Oleh Setianus Zai
Pendiri Lembaga Pendidikan BintanFaceducation
Beberapa bulan lalu, saya sempat ngobrol-ngobrol dengan salah satu guru di Sekolah Menengah Pertama (SMP), Bintan, sebut saja IN. Obralan kami ini berawal ketika sang guru mencurahkan isi hatinya yang tidak terima karena salah satu guru ditempat ia mengajar mendapat sorotan dari media massa yang telah memberitakan kekerasan terhadap salah satu siswanya. Dan yang lebih ia sayangkan, permasalahan itu membuat sang guru sempat mendapat teguran oleh wakil Bupati yang saat itu dijabat oleh Khazalik.
Menanggapi sorotan media dan juga wakil kepala daerah saat itu, IN mengaku menjadi malas mengajar karena perjuangan mereka sebagai orang yang berkontribusi banyak dalam pembangunan bangsa seolah tidak dihargai oleh karena masalah sedikit. Malas yang dimaksud oleh IN disini tentunya bukan malas bermalas-malasan untuk memberikan pendidikan pada murid didiknya. Namun malas yang ia maksud adalah malas jika harus memastikan sang murid paham atau tidak.
“Saya telah dibayar oleh negara untuk mengajar, namun untuk memastikan bahwa seluruh mata pelajaran yang saya sampaikan bisa dipahami atau tidak, tidak perlu saya lakukan. Karena kalau saya bertanya pada murid terkait pelajaran yang saya sampaikan, dan ada yang tidak paham karena tidak memperhatikan pastinya saya marah dan bisa saja saya memberinya hukuman,” demikian kutipan sang guru yang saya inisialkan berna IN ini.
Ia melanjutkan, hukuman biasa yang ia berikan kepada murid tentunya berbeda-beda. Mulai dari menyuruhnya berdiri didepan kelas hingga mencubit jika memang diperlukan. Nah, ketika hukuman ini ia terapkan bisa saja giliran dia yang menjadi sorotan publik dan bahkan masuk penjara.
Apa yang disampaikan oleh IN, hanya satu dari sekian ratus keluhan para guru yang dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa ini.
Tanpa adanya guru, maka dipastikan suatu bangsa tidak akan pernah maju. Karena itu, sebagai salah satu orang yang peduli dunia pendidikan, saya ingin menyampaikan pendapat bagaimana memperbaiki kinerja para pendidik yang ada di negeri tercinta ini.
Menjadi seorang guru itu tidak lah mudah. Karena itu, harusnya syarat untuk menjadi seorang guru juga tidak boleh mudah. Selain keahlian mereka (guru) menyampaikan bidang studi yang dibawa, seorang guru juga harus dibekali dengan ilmu Interaksi Sosial atau Social Interaction.
Interaksi Sosial sendiri berasal dari istilah dalam bahasa Inggris social interaction yang berarti saling bertindak. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, bersifat timbal balik antarindividu, antarkelompok, dan antara individu dengan kelompok. Interaksi sosial terjadi apabila satu individu melakukan tindakan sehingga menimbulkan reaksi bagi individu-individu lain. Interaksi sosial tidak hanya berupa tindakan yang berupa kerja sama, tetapi juga bisa berupa persaingan dan pertikaian.
Interaksi sosial terjadi apabila satu individu melakukan tindakan sehingga menimbulkan reaksi bagi individu-individu lain. Reaksi ini tentunya adalah reaksi positif atau penerimaan yang baik dari sebuah kelompok, komunitas ataupun individu.
Seseorang bisa dikatakan memiliki kehalian dibidang ini (Social Interaction) ini apabila memiliki 4 keahlian yaitu, keahlian memahami dan komunikasi, keahlian memberikan pengaruh, keahlian memotifasi. Dan terakhir keahlian membangun membangun relasi.
Keahlian memahami yang diperlukan disini adalah kemampuan membaca apa dipikirkan oleh siswa-siswi, sehingga ia bisa bisa berkomunikasi sesuai dengan keadaan siswa pada saat itu.
Sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Asasi Manusia (HAM), maka saat ini sudah bukan zamanya menggunakan tangan besi atau kekerasan agar seseorang mau menuruti apa yang kita inginkan. Dan disini lah letaknya fungsi dari keahlian mempengaruhi seseorang tanpa harus memaksanya, namun justru ia dengan senang hati melakukanya.
Keahlian berikutnya dalam Social Interaction adalah motivasi dan membangun relasi. Banyaknya hal menarik di internet seperti main game, bergosip di media sosial membuat banyak siswa kurang termotivasi dalam belajar. Dan keahlian memotivasi dari seorang guru disini diperlukan untuk membangkitkan minat baca dan belajar siswa. Sedangkan keahlian membangun relasi ini diperlukan agar hubungan antara guru dan murid tetap harmonis. Sebab, saat ini tidak sedikit murid yang alergi melihat guru yang akhirnya membuat siswa atau siswi tersebut tidak konsen dalam belajar atau bahkan bisa bolos.
Untuk mendapatkan seorang pengajar yang memiliki keahlian dibidang ini, sang guru tidak harus memiliki gelar tambahan dibidang sosiology. Sebab pada kenyataannya, banyak para sarjana dibidangnya juga hanya ahli diteori. Sedangkan praktek mereka masih memiliki kelemahan karena terlalu percaya diri pada gelar yang dimiliki dan membuat mereka sering malas mempraktekan dilapangan. Lagian seiring dengan perkembangan dunia Tehnolgy, pelajaran bisa didapat dimana saja.
Sementara untuk mengetahui jika guru memiliki keahlian dibidang ini mudah saja. Tidak perlu test tertulis, cukup melihat caranya berkomunikasi dan membaca bahasa tubuh (Body language) saat mengikuti seleksi calon pengajar.
Masa lalu biarlah berlalu dan biar lah hal itu tertulis dalam sejarah perjalanan dunia pendidikan di tanah air. Lagian, kita juga kita hanya bisa memperbaiki masa depan melalui inovasi-inovasi yang dilakukan oleh Menteri pendidikan guna meningkatkan mutu para guru di tanah air. Sehingga secara bersamaan kualitas pendidikan yang diperoleh putra-putri bangsa ini semakin baik.

