BERBAGI
KKN Unrika kelompok 6 Batam saat memimpin rapat di Kampung Air Lingka / Foto dok. Kelompok 6 KKN Unrika Batam

CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM-Lebih dari 20 orang mahasiswa Universitas Riau Kepulauan (Unrika) Batam dari sejumlah program studi (prodi) yang mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2016, dikejutkan datangnya badai secara tiba-tiba di Kampung Air Lingka, Kelurahan Galang Baru Kecamatan Galang, Kota Batam.

Rombongan kelompok 6 KKN Unrika Batam yang diketuai oleh Zabur Anjasfianto itu, langsung terbangun dari tidur tepat di tengah malam. Saat itu hembusan angin yang begitu kuat menerpa semua mahasiswa yang sedang tidur di salah satu rumah warga.

Malam itu, beberapa mahasiswa tampak tidur di teras dan pelantar rumah warga yang sebelumnya dijadikan restoran. Ini dilakukan, mengingat minimnya posko yang tersedia. Sebagian lainnya juga tidur di rumah warga lainnya yang terletak hanya bersebelahan.

“Sebelum tidur, kami sempat makan malam bersama dan menggelar rapat bersama anggota kelompok untuk melakukan kegiatan besoknya (Minggu red). Setelah rapat, semua teman-teman ada yang bercerita dan duduk untuk memandang susana malam di tepi laut,” kata Zabur menceritakan.

Seluruh mahasiswa di Kelompok 6, yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Air Lingka, Galang Baru, Batam | Foto : Dk
Seluruh mahasiswa di Kelompok 6, yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Air Lingka, Galang Baru, Batam | Foto : Dk

Dia mengatakan, setelah aliran listrik padam sekitar pukul 24.00 malam itu, mahasiswa pun mulai terlelap tidur di teras rumah warga yang ditumpangi.

Sementara beberapa mahasiswa pria termasuk dirinya, belum tidur dan terus mengawasi kondisi seluruh personelnya. Maklum saja malam itu merupakan pertama kali kelompok 6 KKN Unrika Batam, datang ke Kampung penghasil ikan bilis atau ikan teri yang belum diketahui secara jelas seluk-beluknya itu.

 

“Saya belum bisa tidur karena suhu udaranya panas. Saya pun duduk di bangku dekat deramaga kayu. Kemudian sekitar pukul 00.10 WIB, saya berbaring, karena sudah tidak ada lagi anggota kelompok yang terjaga. Namun tiba-tiba hembusan angin kencang menerpa dan membangunkan semua mahasiswa yang tertidur,” katanya.

Selanjutnya, dia pun menyuruh semua mahasiswa pindah ke dalam rumah, tanpa terkecuali. Beberapa mahasiswa yang setengah sadar pun bangun dari tidurnya untuk pindah ke dalam rumah dengan membawa semua barang agar tidak basah jika hujan turun.

“Saya langsung ke ujung dermaga kayu dan melihat ke arah laut ada pusaran angin yang menyedot air laut. Saya pun semakin penasaran apa yang terjadi. Tidak lama warga yang rumahnya di sebelah juga datang dan berdiri tepat di samping saya dengan mengatakan, ini pertanda bukuk, karena tidak bisa begini,” ujarnya.

Setelah itu, tetangga yang datang itu langsung pergi dan langsung turun ke tangga serta membuka tali sampan yang di ikat di samping rumahnya. Dengan waktu bersamaan datang pula Zulfikal salah satu mahasiswa yang ikut KKN dalam kelompok itu. Zulfikal yang merupakan nelayan di Pulau Akar pun memperhatikan arus air laut dan arah angin.

Mahasiswi di Kelompok 6, yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Air Lingka, Galang Baru, Batam | Foto : Dk
Mahasiswi di Kelompok 6, yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Air Lingka, Galang Baru, Batam | Foto : Dk

“Kalau angin dan arus air laut searah, berarti cuaca buruk itu bisa berlalu. Tapi jika berlawanan, bisa-bisa ini jadi kabar buruk. Itulah kata Fikal kepada saya. Saat itu pun saya semakin binggung dan bimbang takut terjadi hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Angin kencang pun masih terasa saat itu. Zabur pun masih berdiri di dermaga dengan melihat awan berubah menjadi hitam yang sebelumnya masih terlihat bulan terang dan taburan bintang.

Dia pun berdoa dan memohon kepada sang Pencipta untuk diberikan perlindungan dan badai cepat berlalu.

Seluruh mahasiswa di Kelompok 6, yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Air Lingka, Galang Baru, Batam | Foto : Dk
Seluruh mahasiswa di Kelompok 6, yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Air Lingka, Galang Baru, Batam | Foto : Dk

“Saya sempat berdoa dan mengambil air laut dengan tangan yang saat itu air laut sedang pasang besar. Setelah saya memohon perlindungan kepada Tuhan, saya pun pergi ke teras rumah. Saat itu saya pun berbicara dengan wakil ketua kelompok, Rusman SS Lubis dan menyampaikan keanehan dan kejanggalan badai yang datang tiba-tiba,” katanya.

Seterusnya, dia dan mahasiswa masuk ke dalam rumah. Namun masih terdengar suara deruan angin. Kemudian beberapa warga yang rumahnya berdampingan, keluar dan langsung memperbaiki sampan dan boat pancung saat ombak mulai menghantam. Bahkan ada warga yang berusaha memotong kayu karena pompongnya terangkat dan sangkut di kayu pancang.

“Alhamdulillah, awan hitam yang menyelimuti sudah tidak terlihat lagi. Angin pun mulai redah, dan hujan gerimis turun. Pusaran air pun tidak nampak lagi. Dan mahasiswa mulai tidur hingga pagi. Ya syukur lah, tidak terjadi apa-apa,” katanya.

“Inilah pengalaman kami dan bisa menjadi pelajaran. Meski kedatangan kami disambut badai, pengabdian kepada masyarakat tetap dilakukan. Paginya, kami langsung memberikan masjid dan mendata anak-anak untuk diikutkan dalam pendidikan bahasa Inggris,” tutupnya. (*)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY