BERBAGI
Butiran es yang dikumpulkan warga usai guyuran hujan es | Foto : Jak

CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM – Fenomena hujan es di Jakarta, Selasa (28/3/2017) sore lalu masih menjadi misteri mendalam di kalangan masyarakat.

Tak hanya di wilayah Ibu Kota Indonesia itu, namun fenomena tersebut juga membuat seluruh masyarakat bertanya-tanya, apa yang terjadi?

Beberapa masyarakat memercayai bahwa fenomena itu berkaitan dengan hal mistis dan sebagian lain mengaitkan fenomena hail dengan tanda-tanda akan datangnya kiamat.

Di satu sisi, segelintir masyarakat lainya beranggapan bahwa kejadian itu hanya salah satu dari jutaan fenomena alam yang bisa terjadi setiap saat.

Lalu, apa sebenarnya Hujan Es Itu?‎

Menjawab kebingunan masyarakat, Philip Mustamu, Kepala Kantor Badan Meteoroloi, Klimatoloi dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim, Batam menyatakan bahwa fenomena hujan es juga disebut sebagai‎ ‘Hail’.

Hail dalam disiplin ilmu meteorologi merupakan presipitasi yang terdiri dari bola-bola es. Salah satu proses pembentukannya adalah melalui kondensasi uap air lewat pendinginan di atmosfer pada lapisan di atas level beku.

“Es yang terjadi dengan proses ini biasanya berukuran besar. Karena massanya yang relatif berat, terjadilah hujan seperti hujan meteor,” kata Philip Mustamu, Rabu (29/3/2017) siang.

Dalam perjalanan bola-bola es menuju daratan, gesekan dengan udara dan suhu mulai meningkat. Pada kondisi ini pula, ukuran bola es kian menyusut alias mengecil diameternya.

Seperti yang terjadi di Jakarta, diameter butiran es tersebut telah menyusut. Meski demikian, fenomena tersebut tetap membuat warga tercengang.‎

“Hujan es tidak hanya terjadi di negara subtropis, tetapi bisa juga terjadi di daerah ekuator,” sebutnya.

Proses lain yang dapat menyebabkan hujan adalah pembekuan, di mana uap air mengalami pendinginan dan membentuk benih-benih es. Karena terjadi pengembunan yang mendadak dan dalam volume besar-besaran, maka terbentuk pula lah es dengan ukuran yang besar.

Hail, sambung dia, biasa terjadi disertai pusaran angin puting beliung berasal dari jenis awan gelap pekat (Comulonimbus) yang cukup dekat permukaan bumi.

“Guntur atau petir juga mendominasi dalam fenomena itu. Jadi memang tampak menyeramkan,” imbuhnya.

Fenomena hail biasa terjadi dalam masa peralihan cuaca alias pancaroba. Baik peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau, maupun sebaliknya.

Kehadirannya pun terbilang dalam durasi yang singkat dan tidak disertai tanda-tanda khusus. Namun, salah satu ciri yang mencolok, ialah penampakan awan gelap pekat dengan bentuk meluas secara horizontal sekitar 3-5 Kilometer.

“Jika tampak cuaca seperti itu, jangan langsung panik. Tapi tetap tenang dan segera mencari tempat berlindung. Jauhi lapangan terbuka dan jangan berteduh dibawah pohon, karena potensi sambaran petir sangat rawan. Intinya, kita mengimbau kepada seluruh masyarakat tetap memantau setiap informasi yang kita sediakan, untuk kenyamanan kita bersama,” tutupnya.‎

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY