sekitar pukul 11.00 WIB, Kamis (22/2/2018).

Resepsi akad nikah dipimpin Ustad dari Kantor Urusan Agama (KUA) Sekupang.

Sementara pihak keluarga, Kapolsek Batuaji Kompol Sujoko beserta anggota anggota Polsek Batuaji menjadi saksi pernikahan tersebut. Usai dilangsungkan akad nikah, keduanya kembali menjalani hukuman di balik jeruji Polsek Batuaji saat itu. (*)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY