Bagaikan sayur tanpa garam. Begitulah ungkapan yang sering kita dengar apabila sepuluh hari terakhir pada Ramadan tidak mengerjakan i’ktikaf. Sekiranya tidak dicontohkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka nabi tidak akan meninggalkan istrinya dan keluarganya untuk i’tikaf selama sepuluh hari.
Berdasarkan dalil yang kuat, i’tikaf memiliki tujuan agung, yakni untuk menjemput malam lailatul qadar. Keutamaan ibadah yang dilakukan dalam lailatul qadar adalah lebih baik daripada 1.000 bulan. Salah satu tujuan i’tikaf itu untuk menggapai malam lailatul qadar.
Yang paling utama jika i’tikaf dilakukan pada sepuluh hari terakhir dari di bulan Ramadan. Malam ini, Selasa 5 Juni 2018 adalah malam ke-21 Ramadan 1439 Hijriah. Mudah-mudahan kita diberikan jalan untuk melakukan ibadah i’tikaf tersebut demi mencontoh sunah Nabi Muhammad.
Hadis yang disebutkan Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom nomor 699 tentang permasalahan i’tikaf.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat (Muttafaqun ‘Alaih | HR. Bukhari No. 2026 | HR. Muslim No. 1172).
Dari penjelasan hadis di atas adalah anjuran i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam terus merutinkan hal ini sampai beliau meninggal dunia. Hikmah dikhususkan sepuluh hari terakhir dengan i’tikaf dapat dilihat pada hadis Abu Sa’id Al Khudri di mana nabi bersabda;
« إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ ». فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ
Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadan yang pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar pada malam tersebut. Kemudian aku beri’tikaf di pertengahan bulan, aku datang dan ada yang mengatakan padaku bahwa lailatul qadar itu di sepuluh hari yang terakhir. Siapa saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah. Lalu di antara para sahabat ada yang beri’tikaf bersama beliau (HR. Bukhari No. 2018 | Muslim No. 1167).
I’tikaf itu disyari’atkan setiap waktu, namun lebih ditekankan lagi selama bulan Ramadan. Lebih utama pada sepuluh hari terakhir dari bulan suci tersebut. Hukum i’tikaf masih tetap berlaku dan tidak terhapus, juga bukan khusus untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam saja, karena istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat.
Dibolehkannya i’tikaf bagi wanita. Jumhur atau mayoritas ulama mengatakan bahwa disunnahkan bagi para wanita untuk beri’tikaf sebagaimana kaum pria. Namun dengan syarat: (1) i’tikaf tersebut dilakukan dalam keadaan suci, bagi ulama yang menyaratkan masuk masjid harus suci dari haidh, (2) harus bebas dari menimbulkan fitnah (godaan bagi pria), dan (3) diizinkan oleh suami. Semoga Allah selalu memberi taufik kepada kita agar mudah untuk i’tikaf.

