Alquran merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Selain menjadi petunjuk, Alquran juga menjadi pedoman hidup umat manusia. Oleh sebab itu, Alquran itu bersifat antropologis dalam arti sangat dekat dengan manusia.
Dalam Al Baqarah 185 Allah berfirman;
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
Syifa’ li ma fi al shudur (obat atau penawar penyakit yang ada dalam hati manusia). Allah berfirman dalam surat Yunus 57 berbunyi;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”
Rahmatan li al mu’minin (rahmat bagi orang-orang beriman). Allah berfirman dalam surat Bani Israil (Al Israa) 82, berbunyi;
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”
Sebagai muslim kita harus berusaha untuk mendapat petunjuk Allah melalui Alquran, sehingga kita dapat hidup di bawah bimbingan dan petunjuk-Nya. Menurut Sayyid Qutub, untuk mendapat petunjuk dan pencerahan hati dari Alquran itu secara konsisten, al ma’rifah ’ala thariq almustaqin.
Usaha itu harus secara sungguh-sungguh dilakukan sebab tanpa itu, pencerahan alquran (cahaya Ilahi) tidak dapat masuk ke dalam hati nurani manusia. Menurut Imam Al Ghazali, ada faktor-faktor yang dapat menghambat masuknya cahaya illahi ke dalam hati manusia;
(1). Al dzunub wa al ma’ashi (dosa-dosa dan maksiat). Dosa-dosa adalah sebagai penghalang atau tabir yang akan menjauhkan manusia dari Allah. Semakin banyak orang berbuat dosa, maka semakin tebal dinding yang menghalangi dirinya dengan Allah. Ketika itu, cahaya Allah tidak dapat masuk ke dalam jiwanya karena terhalang oleh kabut dosa
(2). Berhala-berhala kehidupan. Berhala adalah sesuatu yang dipertahankan oleh manusia atau mendominasi manusia sehingga lupa kepada Allah. Setiap zaman, kata Al Ghazali, memiliki berhala-berhalanya sendiri yang disembah dan dipertuhankan oleh manusia selain Allah. Pada masa nabi Muhammad dulu, berhala-berhala itu berupa Lata, Uzza, dan Manata. Pada zaman sekarang, berhala-berhala itu bisa berupa tahta, harta, dan wanita. Berhala-berhala tersebut telah membuat manusia lalai dan lupa kepada Allah. Jadi berhala-berhala itu telah menjadi penghalang yang efektif bagi masuknya cahaya Allah ke dalam jiwa manusia.
Untuk menghilangkan faktor-faktor masuknya pencerahan Allah tersebut dan agar manusia dapat menerima pencerahan, maka manusia harus melakukan;
(1). Taubat, dosa-dosa yang selama ini menjadi penghalang dapat kebersihan sehingga diharapkan pencerahan dapat berlangsung
(2). Memperkuat komunikasi dan hubungan dengan Allah. Komunikasi dan hubungan ini dibangun dengan memperbanyak ibadah dan mengingat kepada Allah (dzikrullah), sehingga hubungan manusia yang selama ini renggang karena berhala-berhala kehidupan dapat menguat kembali dan terjadi pencerahan seperti sedia kala
(3). Keimanan dan ketakwaan, keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan semesta alam, sumber dari segala sesuatu dan tempat kembali atas segala sesuatu
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (QS. Al An’am 162-163).
Dengan demikian, pencerahan Allah itu dapat berlangsung manakala kita sebagai muslim selalu berpegang kepada petunjuk Allah, meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa/kemaksiatan dan memperbanyak amal saleh. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita meraih ketakwaan dan bisa meninggalkan kemaksiatan serta dosa-dosa. Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami, orangtua kami, dan guru-guru kami, aamiin.

