CENTRALBATAM.CO.ID, PEKANBARU – Petugas mulai melakukan persiapan untuk melakukan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau. Mereka mulai membaca situasi dan kondisi karhutla serta cara pemadamannya.
Sekalipun pada tahun 2016 Satgas Karhutla Riau berhasil menjaga wilayahnya dari kebakaran lahan, bukan berarti hal kini harus berpangku tangan. Tim Satgas Karhutla, yang terdiri atas instansi pemerintah, perusahaan swasta, dan masyarakat, harus tetap waspada, terutama pada musim kemarau.
Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edwar Sanger ada dua kategori masalah yang sulit dihadapi dalam penanganan karhutla.
Yang pertama, jika kebakaran lahan terjadi di wilayah gambut. Rata-rata kedalaman gambut di Riau bisa 2 sampai 3 meter. Dari luas kawasan yang ada di Riau, separuhnya dipastikan kawasan gambut.
Dia menegaskan pemadaman api di kawasan gambut sangat rumit. Belum lagi pasokan air dalam masa-masa itu sangat terbatas.
“Bisa jadi di permukaan, setelah disiram dengan air lewat udara (water bombing), kelihatan apinya padam. Tapi itu belum tentu padam, api bisa menjalar di bagian bawah,” ujarnya.

Bila sudah terbakar seperti itu, kata Edwar, sekalipun api tidak tampak menjalar, asap putih akan mengepul dari perut bumi. Penanganannya membutuhkan kerja keras ekstra.
“Water bombing dengan heli membawa air 4-5 ton harus bolak-balik menyiramnya. Ini agar air bisa meresap ke kawasan gambut,” tuturnya.
Itu pun, menurutnya, tidak cukup hanya ditangani tim Satgas Udara. Tim darat juga harus turun membantu memutus mata rantai api di bawah permukaan. Tim darat, dengan peralatan mesin semprot air, bisa memutus lintasan api dengan cara menyemprotkan air ke kawasan yang belum terbakar.
“Itu salah satunya agar api tidak menjalar. Tim darat harus berjibaku menyemprotkan air untuk memutus rantai api,” ujar Edwar
Upaya lainnya, lanjut Edwar, bila api sudah terlalu besar, di lokasi yang terjangkau akan diturunkan alat berat. Alat berat ini juga berfungsi dalam memutus rantai api di bawah permukaan.
“Alat berat akan membuat sekat kanal kedalaman 2 sampai 3 meter. Dengan demikian, api tidak akan menjalar. Begitupun harus tetap dijaga agar permukaan jangan terbakar lagi. Karena, jika terbakar, api akan meloncat dibawa angin ke seberangnya,” kata Edwar.

Kategori kedua yang sulit dipadamkan adalah, jika lokasinya tidak bisa ditempuh dengan tim darat. Untuk lokasi seperti ini, Satgas juga harus pontang-panting. Karena pemadaman hanya bisa diandalkan lewat udara saja.
“Kalau sudah seperti itu, jalan satu-satunya hanya lewat water bombing. Yang sudah-sudah, jika lokasi yang terbakar itu lahan gambut, pemadaman lewat water bombing bisa tiga hari atau empat hari,” tuturnya.
Menurut Edwar, penanganan karhutla di Riau memang tidak bisa dilakukan hanya oleh tim. Sinergi bersama perusahaan dan masyarakat juga harus dilakukan.
“Tanpa merangkul semua pihak, tim pasti kewalahan. Karena itu, lapisan masyarakat di pelosok desa harus kita rangkul. Warga desa juga menjadi ujung tombak dalam memberikan info bila ada lahan yang terbakar,” tandasnya.

