Ceramah 1: Mengapa Umat Islam Wajib Berpuasa?

Ceramah 1: Mengapa Umat Islam Wajib Berpuasa?

0
BERBAGI

Marhaban ya Ramadan, marhaban bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan. 1 Ramadan 1439 Hijriah bertepatan dengan hari Kamis 17 Mei 2018. Sebuah peristiwa yang sangat agung bagi umat Islam di seluruh penjuru bumi. Umat muslim diwajibkan berpuasa sebagaimana yang sudah pernah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini sebagaimana firman Allah;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَأَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak beupuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (tafsir surat Al Baqarah 183-184).

Firman Allah ini ditujukan kepada orang-orang beriman agar menjalankan puasa. Yakni menahan dari makan, minum, dan larangannya dengan niat ikhlas dan mengharap ridha Allah. Di dalamnya terdapat penyucian dan pembersihan jiwa dan penjernihan dari pikiran-pikiran yang buruk.

Selain mewajibkan atas umat Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Was Sallam, puasa juga diwajibkan atas orang-orang terdahulu sebelum umat Nabi Muhammad. Dari sinilah umat Islam mendapatkan teladan dan tuntunan. Oleh sebab itu, hendaknya seseorang yang berpuasa harus menjalankan kewajiban ini lebih sempurna dibandingkan umat-umat nabi yang terdahulu (tafsir Ibnu Katsir 11313).

Di dalam ayat tersebut, juga terdapat penjelasan tentang manfaat besar dan hikmah yang tinggi, yaitu orang yang berpuasa diperintahkan mempersiapkan diri untuk bertakwa kepada Allah. Yaitu meninggalkan nafsu dan kesenangan yang dibolehkan karena semata-mata untuk menaati perintah Allah dengan mengharapkan pahala di sisi-Nya.

Agar bisa masuk ke dalam golongan orang-orang bertakwa kepada Allah dapat ditempuh dengan menaati seluruh perintah dan meninggalkan larangan-larangan yang diharamkan. Oleh sebab itu, kewajiban ini dilaksanakan pada hari-hari (bulan) tertentu, yaitu selama bulan Ramadan saja. Ini menunjukkan bahwa perintah ini relatif sedikit lebih mudah untuk dikerjakan hanya sebulan dalam kurung waktu setahun.

Kemudahan lain dalam perintah ini seperti yang disebutkan dalam firman Allah yang artinya: “Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” (tafsir surat Al Baqarah 184).

Allah memberikan keringanan kepada orang-orang yang tidak bisa mengerjakan puasa karena memiliki halangan yang dibenarkan dalam agama, misalnya sakit, hamil, atau dalam perjalanan (shafar). Mereka diharuskan mengganti puasa yang ditinggalkan setelah sembuh dari sakit atau saat tidak melakukan perjalanan (Tafsiirul Lat’nifil Mannaan fi Khulaashati Tafsiiril Qur’an, Ibnu Sa’di halaman 56).

Adapun orang Islam yang sehat dan mukim (tidak bepergian) tetapi berat (tidak kuat) menjalankan puasa, maka ia juga boleh memilih antara berpuasa atau atau berbuka (tidak berpuasa). Namun dengan syarat memberi makan orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Jika ia memberi makan lebih dari seorang miskin untuk setiap harinya tentu lebih baik ketika hanya memberi kepada seorang miskin saja.

Begitu juga, ketika ia memilih berpuasa daripada memberi makanan, makal hal itu lebih utama. Seperti dalam firman Allah: “Dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (tafsir Ibnu Katsir 1/214). Mari kita lihat firman Allah;

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petuniuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (tafsir surat Al Baqarah 185).

Bulan diwajibkannya umat Islam menjalankan ibadah puasa adalah Ramadan. Bulan di mana Alquran diturunkan untuk pertama kalinya kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Was Sallam sebagai tanda kemulian di sisi-Nya. Allah menjadikan Alquran sebagai undang-undang dan peraturan yang harus dipegang teguh dalam kehidupan umat Islam.

Di dalam Aquran terdapat cahaya dan petunjuk, pembeda antara yang hak dengan yang batil, petunjuk antara halal dengan yang haram. Kandungan Alquran ini merupakan jalan kebahagiaan bagi orang yang ingin mengamalkannya. Allah menekankan puasa di bulan Ramadhan karena bulan tersebut adalah bulan diturunkannya rahmat kepada seluruh hamba-Nya. Termasuk memberikan kemudahan bagi orang sakit dan musafir untuk berbuka (tafsir Ayarul Ahkam oleh Ash Shabuni, I/192).

Lalu jika berhalangan puasa maka diperintahkan untuk mengganti pada hari yang lain agar mencukupi bilangan puasa selama sebulan penuh. Selain itu, diperintahkan juga untuk memperbanyak zikir dan takbir ketika selesai melaksanakan ibadah puasa. Sebagaimana firman Allah;

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (takbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur” (tafsir surat Al Baqarah 185).

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan ayat ini memberikan pengertian setelah umat Islam menunaikan apa yang diperintahkan Allah, taat kepada-Nya dengan menjalankan hal-hal yang diwajibkan dan meninggalkan segala yang diharamkan serta menjaga batasan-batasan (hukum)-Nya, maka perilaku tersebut termasuk dalam golongan orang-orang yang bersyukur (tafsir Ibnu Karsir, 1/218).

Dari sini dapat kita ambil pelajaran dari ayat-ayat Alquran tentang puasa di bulan Ramadan, di antaranya;

1. Umat Islam wajib (harus) melakukan puasa Ramadan, jika meninggalkan tanpa alasan syariat maka berdosa besar
2. Kewajiban bertakwa kepada Allah dengan melakukan segala perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya
3. Boleh berbuka (tidak puasa) pada bulan Ramadhan bagi orang sakit, musafir, atau hamil. Walau demikian tetap wajib mengganti puasa sebanyak bilangan hari mereka berbuka, pada hari-hari lain
4. Orang yang tidak kuat puasa karena tua atau sakit yang tidak ada harapan sembuh, wajib baginya membayar fidyah; untuk setiap harinya memberi makan satu orang miskin
5. Allah mengistimewakan Ramadan dengan menurunkan Alquran sebagai petunjuk kehidupan
6. Kemudahan dan kelapangan dalam Islam, yang mana syariat tidak membebani seseorang di luar kemampuannya
7. Disyariatkan mengumandangkan takbir pada malam ‘Idul Fitri (setelah selesai Ramadan)
8. Wajib bersyukur kepada Allah atas berbagai karunia dan taufik-Nya, sehingga bisa menjalankan puasa, salat dan membaca Alquran
9. Anjuran memperbanyak doa selama puasa Ramadan karena Allah menjamin mengabulkannya
10. Disyariatkan iktikaf di masjid-masjid, yakni berdiam di masjid untuk melakukan ketaatan kepada Allah pada sepuluh hari di akhir Ramadan

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY