BERBAGI
Baliho antiriba dipasang di jalan raya di Kota Cilacap Jawa Tengah.

Menjelang akhir Ramadan 1439 Hijriah banyak hal yang dilakukan seseorang untuk mengeruk keuntungan tanpa memperhatikan syariat. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan lebaran. Padahal hakikat lebaran bukan pada sandang dan papan yang bagus melainkan jiwa dan raga yang suci setelah 30 hari puasa.

Salah satu yang sering dilakukan orang menjelang hari raya adalah usaha (membisniskan) peminjaman uang dengan berharap pengembalian yang lebih (bunga). Itulah yang disebut dengan riba. Ancaman pemakan riba atau orang yang memanfaatkan uang hasil riba dirinya akan dibangkitkan dari kuburnya pada hari kiamat seperti orang yang kesurupan setan lantaran gila.

Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran tekanan gila” (QS. Al Baqarah 275)

Apa yang dimaksud dengan ayat ini? Ayat di atas dimaksudkan ketika dibangkitkan dari alam kubur. Ibnu Katsir berkata orang yang memakan (mengambil) riba akan bangkit dari kubur mereka pada hari kiamat seperti orang yang terkena ayan (epilepsi) saat berdiri, di mana dia bertindak serampangan karena kerasukan setan. Saat itu dia berdiri sangat sulit.

Ibnu ‘Abbas berkata pemakan riba akan bangkit pada hari kiamat dalam keadaan gila dan mencekik dirinya sendiri. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan itulah keadaan yang buruk bagi orang yang memakan riba (lintah darat dan rentenir). Orang yang memakan riba tidak dapat berdiri dari kuburnya pada hari kebangkitan melainkan seperti orang yang kerasukan yang nampak gila.

Bahwasanya riba itu haram dan masuk dosa besar. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافاً مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ . وَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka yang disediakan untuk orang-orang yang kafir (QS. Ali Imran 130)

Tentang sebab turunnya ayat di atas, mujahid mengatakan orang-orang Arab sering mengadakan transaksi jual beli tidak tunai. Jika jatuh tempo sudah tiba dan pihak yang berhutang belum mampu melunasi maka nanti ada penundaan waktu pembayaran dengan kompensasi jumlah uang yang harus dibayarkan juga menjadi bertambah maka Allah menurunkan firman itu.

Riba yang dipraktikkan seseorang saat ini jauh lebih zalim dan lebih besar dosanya dari pada jahiliah yang Allah haramkan dalam ayat ini dan beberapa ayat lain di surat Al Baqarah. Buktinya jika seseorang memberikan hutang kepada kita sebanyak Rp 2 juta maka seketika itu dia menetapkan bahwa kewajiban orang tersebut harus membayar pengembalian Rp 2,4 juta. Ada kelebihan Rp 400 ribu atas pembayaran hutang pokok tersebut.

Jika orang tersebut tidak bisa membayar tepat pada waktunya maka jumlah total yang harus dibayarkan menjadi bertambah (denda) sehingga bisa berlipat-lipat dari jumlah hutang sebenarnya. Coba bandingkan dengan riba jahiliah! Pada masa jahiliah nominal hutang tidak akan bertambah sedikit pun jika pihak yang berhutang bisa melunasi hutangnya pada saat jatuh tempo.

Dalam riba jahiliah hutang akan berbunga atau beranak jika pihak yang berhutang tidak bisa melunasi hutangnya tepat pada saat jatuh tempo lalu mendapatkan penangguhan waktu pembayaran. Boleh jadi ada orang yang berpandangan bahwa riba yang tidak berlipat ganda itu diperbolehkan karena salah paham dengan ayat yang menyatakan ‘janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda’.

Jangan pernah terpikir demikian karena hal itu sama sekali tidak benar. Ayat di atas cuma menceritakan praktik para rentenir pada masa jahiliah lalu Allah mencela mereka karena ulahnya tersebut. Sedangkan setelah Allah mengharamkan riba maka semua bentuk riba, Allah haramkan tanpa terkecuali, tidak ada bedanya antara riba dalam jumlah banyak atau dalam jumlah yang sedikit.

Sabda Rasulullah:

دِرْهَمٌ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلَاثِينَ زَنْيَةً

“Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan mengetahui bahwa itu adalah uang riba dosanya lebih besar daripada berzina sebanyak 36 kali” (HR. Ahmad No. 3375)

Dalam hadis di atas dengan tegas nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan bahwa uang riba (kelebihan pembayaran dari pokok) itu haram meski sangat sedikit yang nabi ilustrasikan dengan satu dirham. Walau sedikit, nabi katakan lebih besar dosanya jika dibandingkan dengan berzina berulang kali. Jadi hadis ini menunjukkan bahwa uang riba atau kelebihan pokok pinjaman (bunga) itu tidak ada bedanya baik sedikit apalagi banyak.

Ayat ini berada di antara ayat-ayat yang membicarakan perang Uhud. Sebabnya menurut penjelasan Imam Qurthubi adalah karena dosa riba adalah satu-satunya dosa yang mendapatkan maklumat perang dari Allah sebagaimana dalam surat Al Baqarah 278-279;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba yang belum dipungut jika kalian orang-orang yang beriman. Jika kalian tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian. Dan jika kalian bertaubat dari pengambilan riba maka bagi kalian pokok harta kalian, kalian tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya” (QS. Al Baqarah 278-279)

Sedangkan perang itu identik dengan pembunuhan. Ayat ini menjelaskan seakan-akan Allah hendak mengatakan bahwa jika kalian tidak meninggalkan riba maka kalian akan kalah perang dan kalian akan terbunuh. Oleh karena itu Allah perintahkan kaum muslimin untuk meninggalkan riba yang masih dilakukan banyak orang saat itu.

Kemudian Allah ta’ala berfirman bertakwalah kamu kepada Allah’ yaitu terkait dengan harta riba dengan cara tidak memakannya. Al Falah atau keberuntungan dalam bahasa Arab adalah bermakna mendapatkan yang diinginkan dan terhindar dari yang dikhawatirkan. Oleh karena itu keberuntungan dalam pandangan seorang muslim adalah masuk surga dan terhindar dari neraka.

Surga adalah keinginan setiap muslim dan neraka adalah hal yang sangat ditakuti. Ayat ini menunjukkan bahwa keberuntungan itu akan didapatkan oleh orang yang bertakwa dan salah satu bukti takwa adalah menghindari riba. Memiliki sandang baru dan papan yang layak selepas Ramadan 1439 H merupakan impian setiap orang. Termasuk saya pribadi. Bukankah begitu?

Bagi orang lain yang belum tahu syariat, untuk mewujudkan kebutuhan sandang atau papan yang ekstra instan saat ini hanya tersisa dengan satu pintu. Yakni menggunakan fasilitas kredit (meminjam) dengan instrumen yang ditawarkan dengan skema lebih. Maksudnya pinjaman dana dengan pengembalian lebih.

Kini kita melihatnya dari syariat Islam, karena hal ini akan menyelamatkan hidup kita di dunia dan akhirat. Penyaluran dana atau pinjaman uang dalam masyarakat biasanya melibatkan tiga pihak. Yakni kita sebagai debitur (nasabah), kreditur (pendana/donatur), dan saksi-saksi saat transaksi.

Sabda Rasulullah:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba, kata beliau: semuanya sama dalam dosa” (HR. Muslim No. 1598).

Setelah melalui proses administrasi yakni menyerahkan fotokopi KTP/KK atau sertifikat atau BPKB/STNK atau motor/mobil sebagai jaminan. Biasanya kita dikenakan potongan administrasi sekian persen dengan dalih biaya ini dan itu. Setelah itu baru diberikan total pinjaman yang diajukan oleh kita dengan potongan yang disepakati di awal. Begitulah instrumen yang selama ini terjadi dalam praktik ribawi.

Membiayai atau mengutangi, pada praktiknya dengan memungut keuntungan dari nasabah maka tidak diragukan lagi, keuntungan semacam ini haram karena RIBA. Haramnya keuntungan yang dipersyaratkan dalam akad utang piutang adalah konsensus ulama dan telah dituangkan dalam kaidah ilmu fiqih berikut:

وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ فَهُوَ حَرَامٌ ، بِغَيْرِ خِلَافٍ

“Setiap utang yang dipersyaratkan ada tambahan, maka itu adalah haram. Setiap piutang yang mendatangkan keuntungan maka itu adalah riba (HR. Bukhari)

Mandi di Sungai Darah

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِى ، فَأَخْرَجَانِى إِلَى أَرْضٍ مُقَدَّسَةٍ ، فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى نَهَرٍ مِنْ دَمٍ فِيهِ رَجُلٌ قَائِمٌ ، وَعَلَى وَسَطِ النَّهْرِ رَجُلٌ بَيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ ، فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ الَّذِى فِى النَّهَرِ فَإِذَا أَرَادَ الرَّجُلُ أَنْ يَخْرُجَ رَمَى الرَّجُلُ بِحَجَرٍ فِى فِيهِ فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ ، فَجَعَلَ كُلَّمَا جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى فِى فِيهِ بِحَجَرٍ ، فَيَرْجِعُ كَمَا كَانَ ، فَقُلْتُ مَا هَذَا فَقَالَ الَّذِى رَأَيْتَهُ فِى النَّهَرِ آكِلُ الرِّبَا

Dari Samurah bin Jundub, dia berkata Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tadi malam aku bermimpi ada dua laki-laki yang mendatangiku, keduanya membawaku ke kota yang disucikan. Kami berangkat sehingga kami mendatangi sungai darah. Di dalam sungai itu ada seorang laki-laki yang berdiri. Dan di pinggir sungai ada seorang laki-laki yang di depannya terdapat batu-batu. Laki-laki yang di sungai itu mendekat, jika dia hendak keluar, laki-laki yang di pinggir sungai itu melemparkan batu ke dalam mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula. Setiap kali laki-laki yang di sungai itu datang hendak keluar, laki-laki yang di pinggir sungai itu melemparkan batu ke dalam mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula. Aku bertanya: “Apa ini?” Dia menjawab: “Orang yang engkau lihat di dalam sungai itu adalah pemakan riba” (HR. Bukhari)

Kekal di Neraka Jika Tidak Tobat

Allah Azza Wa Jalla berfirman:

ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan (riba) dari Rabbnya, lalu terus berhenti dari mengambil riba, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu sebelum datang larangan; dan urusannya terserah kepada Allah. Orang yang kembali mengambil riba, maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (QS. Al Baqarah 275)

Jadi apakah kita masih ingin praktik ribawi yang dilaknat Allah dan rasul-Nya? Semoga kita dihindarkan Allah dari praktik riba dan jika terjerembab dalam riba segera memohon ampun sama Allah agar diselamatkan. Ya Allah lindungi hamba-Mu dari jerat riba, rentenir, atau calo transaksi riba, aamiin.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY