BERBAGI

Apabila kita ditanya siapakah orang yang paling kaya di dunia? Tentu saja kita akan berfikir sejenak dan menjawab bahwa orang yang kaya adalah mereka yang memiliki harta berlimpah, rumah di mana-mana, mobil lebih dari lima, punya jet atau pesawat pribadi, kapal pesiar, atau ukuran kebendaan lainnya versi manusia.

Tidak heran jika ada sebuah kelompok yang menyusun daftar nama-nama orang paling kaya sedunia. Kelompok itu menulis nama-nama orang paling kaya dengan jumlah harta yang sudah dihitungnya. Bagi manusia hal ini sangat wajar. Sebab ukuran kekayaan memang dilihat dan dinilai dengan ukuran kebendaan.

Padahal jika kita tahu, sebenarnya orang yang terkaya di dunia adalah diri kita sendiri. Hanya saja, ukuran jumlah kekayaan kita dengan cara syariat. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda;

“Kekayaan tidaklah diukur dengan banyaknya harta, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kaya hati sering diistilahkan qana’ah (menerima apa adanya) yang berarti menerima dan ikhlas berapa pun yang sudah ditakdirkan oleh Allah. Ada, tidak ada, sedikit, atau banyak yang diterimanya tidak pernah dikeluhkannya atau dicacinya.

Apabila dia menerima rezeki berlimpah akan bersyukur dan berbagi dengan mereka yang sedang kesusahan. Sedangkan jika tidak mendapat apa-apa dirinya bersabar dan tidak mengumpat. Jika diri kita sudah bisa mengondisikan hati dengan tenang dan pikiran lapang, maka kita merupakan orang yang terkaya di dunia lahir maupun batin. Karenanya keberuntungan akan senantiasa menyertai hidup kita.

Sebagaimana janji Nabi Muhammad; “Beruntunglah orang yang berislam, dikaruniai rezeki yang cukup, dan dia dijadikan menerima apa pun yang dikaruniakan Allah (kepadanya)” (HR. Muslim).

Atas dasar ukuran syariat, orang yang memiliki pendapatan Rp50.000,00 atau Rp0,00 per hari merupakan orang yang paling kaya dibandingkan seseorang yang berpenghasilan Rp1.000.000,00 atau lebih per hari yang dikategorikan orang termiskin.

Alasannya, mereka yang pendapatannya cukup senantiasa syukur sehingga hatinya tenang dan pikirannya lapang. Sementara tipe orang yang berpenghasilan Rp1.000.000,00 per hari atau lebih tergolong miskin atau bahkan fakir. Sebab dirinya tidak bersyukur, hanya bisa mengumpat, dan merasa kurang walaupun uang yang didapatkannya banyak.

Bisa kita lihat di sekeliling kita, betapa bahagianya mereka yang terlihat sangat hina, kumuh, atau miskin, namun hati dan pikirannya justru tenteram karena rasa syukurnya. Mungkinkah seseorang yang tidak berpenghasilan atau hanya berpenghasilan Rp0,00 berkecukupan sementara dirinya harus menafkahi istri, anak-anaknya, atau kerabat yang ditanggungnya? Yakin sangat bisa. Itulah jawabannya.

Sebab keberkahan Allah dilimpahkan dalam hartanya, sehingga walau menurut ukuran manusia normal tidak cukup namun Allah cukupkan dengan rahmat-Nya dan keberkahan dalam harta itu. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam;

“Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dia telah memiliki dunia seisinya” (HR. Tirmidzi).

Oleh karena itu, salah satu cara sukses membentuk jiwa yang menerima apa adanya (qana’ah) adalah dengan melatih diri untuk menyadari seyakin-yakinnya bahwa rezeki hanyalah di tangan Allah. Kemudian yang sudah kita dapatkan telah dicatat (takdir) oleh Allah. Sehingga tidak akan mungkin melebihi apa yang sudah ditentukan-Nya, walaupun diri kita siang dan malam bekerja dengan pontang-panting.

Allah berfirman: “Tidak ada satupun makhluk bergerak (bernyawa) di muka bumi ini melainkan semuanya dijamin rezekinya oleh Allah” (QS. Hud 6).

Rasulullah berpesan melalui hadisnya: “Sesungguhnya, seseorang di antara kalian tidak akan mati kecuali setelah dia mendapatkan seluruh rezeki (yang Allah takdirkan untuknya) secara sempurna. Maka, janganlah kalian bersikap tidak sabar dalam menanti rezeki. Bertakwalah kepada Allah, wahai manusia. Carilah rezeki secara proporsional, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram” (HR. Al Hakim).

Sebagai suatu ciri khas yang sangat terpuji, qana’ah akan menumbuhkan sifat-sifat positif lainnya. Pertama qana’ah akan menjadikan seseorang tidak mudah tergiur untuk memiliki harta yang dimiliki orang lain. Dia selalu merasa cukup dengan apa yang telah dimilikinya sehingga dia selalu hidup dalam ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian batinnya. Dia tidak pernah iri dan dengki dengan kelebihan yang diberikan kepada orang lain.

Karakter istimewa ini yang Allah catat sebagai salah satu perangai para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tatkala Allah menceritakan kondisi mereka (sahabat-sahabat) yang fakir;

“Orang lain yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya, karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (wahai Muhammad), mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta dengan cara mendesak kepada orang lain” (QS. Al Baqarah 273).

Kedua, qana’ah menempa jiwa seseorang untuk tidak mengadu tentang kesusahan hidupnya melainkan hanya kepada Allah Yang Mahakaya. Inilah salah satu tingkatan tawakal tertinggi yang telah dicapai oleh para nabiyullah. Sebagaimana yang Allah ceritakan tentang Nabi Yakub ‘alaihis Salam;

“Dia (Yakub) berkata: ‘Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku” (QS. Yusuf 86).

Mengapa para kekasih Allah hanya mengadu kepada-Nya? Karena keyakinan mereka yang begitu mendalam bahwa dunia seisinya tidak lain hanyalah kepunyaan Allah. Lantas mengapa tidak meminta saja kepada Yang Maha Memiliki segalanya dan kenapa harus meminta kepada zat yang apa yang dimilikinya tidak lain hanyalah bersumber dari Yang Maha Memiliki?

Rata-rata, kita masih lebih suka mengetuk pintu para makhluk sebelum mengetuk pintu Sang Khalik. Karena itulah, para ulama mengingatkan siapakah di antara kita yang meminta kebutuhannya kepada Allah sebelum dia memintanya kepada manusia?

Apakah qana’ah berarti tidak bekerja dan ikhtiar? Jangan kita memahami sebagian bahwa kita tidak perlu bekerja dengan alasan qana’ah. Sehingga, cukup duduk berpangku tangan di rumah, dengan dalih kalaupun sudah saatnya hujan emas, niscaya akan turun juga. Bukan, qana’ah tidaklah seperti itu, karena qana’ah maksudnya seorang hamba bekerja semampunya dan memperhatikan rambu-rambu syariat.

Setelah itu, berapapun hasil yang didapatkan dari kerjanya, diterimanya dengan penuh rasa rida dan tidak boleh menggerutu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hakikat tawakal dan korelasinya dengan ikhtiar, dalam sebuah perumpamaan yang sangat detail.

“Andaikan kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya kalian akan mendapatkan rezeki sebagaimana burung memperoleh rezeki. Dia pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong, lalu pulang di sore harinya dalam keadaan perut kenyang” (HR. Tirmidzi).

Ya, tentunya supaya burung bisa memenuhi perutnya, ia harus mencari nafkah. Inilah tawakal yang sebenar-benarnya yakni berusaha atau berikhtiar kemudian hasilnya diserahkan kepada Allah. Sesungguhnya Nabi Muhammad telah bersabda bahwasanya sebaik-baik usaha adalah usaha perdagangan. Hadis ini dengan tegas menyebutkan bahwa profesi terbaik menurut Nabi Muhammad adalah perdagangan.

Ada seseorang bertanya: “Penghasilan apakah yang paling baik, wahai rasulullah? Beliau menjawab: “Penghasilan seseorang dari jerih payah tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur” (HR. Ahmad di dalam Al Musnad Nomor 16628).

Nabi Muhamad dan para sahabat tidak hanya mengajarkan konsep menjadi kaya tapi sudah memberi contoh yang sangat jelas dan detail agar kita cepat kaya dengan cara Islam yaitu dengan berdagang atau menjadi pengusaha. Sebab Nabi Muhammad dan para sahabatnya merupakan pedagang ulung. Sebelum marketing modern ada, berabad-abad yang lalu Nabi Muhammad sudah mengajarkan brand image, brand equity, customer satisfaction, business dengan hati, green marketing, atau marketing innovation.

Bisnis Cara Nabi Muhammad

1. Tidak boleh menjual barang haram

Dari ‘Amir dari Abdullah bin Nu’man bin Basyir beliau berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang subhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap subhat berarti dia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara subhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembala hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati (HR. Al Bukhari dan Muslim)

2. Tidak boleh merusak lingkungan (green marketing)

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya. Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran (Al Hijr 19)

3. Tidak boleh menipu pembeli dengan barang cacat atau rusak (customer satisfaction)

Barangsiapa menipu (orang lain) maka bukan termasuk golongan kami (umat Islam) (HR. Muslim I/69 nomor 45)

4. Tidak boleh mengurangi hak-hak pembeli (brand equity atau perlindungan konsumen)

5. Tidak boleh cepat patus asa dalam berdagang. Tidak akan diubah nasib suatu kaum kalau mereka sendiri tidak berubah (marketing innovation)

6. Brand Nabi Muhamad di lingkungan kaum Quraisy terkenal kejujurannya “Al Amin” yang merupakan brand image yang luar bisa kuat untuk modal berbisnis

7. Nabi Muhammad juga mengajarkan kita untuk cepat kaya dengan investasi yang aman dan menguntungkan. Yaitu investasi tanah atau rumah (dikontrakan atau dibuat perumahan) atau investasi emas. Sampai saat ini harga tanah atau rumah atau emas selalu naik

Nabi Muhammad mengajarkan agar cepat kaya, kita disuruh berniaga dengan Allah, berdagang dengan Allah mudah, tidak butuh modal dan pasti cepat kaya. Bagaimana caranya berniga dengan Allah, seperti ini aturan mainnya;

1. Puasa Dawud atau Senin Kamis
2. Salat tahajjud (walaupun hanya dua rekaat tapi harus rutin setiap malam
3. Kalau kita ingin membuat usaha berskala besar maka kita harus meminta izin dan datang ke otoritas setempat agar dapat proyek besar. Demikian juga kalau kita mau berdagang dengan Allah tanpa modal apa-apa tentunya kita harus menghadap kepada Allah tepat waktu (salat fardhu) agar kita menjadi prioritas pertama diberi proyek. Sebab yang antre ada jutaan orang karena setiap pagi pukul 03.00 WIB sampai jam 19.00 WIB kita mengantre salat fardhu dan sunat. Jika semua manusia di muka bumi ini menjadi konglomerat semua, tidak akan mengurangi sedikitpun kekayaan Allah, mengapa kita tidak mau melobi dengan yang punya bumi dan langit dengan salat dan ibadah?
4. Zikir untuk ingat dan selalu bersyukur
“Bersyukurlah kamu niscaya nikmatmu akan Aku tambah (Ibrahim 6). Mengapa kita tidak bersyukur agar kita cepat kaya atau bertambah kaya
5. Berangkat haji dan umrah
“Carilah dunia maka kamu hanya akan mendapatkan dunia saja, carilah akhiratmu maka kamu akan mendapatkan keduanya yaitu dunia dan akhirat. Jika waktu, tenaga, pikiran dan dana kita digunakan untuk mendekat kepada Allah maka kita saat itu sedang berdagang dengan Allah dengan sendirinya Allah akan melipatgandakan dana yang sudah digunakan. Semua orang yang naik haji dan umrah semata-mata karena Allah maka dijamin ekonomi dan kariernya naik drastic
6. Silaturahmi. Siapa yang ingin di lapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi (HR. Bukhari Nomor 5985 dan Muslim Nomor 2557)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY