CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM-Boleh hangat tapi jangan sampai terbakar. Gunakan hak politik dengan baik, jangan menarik atau menyeret-nyeret TNI-Polri dalam berpolitik.
Demikian kata pengantar Pangdam I/Bukit Barisan, Mayjen TNI Mohamad Sabrar Fadhilah dalam kegiatan wawasan kebangsaan di Hotel Pasific, Kamis (27/9/2018).
Dalam kegiatan wawasan kebangsaan dihadiri oleh Danrem 033/WP Brigjen TNI Gabriel Lema, Insan pers Kepri, beberapa ormas seperti Pemuda Pancasila (PP), Ikatan Pemuda Karya (IPK), Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI-POLRI (FKPPI) beserta organisasi lainnya.
Pangdam I/Bukit Barisan, Mayjen TNI Mohamad Sabrar Fadhilah mengatakan, Indonesia merupakan sebuah bangsa besar.
“Indonesia ini luar biasa, jadi kita harus menumbuhkan semangat yang menyatukan. Salah satunya yaitu menggunakan bahasa Indonesia. Jangan sedikit-sedikit menggunakan bahasa lain. Boleh menggunakan bahasa lainnya, tapi tetap pergunakan bahasa indonesia sebagai bahasa yang utama,” tuturnya.
Fadhilah meyakini sebagian besar dari bangsa Indonesia, sudah memiliki dasar wawasan kebangsaan.
“Saya yakin soal wawasan kebangsaan kita semua sudah memiliki dasarnya. Saya hanya ingin menambahkan pengalaman saya selama berdinas di TNI-AD,” ucapnya.
Dikatakan Fadhilah, TNI-Polri sudah setuju untuk tidak menggunakan hak pilihnya demi menjaga keamanan dan ketertiban bangsa Indonesia.
“Kami TNI-Polri tidak menggunakan hak pilih karena mungkin menurut pendahulu lebih banyak mudaratnya. Ini tahun politik dan sudah memasuki masa kampanye, kita boleh saja hangat tapi jangan sampai terbakar. Ibarat sebuah mesin memang perlu di panaskan terlebih dahulu, agar dia dapat bergerak lebih jauh kedepan,” pungkasnya.
Fadhilah berharap masyarakat dapat menggunakan hak pilihnya dengan baik. Serta dapat menjaga budaya untuk saling menghormati.
“Gunakan hak pilih dengan baik, jangan tarik-tarik TNI-Polri. Boleh disatu sisi kita menjaga budaya kita, tetapi jangan berlebihan, apalagi sampai di jadikan politik identitas. Jangan mau membenarkan sesuatu tetapi dengan cara merusak. Kita harus bisa menerima pemimpin yang terpilih nantinya. Jangan menyebabkan perpecahan yang tidak perlu, apalagi pakai politik identitas.apalagi identitas agama yang dibawa,” tutupnya.(*)

