BERBAGI
Ilustrasi token listrik | Foto : Bae

CENTRALBATAM.CO.ID, -BINTAN, Alasan banyaknya perusahaan yang hengkang di Bintan tidak banyak yang tahu. Misalnya pada tahun 2013 dikabarkan sebanyak 50 persen perusahaan kawasan Industri Lobam, gulung tikar alias tutup karena tidak lagi sanggup membayar biaya operasional yangbterlalu tinggi.

Kemudian pada bulan September tahun 2015 sebuah perusahaan di kawasan yang sama yakni PT Rikoning yang bergerak di bidang funiture juga dikabarkan tutup.

Tutupnya beberapa perusahaan ini dikenal hanya sebatas bangkrut. Sementara alasan bangkrut tidak pernah diketahui secara jelas.

Berdasarkan hasil investigasi khusus yang dilakukan terhadap salah satu pengusaha Resorts di Kawasan Lagoi, Moe Ibrahim mengatakan, alasan utama perusahaan di Bintan karena tingginya biaya operasional khususnya listrik.

Ia menjelaskan, untuk kawasan Industri Lobam dan Lagoi bay listrik tidak disuplay oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Melainkan disuplay oleh PT Bintan Cakrawala Resorts (BRC) dengan harga yang terlalu tinggi. Dimana harga yang dibebankan pada pengusaha tidak sesuai dengan tarif yang ditentukan oleh PLN yakni Rp.1,100/ kwh.

“Mereka (BRC) membebankan kami sebesar Rp.3000/kwh. Dan sepengetahuan saya, hotel dan Resorts di kawasan Lagoi bay umumnya dibebankan sebesar Rp.2.900/kwh,” ujar Moe Ibrahim ditemui di Bintan Lagoon Resorts milik di Kawasan Lagoi bay, Minggu (2/9/2016)

Ia menambahkan akibat beban listrik yang terlalu tinggi ini membuat harga berbagai fasilitas di Reosorts miliknyanter paksa di naikan. Akibatnya banyak tamu yang mengeluh dan enggan datang ke Bintan karena beranggapan biaya hotel/resorts di Bintan terlalu mahal. Sementara jika tidak dinaikan maka usaha yang ia bangun bisa bangkrut karena beban listrik per bulan mencapai Rp.2,5 milliar.

“Biaya untuk listrik saja Rp.2,5 milliar loh. Belum lagi gaji karyawan yang jumlahnya hampir 700 orang. Jadi kalau tidak dinaikan pastinya usaha kami bangkrut,” jelasnya.

Ia menambahkan, dirinya tidak keberatan jika BRC sebagai penyedia listrik mematok harga lebih tinggi dari haraga PLN. Namun ia juga berharap agar tidak terlalu jauh dari harga yang ditentukan oleh PLN.

“Saya tidak keberatan jika harganya naik 50 hingga 75 persen. Tapi ini malah naiknya hingga 300 persen. Jelas ini membuat kami sangag menderita karena terlalu tinggi biaya operasional,” akunya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY