Oleh : Inur Eriska, Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH)
Padang lamun merupakan tumbuhan lamun yang menutupi suatu area pesisir laut dangkal pada saat pasang surut intertidal maupun subtidal yang dapat terbentuk oleh satu spesies lamun atau lebih dengan kerapatan padat atau jarang.
Lamun satu-satunya tumbuhan berbunga (Spermatophyta) yang mampu hidup secara penuh beradaptasi pada lingkungan laut dengan kadar salinitas rendah (perairan payau) hingga salinitas tinggi (halofitik). Ciri-ciri dari Lamun yaitu berpembuluh, berdaun, berimpang (rhizoma), berakar, berkembang biak secara generatif (biji) dan vegetatif (tunas), serta habitatnya tumbuh terbenam dan menjalar dalam substrat berpasir, pasir-berlumpur, dan lumpur.
Salah satu komponen ekosistem laut yang dapat mengurangi karbon dioksida adalah lamun. Padang lamun dapat menyimpan karbon 35 kali lebih cepat dibandingkan hutan hujan tropis, dan dapat mengikat karbon dalam waktu ribuan tahun. Selain itu, ekosistem lamun dapat menangkap sekitar 70% dari karbon organik total yang berada di laut.
Salah satu wilayah yang memiliki potensi dalam menyerap karbon adalah Pulau Bintan. Keberadaan padang lamun yang cukup luas, topografi pesisir Pulau Bintan yang landai dengan substrat berpasir dan berlumpur membuat lamun dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
Menurut Kuriandewa dan Supriyadi (2006) terdapat sekitar 2.094 ha lamun yang tersebar di sebelah timur Pulau Bintan, dari Teluk Bakau hingga Tanjung Berangkit, dan ditemukan sekitar 10 spesies lamun. Pada tahun 2015, dari 10 spesies kini berkurang tinggal 7 spesies lamun yang di temukan di Pulau Bintan.
Banyak faktor yang menyebabkan spesies lamun ini berkurang salah satunya yaitu kegiatan manusia seperti kegiatan lalu lalang perahu nelayan yang tinggi dan penambangan pasir bouksit yang terus meningkat dapat berdampak terhadap pertumbuhan, perkembangan, dan kondisi padang lamun.
Dampak lalu lalang perahu dan Penambangan bouksit yang berlebihan tersebut membuat menurunnya habitat padang lamun yang ada di Pulau Bintan, padahal Padang lamun memiliki peranan yang sangat penting bagi ekosistem laut terutama biota-biota yang ada dan hidup didalamnya.
Selain itu juga, lamun berperan sebagai sumber utama produktivitas primer atau penghasil bahan organik, tempat asuhan, tempat memijah, sumber makanan bagi biota langka dan penyokong keanekaragaman jenis-jenis biota laut serta bernilai ekonomis dari jasa ekosistem lamun.
Salah satu biota yang hidup di padang lamun dan merupakan hewan langka yaitu Duyung atau yang lebih dikenal dengan sebutan Dugong. Dugong merupakan hewan herbivora yang sumber makanannya berasal dari Lamun.
Bintan tepatnya di Teluk Bakau hingga ke Tanjung Berakit terdapat padang lamun, akan tetapi karena berbagai aktivitas kegiatan manusia membuat habitat padang lamun tersebut menurun. Itulah yang menyebabkan duyung atau dugong tersebut terancam kepunahan seperti yang terjadi baru-baru ini di pulau bintan atau sekitarnya , untuk menghindari kepunahan tersebut kebanyakan dugong berpindah haluan atau pergi mencari tempat tinggal yang baru.
Begitu pentingnya ekosistem padang lamun bagi biota yang di sekitarnya. Oleh karena itu, kondisi padang lamun di perairan timur pulau Bintan saat ini menjadi sangat penting dalam upaya menjaga dan melestarikan padang lamun khusunya di perairan timur pulau Bintan.
Hal ini selaras dengan dukungan pemerintah setempat terkait dengan perlindungan padang lamun yaitu beberapa desa telah ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Padang Lamun (KKPL) yang termuat dalam Peraturan Desa Teluk Bakau, KecamatanGunung Kijang, Kabupaten Bintan No. 21 Tahun 2009 dan dikuatkan dengan Surat Keputusan Kepala Bupati Bintan No. 267/VI/2010.
