Salat berjamaah di masjid selama 55,5 tahun di luar tanah suci tanpa putus diyakini bisa menyamai seorang yang sekali salat dua rakaat berjemaah di Masjidil Haram di Makkah al Mukaramah Arab Saudi. Terlebih jika mereka bersedia melakukan ibadah pada bulan Ramadan.
Insya Allah pahalanya akan dilipatkan menjadi beratus-ratus ribu kali lipat. Perhitungannya sangat sederhana. Berdasarkan hadis Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam diterangkan apabila salat di Masjidil Haram Mekkah pahalanya dilipatkan 100.000 kali, di Masjid Nabawi Madinah 1.000 kali, dan di Masjidil Aqsha Palestina 500 kali.
Dari Jabir, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ
“Salat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1.000 salat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Salat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 salat di masjid lainnya” (HR. Ahmad 3/343 | Ibnu Majah Nomor 1406).
Misalnya seorang muslim melakukan sekali salat Subuh berjemaah maka pahalanya 27° dikalikan 100.000 kali sehingga jumlahnya menjadi 2.700.000°. Sedangkan jika mereka salat di luar Masjidil Haram, yakni Masjid Nabawi maka akan menerima 270.000° dan salat di Masjidil Aqsha 135.000°.
Dalam riwayat hadis Muslim disebutkan salat di Masjid Nabawi itu lebih baik daripada 1.000 salat di tempat lain kecuali di Masjid Al Haram. Jika mereka salat di luar tiga masjid itu secara berjemaah maka pahalanya hanya 27°. Dalam sehari, umat muslim diwajibkan salat berjemaah sebanyak lima waktu, yakni Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, dan Isya.
Jika salat di masjid biasa dalam sehari akan mendapatkan pahala 135°, sebulan 4.050°, dan setahun 48.600°. Apabila salat di Masjidil Haram pahalanya 2.700.000° dibagi 48.600° maka diperoleh jumlah (sekira) 55,5 tahun. Maksudnya, jika seseorang akan menyamai orang muslim yang sekali melakukan salat Subuh dua rakaat di Masjidil Haram maka dirinya harus salat berjamaah 5 waktu selama 55,5 tahun berjemaah di masjid tanpa putus.
Bukan hanya salat berjemaah saja yang akan diberikan ganjaran sebesar ini. Melainkan mereka yang berpuasa di tanah suci maka pahalanya seperti berpuasa selama 100.000 hari. Sehingga apabila mereka mendapatkan 10 hari puasa Ramadan di tanah suci secara otomatis pahalanya sebagaimana orang-orang yang melakukan puasa sepanjang 1.000.000 hari.
Allah mengistimewakan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dengan beberapa keistimewaan yang tidak diberikan di masjid selainnya. Maka setiap orang yang mengerjakan kebaikan akan diberikan balasannya 100.000 kali lipat. Dan siapa yang melakukan dosa (kemaksiatan) maka dosanya jauh lebih besar dibandingkan dosa yang dikerjakan di tempat lainnya.
Dengan demikian, siapapun yang berada di tanah suci, baik dia umrah atau haji pasti tidak akan berani melakukan kemaksiatan karena risikonya sangat jelas. Jangankan dilakukan secara lahir, seseorang yang akan berniat jelek di lokasi tanah suci maka Allah langsung membalasnya. Contoh yang sering terjadi adalah seseorang yang merasa dirinya hebat maka balasan akan menimpanya bertubi-tubi.
Berdasarkan pengalamannya mengurusi jemaah umrah dan haji, banyak dari mereka yang tersesat pulang ke pemondokan atau hotelnya. Hal ini dikarenakan orang tersebut merasa lebih pintar dan hafal, yakni mengaku paham dengan jalanan menuju ke hotelnya. Kenyataannya, setelah orang tersebut mengatakan itu, Allah langsung menyesatkan orang tersebut berjam-jam dan tidak berjumpa dengan hotelnya.
Banyak jemaah yang tersesat saat hendak pulang menuju ke hotelnya setelah mereka salat di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram. Padahal hotel yang ditinggalinya hanya berjarak 100-an meter. Akan tetapi karena ada rasa sombong (takabur) dan riya’ maka penglihatan mereka ditutup sama Allah sehingga untuk pulang menuju hotel yang jaraknya dekat tidak pernah bertemu.
Ada salah satu pengakuan salah seorang jemaah, dirinya pernah menerima pengalaman pahit sewaktu umrah pada akhir Juni 2011 lalu. Kisahnya, AHM berprofesi sebagai nakhoda kapal kargo luar negeri. AHM menceritakan pengalamannya selama berada di dalam kapal bahwa seluruh benda terkecil apapun bisa dipantau dengan radar dan kompas.
Kala itu, dua puluh meter sebelum keluar halaman Masjid Nabawi, AHM mengatakan jika menggunakan penunjuk arah maka hotel yang dituju berada di sebelah barat masjid. Setelah AHM mengatakan hal itu, selama dua jam hotel Dar Al Eiman Grand Hotel di Off Siteen Street Central Area Madinah tempat tinggalnya tidak pernah ditemuinya. Allah sesatkan berjam-jam.
Setelah mereka mengucap istighfar (tobat) barulah berjumpa hotelnya. Subhanallah. Tiga jam lebih berputar-putar mencari hotel namun tidak menjumpainya. Bahkan AHM bertanya kepada polisi dan orang-orang setempat, mereka pun menunjukkan arah hotelnya. Tetapi saat didatanginya, hotel tersebut tidak terlihat.
Setelah memohon ampun kepada Allah, hotel yang dicari sudah berada di depan mereka bersimpuh. Untuk itu, sebelum berangkat umrah atau haji biasanya para ustaz sudah menyampaikan nasihatnya sejak awal manasik (simulasi) umrah atau haji. Pada kesempatan itu, umumnya jemaah diminta untuk menjaga hati, pikiran, lisan, dan perbuataannya masing-masing selama berada di tanah suci.
Salah satunya untuk membersihkan hati dengan memperbanyak membaca istighfar. Oleh sebab mereka para tetamu Allah maka harus bersih lahir dan batinnya. Maka sebelum menjadi tamu Allah sebaiknya disucikan dulu. Di tanah haram tidak boleh mencampuradukkan dengan perbuatan yang dilarang syariat.

