CENTRALBATAM.CO.ID, BINTAN -Berdasarkan data inflasi daerah yang disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat, untuk wilayah Bintan dan Tanjungpinang memiliki inflasi dengan presentase sebesar 0,13 persen.
Kepala BPS Bintan, Ahmadini mengatakan inflasi ini memang tidak tergolong besar. Namun tetap dapat berpotensi menambah angka kemiskinan di wilayah Bintan karena harga yang bisa saja terus melambung tinggi dan membuat masyarakat tidak sanggup membeli.
“Jumlah ini memang tidak besar karena belum menyentuh angka 1 persen. Namun jika tidak diantisipasi dapat berpotensi menambahkan angkankemiskinan di Bintan,” ujar Ahmadini saat dikonfirmasi di kantornya di ceruk ijuk, Selasa (4/10/2016).
Masih kata Ahmadini, jumlah penduduk miskin di wilayah Bintan saat ini yang tercatat di BPS Bintan sebanyak 9533 Kepala Keluarga (KK). Dimana ke 9533 KK ini digolongkan miskin karena memiliki pengeluaran dibawah Rp 308 rbu perbulan.
“Jadi apabila harga komodity naik, maka pengeluaran per bulan yang masuk dalam golongan miskin bisa jadi dengan pengeluaran dibawah Rp 500 ribu per bulan. Karena jumlah pengeluaran per bulan sebesar itu (308 ribu) diambil sebelum mengalami Inflasi,” katanya.
Untuk mengantispasi hal ini, lanjutnya, BPS Pusat dan BPS Bintan hari ini (4/10/2016) telah melakukan rapat bersama Pemkab Bintan di Kantor Bupati Bintan di Bintan Buyu.
Ia menjelaskan, inflasi yang terjadi saat ini disebabkan oleh cuaca alam di Bintan yang tidak menentu. Sehingga harga komoditi seperti sayur mayur, cabe dan ikan mengalami kenaikan. Sedang harga untuk bahan kebutuhan pokok lain yang sifatnya diimpor masih dalam kendali.
“Kalau harga komodity yang sifatnya diimpor itu bisa dikendalikan. Tapi kalau masalah harga sayur dan ikan ini susah dikendalikan karena cuaca yang mengakitbatkan hasil tani tidak bagus atau nelayan tidak melaut, dan sebagainya,” jelasnya.
