BERBAGI
Penampakan diduga ketua kelompok bersenjata MIT, Santoso yang diduga tewas dalam baku tembak dengan tim satgas | Foto : Dok Polda Sulawesi Tengah

CENTRALBATAM.CO.ID, JAKARTA-Dengan kabara tertembaknya Pimpinan Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso, dunia militer Indonesia, khususnya tim Satgas Tinombala kembali sedikit bernapas lega.

Santoso diduga tewas dalam baku tembak antara satu kelompok teroris dengan Satgas Tinombala di Poso, Sulawesi Tengah. Sebagai salah satu kelompok teroris paling dicari di Indonesia, informasi dugaan tewasnya Santoso cukup menyita perhatian publik.

Santoso, alias Abu Wardah, diketahui sebagai tokoh yang diduga terlibat dalam sejumlah aksi penyerangan dan terorisme di Poso. Selain di Poso, Santoso diduga memiliki kaitan dengan sejumlah aksi terorisme di Solo, Bogor, Depok, hingga Tambora.

Penampakan data salah satu teroris kelompok MIT yang tewas dalam baku tembak dan diduga sebagai Santoso | Foto : Dok. Polda Sulawesi Tengah
Penampakan data salah satu teroris kelompok MIT yang tewas dalam baku tembak dan diduga sebagai Santoso | Foto : Dok. Polda Sulawesi Tengah

Padahal sebelumnya tak ada yang menyangka bahwa pria tersebut akan menjadi pemimpin gerakan terorisme di sejumlah daerah. Masyarakat di Dusun Bakti Agung, Desa Tambarana Trans, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, yang menjadi tempat tinggal Santoso dan keluarganya bahkan tak mempercayai bahwa Santoso yang mencari nafkah dengan berjualan buku keliling, sayur, buah-buahan dan terkadang menjadi buruh bangunan, bisa menjadi pemimpin aksi teror.

Nama Santoso mencuat setelah mendalangi peristiwa penembakan anggota polisi di kantor Bank BCA, Palu, pada 25 Mei 2011. Ustad Yasin yang pada saat itu tengah merintis pendirian Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) di Poso melirik Santoso. Pada Februari 2012, Ustad Yasin mengangkat Santoso menjadi Qoid (ketua) bidang Asykari JAT wilayah Poso, karena Santoso saat itu masih memiliki dan menyimpan senjata api serta amunisi.

Pada akhir 2012 atau awal tahun 2013, Santoso bersama Daeng Koro mendeklarasikan berdirinya Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Sejak itu mereka melakukan perekrutan dan pelatihan militer (tadrib asykari) yang dilaksanakan beberapa kali di wilayah Pegunungan Biru, Poso Pesisir.

Ilustrasi perburuan kelompok bersenjata MIT | Foto : Cr2
Ilustrasi perburuan kelompok bersenjata MIT | Foto : Cr2

Santoso kemudian memimpin sejumlah pelatihan militer (tadrib asykari) yang dilaksanakan beberapa kali di Pegunungan Biru, Poso Pesisir Kabupaten Poso dan di pegunungan Malino Kecamatan Soyojaya, Kabupaten Morowali. Para pesertanya berasal dari warga Poso, Morowali, Jawa, Kalimantan, Sumatera dan NTB.

Sejak Januari 2016 lalu, Satuan Tugas Tinombala gabungan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian RI berhasil mengepung Santoso alias Abu Wardah dan kelompoknya di Pegunungan Biru, Poso, Sulawesi Tengah. Satgas Tinombala juga berhasil memutus komunikasi antara Santoso dan kelompoknya dengan para simpatisan dan keluarganya. Karena semakin terdesak, beberapa orang pengikut Santoso pun akhirnya memilih turun gunung dan menyerah, sehingga kekuatan kelompok Santoso semakin melemah.

Penampakan istri Santoso dan anggota MIT lainnya dipedalaman hutan Poso Pesisir Selatan | Foto : Dok Tim Satgas Tinombala
Penampakan istri Santoso dan anggota MIT lainnya dipedalaman hutan Poso Pesisir Selatan | Foto : Dok Tim Satgas Tinombala

Pada tanggal 18 Juli, Terjadi baku tembak antara Satgas Tinombala dengan kelompok teroris di Pegunungan Sambarana, Poso. Dalam baku tembak itu, pimpinan MIT yang selama ini diburu, Santoso alias Abu Wardah diduga tewas tertembak.

Peristiwa baku tembak itu terjadi sekitar pukul 17.00 WITA. Tim Satgas Tinombala awalnya menemukan lima orang tak dikenal, yang terdiri dari 3 laki-laki dan 2 perempuan. Dua laki-laki terkena tembakan polisi, salah satunya diduga Santoso. Sementara 3 orang lain berhasil melarikan diri.‎

 

Penulis : Cr2, Rangkuman Redaksi

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY