BERBAGI
Sapi Limosin di kandang ternak milik Supriyanto, di diwilayah‎ Tanjung Riau, Batu Aji, Batam | Foto : Ned

CENTRALBATAM.CO.ID, JAKARTA – Daging kerbau impor asal India sejak tahun lalu telah membanjiri sejumlah pasar tradisional di hampir seluruh belahan nusantara, akibatnya sejumlah peternak sapi lokal mengeluh.

Masuknya daging kerbau impor ini membuat para peternak lesu, lantaran anjloknya harga daging sapi lokal yang masih banyak persediaannya.

Secara drastis, permintaan terhadap daging sapi lokal menurun. Harganya pun terjun bebas. Inilah yang melatarbelakangi kegerahan para peternak sapi lokal, beberapa minggu menjelang masuknya bulan ramadan 2017.

“Aduh, harganya jatuh sekali. Kalau dulu, dalam satu minggu kita bisa potong enam sampai 8 ekor. Tapi sekarang beda, kita hanya bisa potong satu ekor dalam seminggu,” ucap Parjo, salah seorang pedagang sapi lokal di pasar tradisional di Jakarta, Jumat (28/7/2017).

Baca Juga:  Kisah Cinta BB Kandas di Tanjung Priok Karena Iptu Nyoman Mahendra

Lanjut dia, para pedagang yang mulai beralih mengambil pasokan daging kerbau India dari Bulog yang harganya lebih murah, ketimbang membeli daging sapi segar dari Rumah Potong Hewan (RPH).

“Bayangkan kita jual karkas saja yang masih ada tulangnya itu Rp 88.000 per kg. Sekarang ada daging kerbau yang sudah tidak ada tulangnya, beli di Bulog harganya Rp 80.000 per kg, jelas kita berkurang. Jangan sampailah peternak lokal seperti kita malas pelihara sapi,” ungkap dia.

Selain soal permintaan daging yang merosot drastis, lanjutnya, peternak sapi lokal juga menderita lantaran harga daging yang menurun.

“Itu kita dulu bisa jual karkas Rp 90.000 per kg, sekarang paling kita lepas ke pedagang daging itu Rp 88.000 per kg. Banyak pedagang yang beli daging kerbau, kemudian tetap beli daging sapi segar, kemudian dia oplos, itu juga yang membuat daging dari peternak lokal itu harganya turun,” tuturnya.

Baca Juga:  Perlu Waspada, Begal Payudara Beraksi di Bintan

Sementara itu, Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Joni Liano, berujar feedloter atau perusahaan penggemukan sapi juga kena imbas dari masuknya daging kerbau India.

“Di kita sendiri umumnya turun 30 persen, bahkan kasarnya ada beberapa feedloter turun 50 persen. Bahkan sekarang jual rugi sapi, kita biaya produksi per kg saja Rp 47.000 per kg (sapi hidup), kemudian jualnya Rp 43.000 per kg. Sekarang beli sapi landing (dari Australia sampai kandang) Rp 51.000 per kg,” kata Joni.

Dia mengungkapkan, saat ini saja sudah ada 4 perusahaan feedloter megap-megap tak lagi mengimpor sapi bakalan lantaran terus merugi. “Sudah ada 4 feedloter di anggota kami yang sudah tak lagi impor sapi bakalan di 2017. Karena sekarang lagi benar-benar masa susah, jual rugi terus,” pungkas Joni.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY