BERBAGI
Ilustrasi

CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM – Hingga saat ini, masih banyak pakar yang memperdebatkan dampak penggunaan deodoran terhadap munculnya risiko kanker payudara. Tetapi belum ada fakta yang menyatakan hal itu benar-benar ada.

Meski demikian, sudah ada satu negara yang bersiap melarang penggunaan deodoran untuk mengantisipasi munculnya risiko tersebut. Negara yang dimaksud adalah Swiss.

Kekhawatiran Swiss terhadap deodoran telah mengemuka sejak September tahun lalu. Saat itu tim peneliti dari University of Geneva menemukan bahwa kandungan garam aluminium dalam deodoran dapat memicu pertumbuhan tumor di payudara.

Secara rinci, Swiss, dalam hal ini, Swiss National Council, telah menyepakati adanya sebuah undang-undang yang dapat melarang penggunaan garam aluminium dalam deodoran.

Baca Juga:  Perlu Waspada, Begal Payudara Beraksi di Bintan

Usulan tentang undang-undang tersebut dibawa oleh anggota parlemen Swiss dari Partai Hijau, Lisa Mazzone. Pada tanggal 5 Mei lalu, rancangan undang-undang itu telah mengantongi 126 suara, jauh lebih banyak dari target suara yang dibutuhkan, yakni 58 suara.

Ketika mengemukakan usulan undang-undang ini, Mazzone mengklaim riset dari University of Geneva sudah memberikan ‘bukti yang memadai’ untuk meragukan keamanan garam aluminium yang digunakan dalam deodoran. Demikian seperti dilaporkan Daily Mail.

Setidaknya, dengan pelarangan ini, Mazzone berharap risiko kanker payudara yang dapat ditimbulkannya bisa diantisipasi sedini mungkin.

Sebagian besar deodoran memang mengandung garam aluminium ini. Bahan ini pulalah yang membantu menghilangkan keringat dan aroma tak sedap dari ketiak. Dalam penelitian yang dilakukan peneliti dari University of Geneva tersebut, Andre-Pascal Sappino dan timnya mengamati sel-sel payudara manusia yang terisolasi kemudian direplikasikan dalam tubuh tikus.

Baca Juga:  Kajati Kepri Menjuarai Kejuaraan Tenis Ganda Putra BAVETI CUP di Batam

Hasilnya, paparan garam aluminium dalam jangka waktu yang panjang diduga dapat mengakibatkan munculnya tumor yang juga bisa bermetastasis atau menyebar. Bahkan ketika garam aluminium disuntikkan ke tubuh tikus, peneliti menemukan ‘tumor yang sangat agresif’ di tubuh tikus-tikus tersebut.

Menurut peneliti, ini karena garam aluminium pada deodoran dapat menghambat kinerja kelenjar keringat. Selain itu garam ini juga bisa menumpuk di dalam jaringan payudara lalu menciptakan semacam efek estrogen yang selama ini dikenal sebagai pemicu kanker pada organ ini.

Kendati demikian, banyak pakar yang tidak sepakat dengan temuan tersebut, apalagi sampai harus melarang penggunaan deodoran. Pertama, karena studi hanya dilakukan pada hewan coba; kedua, pencegahan kanker baiknya hanya difokuskan pada hal-hal yang sudah terbukti berpengaruh terhadap risikonya seperti berat badan ideal, pola makan sehat dan olahraga teratur.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY