BERBAGI
Suasana RDP terkait FTZ dan KEK yang berlangsung di DPRD Batam, Selasa (23/5/2018)

CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM-Jika Batam menjadi KEK dipastikan ada siklus yang membawa ke ambang kehancuran dari sisi bisnis, karena daya saing akan mati.

Hal ini disampaikan perawakilan Asosiasi Penguasaha TIK Nasional Kepri dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) membahas Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam di DPRD Kota Batam, Selasa (22/5/2018).

RDP itu berlangsung lebih kurang 2 jam sejak pukul 10.30 WIB. Rapat itu dihadiri Dewan Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam, berikut sejumlah asosiasi pengusaha di Batam, Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad dan perwakilan Pemko Batam lainnya, perwakilan BP Batam, Kepala Bea dan Cukai Batam, Susila Brata dan pihak terkait lainnya.

Brian perwakilan Asosiasi Penguasaha TIK Nasional Kepri dalam RDP itu mengaku tidak bisa membayangkan Batam dari FTZ menjadi KEK. Hal ini membuat bisnis diambang kehancuran, karena saat ini penjualan elektronik, televisi, handphone di Batam harganya sudah tergolong murah. Jika ditambah PPN dan PPnBM, maka akan membuat daya saing mati.

“Mau tak mau harga dinaikkan. Ketika naik, daya beli masyarakat turun. Kalau sudah begitu tak ada pembeli. Dampaknya dunia usaha akan gulung tikar. Jadi kehancurannya ini bukan di satu sisi tapi semua,” ujarnya.

FTZ yang ada saat ini belum memberikan relevansi yang baik bagi ekonomi Batam. Namun Brian menilai hal itu terjadi, karena sistem kerjanya masih menggunakan cara lama.

“Di saat kita masih ribut-ribut di sini soal FTZ dan lainnya, Malaysia sekarang sudah digital FTZ. Kita masih berkutat di FTZ konvensional,” kata Brian.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY