Close Menu
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Kepri
    • Anambas
    • Batam
    • Bintan
    • Karimun
    • Lingga
    • Natuna
    • Tanjung Pinang
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Makro
    • Mikro
  • Hukum
    • Hukum Industrial
    • Konstitusi
    • Kriminal
  • Fokus
    • English News
    • Layanan Publik
  • BP Batam
  • citizen journalism
mgid
What's Hot

IHKA Perkuat Peran Profesi Housekeeping Lewat Program Sosial dan Kompetisi

26 Januari 2026

Raker Pengurus KERABAT–BARKAD Batam Jadi Arah Baru Program Kerja 2025–2030

25 Januari 2026

RSBP Batam Pelajari Pengelolaan Layanan Hiperbarik

24 Januari 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • IHKA Perkuat Peran Profesi Housekeeping Lewat Program Sosial dan Kompetisi
  • Raker Pengurus KERABAT–BARKAD Batam Jadi Arah Baru Program Kerja 2025–2030
  • RSBP Batam Pelajari Pengelolaan Layanan Hiperbarik
  • Warga Batam Geger, Jasad Bayi Tanpa Balutan Ditemukan di Pantai
  • Seluruh Fraksi DPRD Batam Sepakat Dukung Ranperda Lembaga Adat Melayu
  • Manager PLN Anambas Jalin Silaturahmi dengan Wartawan, Dukung HPN 2026
  • Kunjungi BP Batam, Bupati Batu Bara Tertarik Replikasi Model Investasi dan Air Bersih Batam
  • Layanan Data Telkomsel Alami Penurunan Kualitas, Tim Teknis Dikerahkan Penuh
Facebook X (Twitter) Instagram
CentralBatamCentralBatam
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Kepri
    • Anambas
    • Batam
    • Bintan
    • Karimun
    • Lingga
    • Natuna
    • Tanjung Pinang
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Makro
    • Mikro
  • Hukum
    • Hukum Industrial
    • Konstitusi
    • Kriminal
  • Fokus
    • English News
    • Layanan Publik
  • BP Batam
  • citizen journalism
CentralBatamCentralBatam
Beranda » Utang Indoneisa Meningkat 2,37 Persen Tembus Rp 3.549 Triliun
HEADLINE

Utang Indoneisa Meningkat 2,37 Persen Tembus Rp 3.549 Triliun

25 Februari 2017Tidak ada komentar
Facebook Twitter WhatsApp
ilustrasi
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

CENTRALBATAM.CO.ID, JAKARTA-Utang pemerintah sampai dengan Januari 2017 sebesar Rp 3.549,17 triliun. Utang tersebut terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 2.815,71 triliun dan pinjaman sebesar Rp 733,46 triliun.

Dibandingkan dengan bulan sebelumnya, utang Pemerintah Pusat sampai dengan Januari 2017 ini meningkat sebesar 2,37 persen.

Penambahan utang neto sampai dengan bulan Januari 2017 adalah sebesar Rp 82,21 triliun yang berasal dari kenaikan SBN sebesar Rp 81,88 triliun dan bertambahnya pinjaman sebesar Rp 330 miliar.

Meski naik, rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih dalam batas sehat, yaitu sekitar 28 persen. Bahkan bila digabungkan dengan utang swasta, maka total utang Indonesia berada pada rasio 35 persen terhadap PDB.

Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistyaningsih mengatakan, melihat dari rasio utang pemerintah yang masih di bawah 30 persen, maka utang tersebut masih aman. Namun demikian, menurut Lana amannya rasio utang tidak bisa dilihat semata-mata seperti itu.

“Kita tidak bisa semata-mata melihat begitu saja, di antaranya ada defisit primer, itu ada di dalam APBN yang hasilnya negatif dan terus membesar,” kata Lana.

Hal ini menurut Lana artinya untuk bayar bunga utang, pemerintah harus berutang lagi. “Misalnya seseorang punya cicilan, cicilan itu dibayar dari utang di bank lain. Itu yang bahaya,” ujarnya.

Lana mengatakan, dengan negatifnya defisit primer itu, pemerintah sudah tidak bisa lagi bayar bunga dengan uang pendapatan dalam negeri yang terdiri dari pendapatan perpajakan.

Untuk mengamankan defisit primer ini, menurut Lana saat ini pemerintah sedang mengalami dilema karena pemerintah tidak ada sumber income yang bisa diandalkan. Pasalnya bila menggeber perpajakan masih susah lantaran reformasi perpajakan tidak berjalan baik.

“Seharusnya penerimaan pajak, supaya bisa bayar bunga utang. Tentunya harapannya ada niat dari pemerintah untuk terus mengurangi defisit primer ini dari minus ke positif lagi,” jelasnya

Bila positif artinya pemerintah punya sisa dari income untuk membayar bunga utang. Nah, alternatif apabila income tidak bisa diandalkan, maka pengeluarannya harus realistis.

Dengan demikian secara menyeluruh utang pemerintah masih bisa dianggap aman. Namun apabila utang digunakan untuk bayar bunga, dalam pengelolaan utang hal itu harus diperhatikan.

“Utangnya bisa dikatakan kurang sehat. Utang yang sehat itu dipake buat bayar cicilan,” ucap Lana.

Data Kementerian Keuangan menyebutkan, keseimbangan primer sebenarnya sempat mengalami surplus pada 2010, mencapai Rp 41,5 triliun. Pada 2011, keseimbangan primer masih mengalami surplus, tetapi nilainya berkurang drastis menjadi Rp 8,8 triliun. Pada 2012, barulah pemerintah merasakan defisit keseimbangan primer mencapai Rp 52,7 triliun.

Defisit ini bertambah menjadi Rp 98,6 triliun pada 2013. Memasuki 2014, Pemerintah sempat menurunkan defisit di angka Rp 93,2 triliun. Sayang, nilai ini kembali meningkat pada 2015 yang menyentuh Rp 142,4 triliun.

Memasuki 2016, pemerintah kembali harus mengalami defisit keseimbangan primer mencapai Rp 105,5 triliun dalam APBNP 2016. Nilai defisit ini masih akan berlangsung pada 2017 dengan besaran Rp 111,4 triliun.

Sementara Ekonom SKHA Institute Eric Sugandi berpendapat bahwa walau dilihat rasio utang pemerintah terhadap GDP nominal masih aman, namun pemerintah harus diwaspadai tren rasio yang meningkat.

Sebenarnya, menurut dia, tidak ada batasan yang pasti mengenai rasio aman utang publik terhadap nominal GDP. Mengingat beberapa negara seperti Jepang rasionya di atas 200 persen dan US di atas 100 persen.

Namun perbedaannya, utang pemerintah Jepang mayoritas kepada masyarakat Jepang sendiri sehingga relatif aman terhadap tekanan eksternal, berbeda dengan utang pemerintah Indonesia yang share utang luar negerinya masih signifikan.

“Tapi rasio yang lebih besar dari 100 persen mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi negara tidak cukup untuk digunakan membayar seluruh utang sekaligus pada suatu waktu,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, ada beberapa cara untuk turunkan rasio utang pemerintah terhadap GDP nominal, yaitu pertumbuhan ekonominya mesti lebih tinggi sehingga GDP nominalnya bisa besar

“Cara kedua adalah dengan kurangi utang dan percepat pembayaran utang. Dan cara ketiga adalah kombinasi dua cara tersebut,” kata Eric.

Pada tahun 2017 ini, Eric memproyeksi rasio utang pemerintah terhadap nominal GDP di sekitar 30 persen. Tren naiknya rasio ini karena pemerintah berupaya mengejar target pertumbuhan ekonomi yang tinggi, di antaranya dengan bangun infrastruktur yang butuh pembiayaan jangka panjang

“Sementara pembiayaan jangka pendek kebanyakan untuk pembiayaan defisit APBN lewat penerbitan SBN,” ujarnya.

Indikator risiko utang pada bulan Januari 2017 menunjukkan bahwa rasio utang dengan tingkat bunga mengambang (variable rate) sebesar 12 persen dari total utang, sedangkan dalam hal risiko tingkat nilai tukar, rasio utang dalam mata uang asing terhadap total utang adalah sebesar 42 persen.

Average Time to Maturity (ATM) sebesar 9 tahun, sedangkan utang jatuh tempo dalam 5 tahun sebesar 68,7 persen dari outstanding.
Terkait kewajiban kontinjensi pemerintah, hingga kuartal IV-2016 (per 31 Desember 2016) total outstanding/eksposur penjaminan adalah sebesar Rp 81,7 triliun.(ktn/ctb)

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X

Terkait

Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp

Related Posts

IHKA Perkuat Peran Profesi Housekeeping Lewat Program Sosial dan Kompetisi

26 Januari 2026

Raker Pengurus KERABAT–BARKAD Batam Jadi Arah Baru Program Kerja 2025–2030

25 Januari 2026

Warga Batam Geger, Jasad Bayi Tanpa Balutan Ditemukan di Pantai

23 Januari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Top Posts

Tilang Manual Kembali Diberlakukan di Kepri, Berikut Sasaran Pelanggar Lalulintas

9 Mei 2023

Ceramah 9: Dosa Besar Membicarakan Aib Orang

24 Mei 2018

Ceramah Ke-17: Menghadiri Majelis Ilmu Dinaungi Sayap Malaikat

13 Juni 2017

Ceramah 8: Dermawan, Salah Satu Tanda Umrah Mabrur

23 Mei 2018
Don't Miss
Bisnis
Bisnis

IHKA Perkuat Peran Profesi Housekeeping Lewat Program Sosial dan Kompetisi

26 Januari 2026 Bisnis

CENTRALNEWS.ID, BATAM – Indonesian Housekeepers Association (IHKA) Kepulauan Riau menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat peran organisasi dengan…

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X

Raker Pengurus KERABAT–BARKAD Batam Jadi Arah Baru Program Kerja 2025–2030

25 Januari 2026

RSBP Batam Pelajari Pengelolaan Layanan Hiperbarik

24 Januari 2026

Warga Batam Geger, Jasad Bayi Tanpa Balutan Ditemukan di Pantai

23 Januari 2026
Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo
About Us
About Us

Your source for the lifestyle news. This demo is crafted specifically to exhibit the use of the theme as a lifestyle site. Visit our main page for more demos.

We're accepting new partnerships right now.

Email Us: centralbatam01@gmail.com
Contact: +1-320-0123-451

Facebook X (Twitter) Pinterest YouTube WhatsApp
Our Picks

IHKA Perkuat Peran Profesi Housekeeping Lewat Program Sosial dan Kompetisi

26 Januari 2026

Raker Pengurus KERABAT–BARKAD Batam Jadi Arah Baru Program Kerja 2025–2030

25 Januari 2026

RSBP Batam Pelajari Pengelolaan Layanan Hiperbarik

24 Januari 2026
Most Popular

Tilang Manual Kembali Diberlakukan di Kepri, Berikut Sasaran Pelanggar Lalulintas

9 Mei 2023

Ceramah 9: Dosa Besar Membicarakan Aib Orang

24 Mei 2018

Ceramah Ke-17: Menghadiri Majelis Ilmu Dinaungi Sayap Malaikat

13 Juni 2017
© 2026 CentralBatam.co.id
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • UU Pers
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Contact Us
  • About

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.